Tampilkan postingan dengan label potret 'cerah' siswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label potret 'cerah' siswa. Tampilkan semua postingan

14 Oktober 2008

Melestarikan Songket Mulai dari Siswa SD

YURNALDI

Ketika anak-anak perempuan usia SD dan SMP di daerah lain masih asyik bermain kucing-kucingan atau merengek minta jajan ke orangtuanya, tak demikian dengan anak-anak di Desa Limbangjaya, Tanjungpinang, Tanjunglaut, dan Desa Tanjungdayang, Kabupaten Ogan Ilir, sekitar 55 kilometer selatan Kota Palembang.

Petang itu ada pemandangan yang tak biasa, tapi boleh dikata luar biasa. Banyak anak perempuan dengan telepon seluler digantung di leher tengah tekun memerhatikan kakak dan orangtuanya menenun, membuat kain songket Palembang. Ada juga, satu-dua anak yang terlihat membuat songket di bawah rumah panggung mereka.

Sembari duduk berselonjor, dengan lincah anak-anak itu memasangkan belasan lidi-lidi, memasukkan benang emas, menggerakkan kaki, dan kemudian kedua tangannya menarik bagian untuk merapatkan benang-benang itu.

Agar benang tetap tegang, ada kayu tumpuan yang terpasang di bagian pantat. Kayu tumpuan di pantat itu ditempeli bantal agar terasa nyaman.

"Sederhana alatnya, terlihat rumit nyukit-nya (motif songketnya), tapi pacak (bisa) tercipta kain tenunan songket Palembang," kata Yeni Yunita, pelajar kelas I SMP, dengan bangga, Sabtu pekan lalu.

Yunita mengaku sudah bisa membuat songket sejak kelas V sekolah dasar. Sepulang sekolah atau hari libur, ia gunakan untuk membuat songket. Yunita hanya menerima upah dari membuat songket itu. "Seminggu bisa selesai satu songket lengkap dengan selendangnya. Upah yang didapat Rp 160.000, dengan rincian upah sarung Rp 100.000 dan selendang Rp 60.000," ujarnya.

Dengan keterampilannya sebagai penenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) itu, dalam sebulan Yeni Yunita sudah punya penghasilan sendiri sebesar Rp 640.000. Uang itu, menurut dia, sebagian ditabung dan sebagian digunakan untuk keperluan sekolah serta membeli pulsa telepon seluler.

Tidak banyak yang tahu, bagaimana warisan budaya songket Palembang bisa tumbuh berkembang dan dikenal luas seperti sekarang. Secara geografis, Palembang mungkin bagian kecil saja dari peta produsen songket. Sebab, ternyata, daerah yang banyak memproduksi songket di Sumatera Selatan adalah Kecamatan Tanjungbatu, Kabupaten Ogan Ilir.

Pantauan Kompas di empat desa yang bertetangga itu, hampir setiap keluarga, khususnya perempuan, pekerjaan sehari-harinya adalah menenun. Adapun kaum lelaki umumnya bekerja sebagai pandai besi. Keterampilan menenun dengan ATBM itu merupakan warisan turun-temurun, yang entah sejak tahun kapan awalnya.

"Sekarang, setiap keluarga dengan anak-anaknya bisa menenun. Semua berjalan alami," kata Cik Ima (43), warga Desa Limbangjaya.

Cik Ima sendiri punya anak yang sejak usia kelas IV SD sudah bisa menenun. Begitu juga Dauda (37), anak gadi snya Ika, kini kelas III SMA, juga terampil menenun sejak SD. Sampai sekarang Ika di sela-sela waktu luangnya masih menenun.

"Tidak ada paksaan orangtua. Hanya karena keinginan sendiri. Awalnya melihat-lihat, lalu coba-coba, dan akhirnya bisa," kata Ika.

Tidak di daerah lain

Keterampilan membuat songket yang merata di kalangan penduduk nyaris tidak terdapat di daerah lain. Di Sumatera Barat, misalnya, regenerasi penenun kain songket tidak ada sampai sekarang. Anak-anak dan generasi mudanya tak lagi tertarik meneruskan keterampilan menenun, membuat kain songket. "Akibatnya, kini di sentra-sentra produksi songket terjadi krisis penenun," kata Nina Rianti Alda, pemilik Rumah Songket di Bukittinggi.

Nina yang khusus merevitalisasi songket lama Minangkabau juga kehilangan penenun andalnya yang telah ia bina sejak awal sehingga rencana pameran di Bentara Budaya Jakarta tahun 2008 ini ditunda tahun 2009.

Laris

Selama bulan Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri, para penenun di Desa Limbangjaya, Tanjungpinang, Tanjunglaut, dan Tanjung Dayang di Kecamatan Tanjung Batu kebanjiran pesanan songket Palembang.

Harga songket bergantung pada jenis benang dan halus-kasarnya motif. "Kalau benang emasnya jenis kristal dengan motif yang halus dan bahan dari sutra, harga jualnya bisa lebih dari Rp 1 juta," kata Cik Ima.

Seorang pedagang pengumpul yang memiliki sejumlah perajin songket di Desa Tanjungpinang, Hajjah Laila (51), mengaku, pasar kain songket Palembang produksi Kecamatan Tanjungbatu laris manis. Hampir tak ada barang yang bersisa di rumahnya.

Ia pun sejak puluhan tahun lalu telah menciptakan puluhan motif songket Palembang, yaitu motif pulir, puncak rebung, Nago Besawung, dan banyak motif lainnya.

Sembari menunjukkan sejumlah buku tua dan lusuh berisikan desain motif ciptaannya, Laila yang tak tamat SD ini tak terlalu mempersoalkan desain kain songketnya ditiru atau diambil orang lain. "Motif-motif kain songket yang saya desain sejak puluhan tahun lalu tidak pernah saya patenkan. Kalau ada yang meniru tak masalah, masyarakat tahu dan dengan beberapa buku berisi desain ini, cukup jadi bukti desain sejumlah motif songket Palembang saya yang menciptakan," ungkapnya.

Sebagai ahli membuat motif atau nyukit, Hajjah Laila menarik upah Rp 350.000 untuk satu motif songket. Penenun tinggal menenun, sedangkan benang dengan motif yang diinginkan sudah terpasang.

Hanya ada lima pembuat motif songket di Kecamatan Tanjungbatu tersebut, Hajjah Laila yang tertua. Artinya, regenerasi untuk membuat motif ini juga berjalan alami. Karena rumit, tidak banyak orang yang tertarik mendalami desain songket Palembang. "Karena untuk ini dituntut jiwa seni dan kreativitas yang tinggi," kata Laila.

Camat Tanjungbatu Ansori tak tahu pasti berapa jumlah warga yang menjadi penenun songket di empat desa wilayahnya. Namun, ia mengatakan bahwa sekitar 90 persen kaum perempuan di empat desa sentra songket itu menekuni pekerjaan sebagai penenun.

Tak ada galeri

Sebagai sentra produksi songket Palembang, Kecamatan Tanjungbatu belum punya toko atau galeri songket. Ini mungkin disebabkan hampir tak ada barang produksi yang bersisa.

Menurut Hendra Marta, tokoh pemuda Tanjungbatu, kalau Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir peduli, desa-desa sentra produksi songket Palembang itu bisa dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata yang menarik. Tanjungbatu akan lebih dikenal secara nasional sebagai sentra produksi songket Palembang.

"Wisatawan selain bisa melihat langsung proses membuat songket tersebut, juga bisa langsung membelinya di galeri atau di toko yang khusus menjual hasil produksi. Dengan melihat langsung prosesnya, kekaguman akan muncul sehingga wisatawan bisa memberikan penghargaan yang layak untuk songket yang dibelinya," ungkapnya.

Akibat tak ada galeri, yang menikmati untung besar adalah pemilik galeri di Kota Palembang dan kota-kota lainnya yang menjual songket.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/14/01005450/melestarikan.songket.mulai.dari.siswa.sd

06 September 2008

Tak Lagi Berenang Menuju Sekolah

Kompas/Elok Dyah Messwati / Kompas Images
Anak-anak di Dusun Laihiding, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, kini tak perlu berenang lagi untuk mencapai sekolahnya di SD Bidi Praing Desa Kiritana. Kini mereka mendayung sampan yang merupakan bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi.

Elok Dyah Messwati

Hari masih pagi. Matahari mulai menyinari punggung Gunung Waturumbing yang gundul. Air Sungai Kambaniru memantulkan bayangan punggung gunung itu. Di seberang sungai beberapa siswa SD dari Dusun Laihiding keluar dari jalan setapak menuju tepi sungai.

Dari sana mereka kemudian menaiki sampan, menyeberangi sungai. Seorang anak yang duduk di belakang mengayuh dayung menyeberangi sungai selebar kira-kira 10 meter.

Setelah sampan tiba beberapa siswa turun. Seorang di antaranya tetap di atas sampan, ia mengayuh dayung kembali ke seberang sungai menjemput teman-temannya yang lain. Mereka naik perahu secara bergantian.

Begitu terus beberapa kali. Mereka bergantian menaiki sampan menuju sekolah mereka di Sekolah Dasar Negeri Bidi Praing, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Mendayung perahu itu menjadi kegiatan rutin karena sekolah mereka berada di seberang sungai. Sekolah itu berada di pusat Desa Kiritana, sebuah desa yang wilayahnya terdiri atas tiga dusun: Laihiding, Kuhiwatu, dan Hanggaroru.

Dusun Laihiding adalah dusun yang terisolasi. Tak ada listrik, tidak ada motor, dan hanya ada jalan setapak berpasir untuk mencapainya. Rumah penduduknya terpencar-pencar, di lereng gunung yang berbeda.

Murid-murid SDN Bidi Praing berjumlah 163 orang, 68 di antara mereka adalah anak-anak dari Dusun Laihiding.

Terpaksa berenang

Dulu, sebelum Desa Kiritana memiliki empat sampan dari dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi yang didukung oleh Bank Dunia, anak-anak Dusun Laihiding terpaksa berenang dua kali menyeberangi Sungai Kambaniru yang berkelok memotong dusun mereka.

Dari rumah mereka, dengan bertelanjang kaki mereka menyusuri jalan setapak berpasir, melintasi kebun jagung, ubi, labu, cabai, kacang panjang, hingga kebun terung. Jalanan berbukit pun harus mereka daki.

Jika memotong garis lurus, jarak dusun mereka ke pusat desa sekitar 1 kilometer, tetapi karena jalanan mendaki dan berkelok, perjalanan pun kian panjang, hingga 3 kilometer. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai sekolah.

Jika musim kering, air sungai surut. Lebar sungai hanya 30-40 meter dengan tinggi air sepaha orang dewasa. Anak-anak kelas III-VI SD melepas pakaian mereka, menyunggi bukunya di atas kepala dan kemudian berenang menyeberangi sungai. Anak-anak kelas I-II SD dipanggul orangtuanya menyeberangi sungai.

"Tapi, kalau musim hujan November-Maret, air sungai meluap hingga ke atas tanggul jalan, menutup akar pohon di tepi sungai, dan sungai pun makin lebar hingga 200 meter. Kalau sungai banjir, anak-anak Dusun Laihiding tak masuk sekolah," kata Koordinator Tim Pengelola Kegiatan Desa Kiritana Martinus T Ndjama.

Dengan segala keterbatasan itu, Sandiyanto (10) dan Aris Domuwulang (9), yang merupakan murid-murid SD Bidi Praing, tetap menyimpan harapan masa depan.

Sangat berguna

Keberadaan empat sampan PNPM Generasi tersebut, menurut fasilitator Kecamatan Pandawai Esmy Langaih dan Stefanus Mbulu, sangat berguna. Sampan kayu tersebut dipesan dari warga Desa Kiritana seharga Rp 750.000 per sampan. Sampan itu mulai dioperasikan Februari 2008 dan ditempatkan di empat titik penyeberangan di Sungai Kambaniru.

Sejak itulah siswa-siswa SD dari Dusun Laihiding tak lagi harus dua kali berenang melintasi sungai menuju sekolah. Tidak hanya anak-anak Dusun Laihiding yang merasakan manfaat sampan tersebut, bidan Desa Kiritana, Voni Yo Mbali (32), pun merasa terbantu dalam menjalankan tugasnya.

Dulu bidan Voni tak bisa mendatangi Dusun Laihiding karena terkendala Sungai Kambaniru. Ia pernah nekat menaiki sampan kecil pada Maret 2007 saat akan menolong seorang ibu yang akan melahirkan di Dusun Laihiding, tetapi sampan yang dinaikinya terbalik.

Kini anak-anak Dusun Laihiding bisa bernapas lega. Sampan untuk menyeberang sungai sudah ada, tetapi tantangan lain masih di depan mata, yakni panasnya pasir kala mereka pulang sekolah. Ketika Kompas mengantar bidan Voni menuju Dusun Laihiding untuk memeriksa ibu yang baru melahirkan, pasir yang panas menyusup ke jari dan telapak kaki.

Pasir di jalan setapak itu menjadi panas saat matahari terik di atas kepala. Itu adalah saat anak-anak pulang sekolah. Anak-anak yang tak bersepatu itu jelas merasakan panas pasir di telapak kaki mereka. Namun, mereka terus bertahan, terus melangkah, terus mendayung sampan, menggapai harapan....

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/06/00024747/tak.lagi.berenang.menuju.sekolah

09 Juni 2008

Arah Baru Pendidikan

Ester Lince Napitupulu

Pendidikan yang mampu melayani semua anak dalam keragaman dan perbedaan, dengan fokus untuk mengoptimalkan potensi anak secara penuh, kini menjadi kecenderungan reformasi pendidikan yang tengah dikembangkan banyak negara. Inilah pendidikan inklusi yang diharapkan menciptakan proses pendidikan yang ramah anak.

Pendidikan inklusi menjadi jembatan untuk mewujudkan pendidikan untuk semua atau education for all, tanpa ada seorang pun yang tertinggal dari layanan sistem pendidikan. Pendidikan inklusi ini diyakini membuat sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik. Ke depan, pendidikan inklusi juga bisa menghancurkan eksklusivitas sosial dalam masyarakat.

Sheldon Shaeffer dari Biro Pendidikan Regional Asia Pasifik UNESCO, dalam Konferensi Persiapan Regional Asia Pasifik mengenai Pendidikan Inklusi di Denpasar, Bali, akhir Mei lalu, menjelaskan, pendidikan inklusi merupakan sebuah proses menuju dan merespons keragaman kebutuhan peserta didik melalui peningkatan partisipasi dalam belajar, budaya, dan masyarakat, serta mengurangi ketertinggalan dalam dan dari pendidikan.

Semangat pendidikan inklusi memandang perbedaan di antara para siswa sebagai sebuah tantangan yang memberikan keuntungan, bukan hambatan dalam pembelajaran di sekolah. Pendidikan yang demikian mampu terlaksana jika kita mengakui bahwa semua anak berhak mendapat pendidikan berkualitas.

"Pendidikan inklusi, khususnya di Asia, tidak hanya bagaimana mengintegrasikan sekelompok anak dalam suatu pendidikan khusus. Perlu difokuskan bagaimana mengembangkan strategi menghilangkan hambatan-hambatan dalam belajar dan sebaliknya semua anak bisa berpartisipasi. Hanya dengan cara ini, kita dapat mencapai pendidikan berkualitas bagi semua," kata Sheldon.

Karena itu, perlu diciptakan sekolah ramah anak supaya mereka sadar akan hak-hak mereka untuk mendapatkan pendidikan berkualitas baik. Sheldon menyebutkan sekolah ramah anak adalah sekolah yang mencari anak. Artinya, sekolah itu harus mau mengidentifikasi anak-anak yang tidak terjangkau dan membantu mereka untuk mendapatkan hak pendidikan.

Sekolah juga harus berpusat pada anak, yaitu mengembangkan potensi anak secara penuh meliputi semua perkembangan anak, yakni kesehatan, status gizi, dan kesejahteraan, serta peduli terhadap apa yang terjadi pada anak sebelum masuk sekolah dan setelah lulus.

"Yang penting dari semua adalah sekolah harus memiliki kualitas lingkungan belajar yang baik, yakni yang responsif jender, mendorong partisipasi anak-anak, keluarga, dan masyarakat," kata Sheldon.

Namun, pada kenyataannya masih banyak anak-anak yang tertinggal dari layanan pendidikan. Mereka adalah anak-anak penyandang ketunaan atau berkebutuhan khusus, anak-anak jalanan dan pekerja anak, anak-anak yang berada di lingkungan yang sulit seperti konflik bersenjata dan bencana alam, anak-anak yatim piatu dan yang dibuang, anak-anak dari keluarga sangat miskin, anak-anak yang terinfeksi HIV/AIDS, serta anak-anak migran/pengungsi.

Di dunia ada 72,13 juta anak usia sekolah dasar yang tidak bersekolah—27 juta di antaranya ada di kawasan Asia Pasifik. Sebanyak 56,8 persen adalah perempuan.

Perhatian dunia

Renato Opertti dari Biro Pendidikan Internasional UNESCO mengatakan, pendidikan inklusi telah tumbuh menjadi perhatian dunia yang menantang proses reformasi pendidikan di negara maju dan berkembang. Sasarannya adalah memberikan layanan pendidikan berkualitas yang didefinisikan kembali sebagai proses belajar dengan memperhitungkan kemampuan belajar anak yang berbeda, mengurangi eksklusivitas, dan tidak mengajarkan pengetahuan akademik yang tinggi semata.

Untuk dapat melaksanakan pendidikan inklusi ini dibutuhkan sistem pendidikan dan peran guru yang mengarah pada paradigma baru pendidikan, yaitu mampu memanusiakan anak-anak didik. Untuk komitmen ini butuh pengajaran kuat pada guru sejak pendidikan di perguruan tinggi hingga pendidikan selama menjadi guru.

Pengajaran guru seharusnya didasarkan pada paradigma untuk bisa memahami siswa dalam keberbedaannya. Dengan kurikulum yang fleksibel, guru akan mudah mengerti mengenai perbedaan anak-anak yang memiliki kapasitas khas.

Pendidikan guru dibawa untuk mengubah label-label yang mempertahankan hierarki kemampuan yang sering kali menutup potensi siswa. Yang ditekankan justru potensi belajar terbuka bagi setiap siswa dan distimulasi.

>kern 401m<>h 9737m,0<>w 9737m< Pendidikan inklusi itu juga merespons kebutuhan budaya dan kelompok sosial beragam. Ini tantangan tidak mudah, tetapi pendidikan sedang menuju kepada pembiasaan untuk menerima keragaman mulai dari sekolah.>kern 251m<>h 9738m,0<>w 9738m<

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, kebijakan pendidikan Indonesia mengharuskan tidak boleh ada anak tertinggal layanan pendidikan, dan pendidikan dilakukan secara holistik. Tantangan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar, heterogen, dan wilayah yang sangat luas.

Upaya menjangkau semua warga untuk menikmati pendidikan terus dilakukan dan ditingkatkan. Anak-anak berkebutuhan khusus seperti penyandang berbagai ketunaan dan anak cerdas istimewa mendapat pendidikan khusus dengan sekolah atau kelas khusus atau kelas akselerasi.

Untuk anak-anak jalanan, di daerah terisolasi, miskin, pengungsi, atau di daerah konflik dan bencana alam, diberikan pendidikan layanan khusus.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/09/01145917/arah.baru.pendidikan

03 Juni 2008

Ditargetkan 1,5 Juta Siswa Masuk SMK - Dibangun 4.000 Ruang Kelas Baru Selama 2008

Pemerintah pada tahun ajaran baru ini menargetkan 1,5 juta siswa bisa masuk ke sekolah menengah kejuruan. Tahun lalu jumlah siswa sekolah menengah pertama yang masuk SMK sekitar 1,2 juta jiwa. Dengan demikian, ditargetkan jumlah siswa yang masuk SMK meningkat sekitar 300.000 siswa.

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Joko Sutrisno, Senin (2/6), mengatakan, pemerintah menargetkan pada tahun 2010 komposisi siswa SMK dengan SMA 50: 50. Adapun tahun 2015 komposisinya 70:30.

Guna mempersiapkan daya tampung bagi penambahan siswa SMK itu, tahun ini akan dibangun 4.000 ruang kelas baru, baik di sekolah negeri maupun swasta. Terdapat pula sejumlah SMA swasta yang beralih menjadi SMK, sedangkan lima SMA negeri berubah menjadi SMK negeri.

Joko mengatakan, biaya membangun satu unit SMK terbilang mahal, yakni Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar, tergantung program keahliannya. Program manajemen, misalnya, lebih murah ketimbang teknik mesin yang membutuhkan alat-alat khusus.

Tenaga pengajar dipersiapkan dengan melibatkan guru mata pelajaran umum di SMA dan mahasiswa untuk mengajar di SMK. "Yang masih kurang adalah tenaga pengajar khusus kejuruan. Kami masih mengusahakan," ujarnya.

Tenaga terampil

Pemerintah mendorong jumlah siswa baru SMK meningkat agar jumlah angkatan kerja terampil dan terlatih membesar. Sebagai gambaran, angka partisipasi kasar di perguruan tinggi sekitar 17 persen. Lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi tidak lebih dari 30 persen. Sisanya sekitar 70 persen masuk ke pasar kerja dengan keterampilan minim.

Adapun dari lulusan SMK yang jumlahnya 750.000 orang per tahun, sekitar 15 persen melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Selebihnya, 85 persen atau 610.000 orang masuk ke pasar kerja. "Separuh dari jumlah itu merupakan tenaga kerja siap pakai atau berketerampilan sehingga lebih mudah terserap ke pasar kerja," kata Joko.

Harus komprehensif

Pengamat pendidikan, Mohammad Abduhzen, yang juga Sekretaris Institute for Education Reform, mengungkapkan, dunia pendidikan tidak terlepas dari industri, termasuk SMK. Di samping peran utama pendidikan, yakni mengembangkan potensi individu, pendidikan harus pula menjawab kebutuhan eksistensial, seperti kebutuhan ekonomi dan strategi kebudayaan bangsa.

Pendidikan juga alat orang meningkatkan kesejahteraan hidupnya dan mobilitas sosial. Untuk itu, yang diperlukan ialah tenaga kerja terdidik.

"Kalau hendak memperluas SMK, pemerintah harus memfasilitasi mereka dengan bidang dan lapangan kerja yang dapat mereka masuki," ujarnya.

Pemerintah perlu membuat kebijakan yang komprehensif dan tersinergi antardepartemen terkait masalah pendidikan, ketenagakerjaan, dan lapangan pekerjaan," ujarnya.

Lomba kompetensi

Sementara itu, untuk mendorong peningkatan kualitas siswa SMK, akan diadakan Lomba Kompetensi Siswa SMK Tingkat Nasional pada 23-28 Juni 2008. Terdapat 45 bidang keahlian yang dikompetisikan.

Acara yang dapat diikuti siswa-siswi terbaik SMK di seluruh Indonesia tersebut sekaligus menjadi ajang mempromosikan SMK.

"Kami akan mengundang para pengusaha dan dunia industri untuk melihat potensi siswa-siswa SMK," ujar Joko. Para siswa terbaik nantinya akan mengikuti kompetisi di Kuala Lumpur, Malaysia, pada November 2008 dan kompetisi internasional di Calgari, Kanada, pada tahun 2009.

Di samping itu, kemampuan dan kualitas siswa SMK untuk membuat dan merakit alat juga dikembangkan. Harapannya, alat itu nantinya bisa dijual. (INE)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/03/00532368/ditargetkan.15.juta.siswa.masuk.smk

02 Juni 2008

Mardhan-Hartati, Merintis SLB di Kendari

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Keprihatinan pada nasib anak-anak berkebutuhan khusus yang tak mendapat layanan pendidikan, mendorong Mardhan mendalami pendidikan luar biasa. Dengan menyisihkan gaji dirinya dan istri sebagai pendidik, pasangan Mardhan-Hartati menjalankan satu-satunya sekolah luar biasa atau SLB di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, sejak 1990.

Pasangan ini memperjuangkan nasib anak-anak berkebutuhan khusus di Kendari agar mendapatkan layanan pendidikan yang baik. Maka, puluhan anak yang semula disembunyikan keluarga perlahan dikirim belajar ke SLB Mandara, yang awalnya berada dalam Kampus Universitas Haluoleo, Kendari.

Upaya pasangan yang bertemu saat Mardhan kuliah di Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, ini seakan sempurna dengan didirikannya SLB Mandara kedua di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Bangunan sekolah yang didanai pemerintah itu berdiri di atas tanah yang dicicil dari gaji mereka selama 13 tahun.

"Yang memberi nama Mandara itu teman saya. Mandara dalam bahasa setempat artinya terampil. SLB ini bertujuan memberi keterampilan buat anak-anak yang belajar di sini sehingga mereka tak lagi jadi beban siapa pun," ujar Mardhan, dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo.

Mardhan dan Hartati yang menikah tahun 1973 tak hanya mendirikan layanan SLB Mandara. Mereka juga membiayai pendidikan dan hidup beberapa anak dari keluarga tak mampu. Rumah mereka terbuka bagi anak-anak dari keluarga miskin yang ingin mandiri.

Mardhan dan istrinya bangga saat Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengunjungi SLB Mandara akhir April 2008. Perjuangan mereka untuk memberikan layanan pendidikan terbaik buat anak-anak di daerah ini dihargai pemerintah dengan pemberian biaya membangun gedung sekolah dan berbagai fasilitas keterampilan hingga bantuan operasional sekolah. Maka, para siswa bisa belajar secara gratis sejak 2004.

"Panggilan hidup saya ada di sini. Saya yakin anak-anak cacat itu punya potensi yang harus dikembangkan. Saya bilang kepada yang tunanetra, buta itu mata mereka, tetapi hati mereka tidak buta. Saya yakin anak-anak ini pasti bisa mandiri jika diberi pendidikan yang baik seperti anak-anak lain," katanya.

Awalnya, Mardhan yang guru SD di Kendari itu tak berpikir untuk berhubungan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Saat pemerintah mewajibkan guru SD menjalani pendidikan diploma-2, Mardhan tertarik dengan tawaran PLB di UNS Solo. "Syaratnya mudah, pokoknya sudah kerja jadi guru. Saya pilih PLB karena jarang yang mau ambil kuliah ini," ujarnya.

Diuji

Mendalami pendidikan guru untuk anak-anak luar biasa menjadi pengalaman yang mengubah orientasi hidup Mardhan selanjutnya. Mardhan, yang diminta menjadi dosen di Universitas Haluoleo, dan Hartati jadi guru di SD di lingkungan kampus suaminya berusaha keras menyisihkan gaji mereka untuk mewujudkan mimpi mendirikan SLB di Kendari.

Komitmen Mardhan kepada anak-anak yang tersisihkan dari layanan pendidikan pemerintah itu tak semulus yang dia bayangkan. Ketika hendak mengurus perizinan mendirikan Yayasan Mandara tahun 1990, niatnya itu sempat teruji. Untuk mendirikan yayasan harus ada uang di bank minimal Rp 5 juta sebagai modal dasar, sedangkan tabungannya hanya Rp 1 juta. Selain itu, harus ada jaminan guru yang mengajar bertahan 10 tahun di sekolah ini.

Saat mereka mencari dukungan dari para kenalan, lagi-lagi niat ini sempat diragukan. Bahkan, Mardhan disarankan mendirikan sekolah umum yang keuntungan finansialnya jelas.

"Tapi, saya tetap teguh karena yakin ini panggilan hati nurani. Syukur, niat saya itu dipahami dan diberi kemudahan," ujarnya.

Ia lalu mencari anak-anak cacat untuk disekolahkan secara gratis. Namun, tawaran itu belum tentu disambut baik oleh keluarga dengan anak cacat. Pada tiga tahun pertama hanya tiga anak penyandang tunanetra yang mau bersekolah dan tinggal bersamanya. Semua anggota keluarga Mardhan dilibatkan untuk mengajari para penyandang tunanetra ini.

Masyarakat sadar

Tiga siswa pertamanya itu kemudian bisa mandiri. Labai (30), yang hanya menyelesaikan SDLB Mandara, mampu mencari uang dari keahlian memijat yang dipelajarinya saat dibiayai Mardhan ikut kursus pijat di Yayasan Wyata Guna Bandung. Sukirman (27), penyandang tunanetra, bisa menyelesaikan pendidikan di madrasah aliyah di Manado. Ia pun mandiri dari hasil memijat. Adapun Tulus Hidayat (25), penyandang tunanetra, membentuk perkumpulan musik karena bakatnya menyanyi dan bermain gitar.

Ada pula anak penyandang tunanetra yang bisa menyelesaikan kuliah, lalu menjadi guru bimbingan dan konseling di SMP Negeri 1 Kendari sekaligus guru Pendidikan Kewarganegaraan di SD Universitas Haluoleo. Kemandirian anak berkebutuhan khusus yang menimba ilmu di SLB Mandara membuat mata masyarakat terbuka.

Pemerintah daerah pun menyadari kenyataan ini dan memberi kesempatan anak cacat dari SLB Mandara mewakili daerah tampil di kejuaraan daerah dan nasional bagi anak berkebutuhan khusus. Para siswa SLB Mandara mampu membuktikan bahwa mereka punya potensi. Ada yang menang dalam lomba mengarang, menggambar, lari, dan merawat diri pada tingkat nasional.

"Saya ikutkan anak-anak jika ada lomba, untuk menambah rasa percaya diri dan membuka wawasan mereka. Ketika mereka menyadari ada penyandang cacat yang bisa jadi profesor, anak-anak jadi berani bercita-cita setinggi mungkin," katanya.

Awalnya, pembelajaran siswa SLB Mandara berlangsung di kelas kosong di SD Universitas Haluoleo. Seorang guru lulusan PLB yang tinggal di rumah Mardhan mengajar anak-anak ini. Hartati yang menjadi kepala sekolah sesekali ikut membantu.

Mulai tahun ketiga SLB Mandara berjalan, keluarga yang punya anak cacat terpancing mengirim anak mereka ke sekolah. Beruntung, saat murid bertambah, guru-guru SD mau membantu, dari mengajar hingga membantu anak penyandang tunagrahita yang tak bisa mengurus diri.

"Anak-anak ini belum banyak yang menyentuh. Saya sering mengistilahkan, jangankan dipandang dua mata, sebelah mata pun enggak dipandang. Tapi, kami jalan terus, sampai ada dukungan pemerintah. Nanti jika pensiun, saya dan Bapak bisa lebih konsentrasi mengurusi SLB Mandara yang sudah punya siswa SMPLB," kata Hartati.

Kedua SLB Mandara di Kendari semakin hidup dengan semangat anak-anak yang bertekad belajar mandiri serta kesadaran orangtua yang tak lagi menganggap anak cacat sebagai "aib" atau tak berguna. Para guru tak keberatan menjadi pengojek, menjemput dan mengantar anak agar bisa belajar setiap hari di sekolah.

Mardhan dan Hartati tersenyum melihat anak-anak ini optimistis menatap masa depan dengan bekal ilmu dan keterampilan yang mereka perjuangkan. http://cetak.kompas.com/sosok (Senin, 2 Juni 2008)

01 Juni 2008

Arti Kebebasan bagi Remaja

antara/widodoKebebasan juga menuntut tanggung jawab.

Oleh Rinny Soegiyoharto

Mencermati perilaku remaja yang akhir-akhir ini ramai diekspos berbagai media, arahnya berujung pada kebebasan. Bebas berpikir, bersikap, merasa, berkehendak, melakukan berbagai hal, termasuk bebas bergaul.

Seorang remaja puteri belia berusia 16 tahun, misalnya, yang kabur dari rumah karena ditentang oleh orangtua berpacaran dengan kekasihnya yang 18 tahun lebih tua. Sebuah bukti bahwa kebebasan menjadi acuan utamanya, yakni bebas berpacaran tanpa tentangan.

Bebas yang diartikan sebagai tanpa penghalang, tanpa hambatan, jauh dari konflik, dan sebagainya. Namun, acuan norma dan nilai-nilai sebagai wujud pertanggungjawaban seseorang terhadap kebebasan yang dimilikinya, belum terlihat nyata. Ataukah mungkin memang tidak dibutuhkan lagi?

Beberapa kasus yang ceritanya saya peroleh dari seorang kolega, cukup mencengangkan, meski tidak terlalu mengejutkan sebenarnya. Remaja putera dan puteri usia sekitar 13 hingga 15 tahun melakukan adegan sangat mesra di area sekolah tanpa rasa sungkan atau malu disaksikan kawan- kawannya.

Ada pula remaja putera yang membawa kabur remaja puteri dari rumahnya dan dari sekolah demi menikmati rasa bebas yang dimaknai sebagai bebas melakukan hubungan seks. Makna lain kebebasan yang tak kalah sepi dari berita yakni fenomena jual keperawanan yang dipraktikkan remaja puteri di wilayah tertentu, dengan berbagai alasan dan tujuan.

Intinya, tetap pada kebebasan memilih sikap dan perilaku, bebas mendapatkan apa yang diinginkan. Kebebasan mutlak yang tidak membutuhkan persetujuan dari pihak mana pun, termasuk dari orangtua sendiri. Kebebasan yang diinginkan remaja.

Mengapa Ingin Bebas?

Penelitian-penelitian di wilayah Psikologi Perkembangan melahirkan beberapa kesimpulan mengenai karakter remaja. Sebagai salah satu fase dalam perkembangan manusia, remaja disebut-sebut merupakan fase yang paling bergejolak.

Tidak hanya secara fisik, gejolak yang paling sering tampil adalah gejolak perilaku, yang didorong oleh pikiran, emosi dan jiwanya. Ditinjau dari segi usia dan kematangan, remaja bukan lagi anak-anak, tapi ia juga belum mencapai dewasa. Keadaan atau statusnya saat ini adalah interim, bersifat sementara karena memang hanya dialami setiap orang pada kurun usia belasan tahun.

Saat itu terjadi fluktuasi emosi dan percepatan perkembangan secara fisik. Banyak kejutan-kejutan dialami dalam fase remaja. Tubuh yang memuai, bertambah tinggi atau lebih berisi, mulai berlekuk pada tempat-tempat tertentu; berfungsinya organ seksual sekunder seperti tumbuh bulu, kumis, payudara dan sebagainya, mengalami menstruasi dan mimpi erotik; juga perubahan ambitus suara.

Gejolak emosi dan jiwa remaja menimbulkan hasrat pemenuhan secara impulsif. Saringannya belum kuat, sedang dibentuk dan harus dibantu dalam pembentukannya. Siapa lagi yang dapat membantu kalau bukan orangtua dan orang dewasa lain di seputar kehidupan remaja.

Karena konformitas terhadap teman, remaja menjadi tergantung pada saran dan pendapat teman, juga trend yang dilakukan teman sebaya. Arti teman menjadi lebih penting daripada orangtua.

Karena imaginary audience, remaja merasa dirinya yang paling penting daripada yang lain. Karena personal fabel disertai tindakan mencoba-coba, remaja merasa dirinya kuat dan tak akan terjerumus ke hal-hal negatif.

Karena ingin diperhatikan dan diakui oleh teman dan orang lain, remaja berani mengambil langkah memanipulasi kebebasan tanpa disadarinya. Remaja hampir memiliki segalanya yang ada pada manusia dewasa, tapi belum memiliki saringan kuat yang bernama tanggung jawab.

Apabila seseorang sudah memiliki pikiran-pikiran dan hubungan antarpribadi yang kompleks, perasaan serta kebutuhan sensasi dan seksual, visualisasi dan mudah mengakses fasilitas hidup untuk mengakomodasi kebutuhannya, apakah yang mendorongnya untuk memiliki semua itu secara penuh? Tentu saja kebebasan.

Membuat Saringan

Orangtua adalah hambatan, jika kebebasan yang remaja inginkan tidak terpenuhi disebabkan larangan orangtua. Lebih-lebih apabila pola pengasuhan yang terjadi di dalam keluarga didominasi oleh over protecting dan over demanding.

Tanpa sadar seringkali orangtua terlalu melindungi dan menuntut anaknya. Mengakibatkan perasaan anak terabaikan. Remaja membutuhkan konselor tempat ia dapat berkonsultasi mengenai berbagai warna kehidupan, termasuk mencurahkan isi hati.

Namun, yang terjadi orangtua lebih suka didengarkan perintahnya, alih-alih demi kebaikan anak, kendati pada dasarnya karena orangtua tidak suka didebat, tidak siap menjadi pendengar, cenderung "menerima" anak sesuai keinginannya. Saat anak mengatakan "sedang jatuh cinta", orangtua lebih senang menjawab "kamu masih kecil". Ingat, remaja sudah memiliki hampir segala hal yang dimiliki orang dewasa.

Remaja yang hanya menuntut kebebasan tanpa memikirkan ia harus mempertanggungjawabkan kebebasannya itu, artinya ia tidak cerdas. Ia belum mengerti makna kebebasan yang sesungguhnya. Bukti-bukti perilaku manusia bertanggungjawab antara lain, mematuhi kesepakatan sosial mengenai nilai-nilai insani, cerdas memahami hal-hal yang baik dan buruk, serta paham mengapa ada pemilahan itu, terampil memilih sikap dan perilaku hidup berorientasi pada masa depan untuk menjadi manusia yang sukses dan bernilai.

Cara paling efektif bagi orang dewasa untuk membantu pembentukan saringan pada remaja adalah keteladanan, keterbukaan, penerimaan, pola asuh dengan penuh cinta yang konsisten dan tanpa syarat, fokus pada kebutuhan remaja, kenali remaja dengan baik. Visualisasikan dan alirkan energi positif senantiasa, yakni pikiran-pikiran positif, dapat berupa kisah-kisah sukses dan sarat makna hidup.

Penuhi waktu-waktu remaja dengan kegiatan fisik, mental, sosial dan spiritual. Misalnya ilmu pengetahuan, olahraga, seni, budaya, kemasyarakatan, kepedulian dan empati pada sesama, peka terhadap inner-voice, mengenal dan mencintai alam, menaruh penghargaan tertinggi hanya kepada Sang Pencipta dengan sungguh-sungguh dan yakin.

Adakah waktu untuk memberikan keterampilan hidup seperti itu pada remaja? Pasti ada dan bisa. Penulis adalah Pengurus HIMPSI Jaya

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/01/index.html

30 Mei 2008

Pasar Notebook Mungil Kian Ramai

Beberapa hari menjelang pameran komputer terakbar dunia Computex, mulai terkuaklah tabir tentang para pesaing Asus Eee PC. Yang pertama adalah kehadiran notebook mungil dari Acer. Selain itu, juga ada kemunculan notebook mungil karya Dell.

Untuk Acer, notebook mungilnya akan bernama Aspire One. Notebook ini memamerkan layar LCD 8,9" dengan resolusi 1024x768, atau sedikit lebih tinggi dibandingkan saingannya yang telah hadir, Asus Eee PC 900.

Aspire One menggunakan sistem operasi Windows XP SP3. Notebook yang dikerjakan oleh Quanta ini - mitra ODM yang juga mengerjakan notebook dari HP, Dell, dan Apple -- dikabarkan berpenampilan lebih bagus dibandingkan Asus Eee PC. Namun sampai sekarang foto tentang Aspire One belum tersedia.

Sementara itu dari California, AS, Gizmodo melaporkan kehadiran notebook mungil Dell Mini Inspiron berwarna merah menyala. Sayangnya Michael Dell, boss Dell, yang secara tidak sengaja bertemu Gizmodo di ajang D6 itu tidak bersedia mengungkapkan sistem operasi, prosesor, maupun harga Mini Inspiron tersebut. Ia cuma menyebutkan bahwa notebook dengan harga murah itu ditargetkan untuk negara-negara berkembang.

Namun selentingan yang beredar mengatakan bahwa Mini Inspiron memiliki layar US$ 8,9", bersistem operasi Windows XP Home atau Ubuntu Linux, 8-in-1 card reader, Webcam, tombol direct media playback, dan pilihan akses nirkabel. Diperkirakan Mini Inspiron akan dibandrol pada harga sekitar US$ 500.

Ajang notebook mungil ini memang akan makin ramai. Pameran Computex yang akan berlangsung 3 – 7 Juni mendatang di Taipei, Taiwan pun pasti akan menjadi saksi hiruk-pikuk peluncuran berbagai merek notebook mungil. Wiwiek Juwono

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/30/10155043/pasar.notebook.mungil.kian.ramai

Yuk, Pakai Sistem Operasi Online

Berbekal notebook yang hanya ter-install sistem operasi plus browser serta dilengkapi modem internet, apakah Anda bisa mengerjakan seluruh pekerjaan kantor dengan mudah? Hmmm, bisa nggak ya?

Padahal, pekerjaan kantor itu biasanya meliputi aktivitas mengetik dokumen, mengerjakan spreadsheet, mengolah gambar, dan, biasanya sih, bekerja sambil mengerjakan musik. Apakah bisa semuanya dilakukan lewat sebuah Web browser?

Jawabnya: bisa saja. Kini banyak layanan Web operating system yang bisa membantu Anda mengerjakan seluruh aktivitas berkomputer. Nah, layanan inilah yang bisa Anda pakai sebagai pengganti atau alternatif dari sistem operasi utama di komputer Anda, utamanya jika sistem operasi tersebut memang minim aplikasi kantoran.

Layanan seperti apa yang layak dipilih? Tentu saja yang lengkap. Boleh jadi OS online tersebut harus memiliki aplikasi kantoran yang komplet, aplikasi kirim pesan (e-mail client dan instant messaging), pemutar aneka hiburan, sampai aneka pengedit foto.

Cicipi Glide

Pilihan sistem operasi online dengan aneka aplikasi komputasi kini banyak tersedia. Terhitung sudah lebih dari jumlah jari di tangan. Salah satunya adalah layanan Glide (www.glidedigital.com). Selain via komputer (baik notebook atau pun PC desktop), Anda juga bisa mengaksesnya lewat ponsel seperti iPhone dan PDA ber-internet browser, hanya dengan mengunjungi alamat https://xmobile.glidesociety.com.

Tampilan utamanya serupa desktop di PC dengan icon-icon fasilitas yang tersedia. Di sisi kirinya terdapat panel berisi root dan folder berisi file dan dokumen. Di luar fasilitas untuk urusan kantor, Anda bisa mencicipi pemutar musik, video dengan dukungan aneka format video, serta memanfaatkan aplikasi pengolah foto yang bisa mengolah file Adobe Photoshop berformat PSD. Fasilitas RSS feed juga ada.

Untuk urusan kantoran, ada fasilitas program mailer serupa Outlook Express, kalender, bookmark Web, Web publishing, pengolah tabel, kalkulator, chat, penyusun presentasi, dan, tentu saja, pengolah kata. Sekali mendaftar, Anda akan mendapatkan Personal Hard Drive Container untuk menyimpan semua data yang dibutuhkan pada server Glide. Versi gratis layanan ini memberikan kapasitas sampai 4GB untuk menyimpan data.

Pengolah katanya, Glide Write, tak beda dengan program pengolah kata pada umumnya. Ada fasilitas pengelolaan huruf, format, pemeriksa ejaan, sampai fasilitas thesaurus. Setiap dokumen secara default akan disimpan dalam format HTML, tetapi bisa juga diubah menjadi format DOC, PDF, RTF, dan TXT.

Fitur pembuat presentasi, Glide Presenter, menawarkan banyak dukungan multimedia dan kemudahan pemakaian. Themes, format teks, sampai filter telah tersedia dan siap pakai. Multimedia files yang tersimpan dalam container Anda bisa dipakai sebagai penghias presentasi. Data presentasi bisa disimpan dalam server atau diekspor menjadi file berformat PPT.

Layanan ini juga menyediakan Glide Web Publishing, fasilitas untuk membuat halaman Website — serupa Microsoft FrontPage. Aplikasi ini menyediakan template Web siap-pakai yang bisa langsung disiarkan secara online.

Namun fasilitas yang paling menarik sebenarnya adalah PhotoEdit. Aplikasi pengedit foto online ini menawarkan aneka fitur serupa aplikasi pengolah foto di PC. Ada sekitar 50 filter, efek, dan tool manipulasi foto yang disediakan. Bahkan ada pula fasilitas auto-contrast, auto-color, auto-redeye reduction, equalize, invert, substract background, edge detection, dan juga penambah noise.

Mencicipi Online OS

Bagaimana menggunakannya? Gampang saja. Ikut saja panduan berikut mengenai cara cepat menggunakannya. Oh ya, aplikasi yang tersedia di sistem operasi ini adalah Contacts (daftar alamat), Chat (instant messaging), E-mail (e-mail client), Share (P2P client), Calendar, Edit (drawing tool), Write (text editor), Crunch (spreadsheet), Present (presentation), Publish (web editor), Photos (photo retouching), Music (music player), Video (video player), Docs (file management), dan Bookmark.

Ketika masuk ke dalam halaman ini, Anda tinggal klik [Sign Up] untuk mendaftarkan diri dengan mengisi sejumlah formulir online. Konfirmasi akan diberikan via e-mail dan secara otomatis Anda juga akan mendapatkan sebuah akun e-mail dari Glide.

Tunggu beberapa saat sampai jendela aplikasi muncul di layar. Sistem operasi online ini memiliki dua panel. Panel kanan berisi daftar aplikasi (yang nantinya berubah menjadi jendela kerja setiap aplikasi) dan panel kiri berisi direktori folder simpan file-file yang Anda buat dan olah. Folder simpan (disebut container) ini berada di drive virtual yang diberikan Glide untuk Anda.

Daftar aplikasi di sini ada sekitar 15 aplikasi, mulai untuk urusan kerja sampai hiburan. Untuk menggunakannya, Anda tinggal klik salah satu aplikasi, misalnya Glide Write, dan sebuah dokumen kosong akan tampil di layar dalam sebuah jendela baru. Selanjutnya, Anda tinggal mengetikkan dokumen. Toolbar dan fitur yang tersedia cukup mudah dipahami sehingga Anda akan mudah mengelolanya.

Jika sudah, Anda tinggal klik tombol [Save] bericon disket yang ada di toolbar atas. Secara otomatis, file akan disimpan dalam drive virtual. Namun Anda juga bisa melakukan [Save as], lalu menyimpan dokumen ke dalam removable disk seperti flash drive. Jika sudah, untuk berpindah aplikasi, Anda tinggal klik tab [Application] yang ada di bagian atas desktop online. Gampang, bukan?

(sumber: PCplus)

Tentang Glide

Alamat web: www.glidedigital.com

Jenis: Gratis

Persyaratan sistem: Windows XP/2003/Vista, Mac OS X, Linux, RIM BlackBerry, Palm, Windows Mobile, Symbian and iPhone; browser Internet Explorer 6.0+, Firefox 2.0+, Camino 2.0+

Alternatif Sistem Operasi Online

Tak puas dengan Glide? Silakan cicipi beberapa layanan desktop online di bawah ini. Hampir semuanya gratis dan bisa Anda akses dari mana saja — hanya dengan bermodalkan PC terkoneksi Internet dan browser Internet. Selain itu, beberapa aplikasi membutuhkan Flash Player dan Java Environment System untuk menjalankannya.

http://giffard.dynalias.net/ssoe
http://g.ho.st
http://live.gnome.org/OnlineDesktop
www.craythur.com
www.desktoptwo.com
www.eyeos.org
www.glidedigital.com
www.goowy.com
www.mygoya.de
www.orcaa.com
www.stone-ware.com/webos/index.html
www.wiredcomfort.com
www.youos.com

12 Mei 2008

Istri Pejabat, Aktivitas Mereka Melengkapi Kiprah Suami...

KOMPAS/ALIF ICHWAN / Kompas Images
Si Booky, Si Penny, dan Si Rully (dari kiri), tiga ikon mobil pintar, berfoto bersama dengan Ny Ani Yudhoyono dan Ny Mufida Jusuf Kalla saat acara menyambut Seabad Kebangkitan Nasional dan ulang tahun ke-3 beroperasinya mobil pintar di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu (11/5). Acara ini dihadiri sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu.

Kompas, Minggu, 11 Mei 2008 - Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu atau SIKIB lahir dari gagasan mulia yang muncul dari keprihatinan. Gagasan itu lalu diterjemahkan dengan sejumlah tindakan mulia. Program Indonesia Pintar yang sudah tiga tahun berjalan adalah salah satu dari gagasan yang mewujud.

Kemiskinan tak boleh menghalangi anak-anak menjadi pintar. Itu gagasan Ny Ani Yudhoyono yang menjadi pelindung SIKIB bersama Ny Mufida Kalla. SIKIB dengan dana patungan dan sumbangan dermawan membuat mobil pintar, motor pintar, rumah pintar, dan terakhir kapal pintar gratis untuk siapa saja.

Mulai dengan mengoperasikan enam mobil pintar di kawasan miskin Jakarta, kini dioperasikan ratusan unit yang tersebar di kabupaten/kota se-Indonesia. Dua mobil pintar bahkan dioperasikan di Lebanon oleh anggota TNI yang jadi pasukan penjaga perdamaian PBB.

Ny Ani menyebut, kiprah SIKIB adalah terjemahan arahan Presiden Yudhoyono agar istri pejabat berkegiatan di bidang sosial, pendidikan, dan peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak-anak. Untuk itu, selain program Indonesia Pintar, SIKIB juga melaksanakan program Indonesia Hijau, Indonesia Kreatif, Indonesia Sehat, dan Indonesia Peduli.

Ulang tahun ketiga program Indonesia Pintar disatukan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (11/5). Ketua SIKIB Ny Murniati Widodo AS mengemukakan, kegiatan istri pejabat dilakukan untuk melengkapi program pemerintah atau suami.

Meski sekadar melengkapi, dalam acara di Lapangan Monas, para suami untuk sementara gantian menjadi pelengkap saja. Presiden Yudhoyono yang dijadwalkan hadir urung datang karena bersama Wapres Jusuf Kalla menjadi saksi pernikahan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Selain dihadiri sejumlah besar menteri, acara dihadiri sekitar 7.000 anak usia sekolah yang antusias datang sejak pukul 06.00. Anak-anak yang mengenakan kaus SIKIB menyimak betul sambutan Ny Ani yang komunikatif. Yel-yel diteriakkan bersama anak-anak pada awal pidatonya.

Virly (10), siswi kelas IV SDN Gambir 01 Pagi, Jakarta Pusat, harus berdiri di kursi yang didudukinya untuk melihat Ny Ani yang berapi-api berpidato di podium Garuda. Ia mengaku senang bisa tergabung bersama sekitar 7.000 teman seusianya.

Ny Ani mengemukakan, program SIKIB tidak berhenti meski sudah berkembang dan meluas. Masih banyak keprihatinan yang harus ditangani. Program SIKIB perlu dukungan untuk bisa membantu mewujudkan kesejahteraan. Untuk itu, nota kesepahaman SIKIB dengan 20 departemen/instansi ditandatangani.

Tidak perlu jauh-jauh mencari di mana keprihatinan itu masih ada. Di belakang panggung tempat Kerispatih menyanyikan lagu Kawan ciptaan Presiden Yudhoyono, ada Slamet (9) yang berpakaian Spiderman lusuh menenteng plastik besar.

Saat teman-teman seusianya bergembira duduk menyaksikan rangkaian acara, Slamet tak berhenti memunguti sampah makanan dan minuman yang dibiarkan berserakan di belakang panggung. Siswa kelas III SD di Tamansari, Jakarta, ini datang bersama orangtuanya berbekal kantong plastik besar.

"Setiap minggu pagi saya selalu ke Monas bareng orangtua dari rumah," ujar Slamet. Rumah itu adalah bedeng yang didirikan di Stasiun Sawah Besar, Jakarta.

Untuk menangani keprihatinan seperti yang diperjuangkan Slamet dan orangtuanya, Ny Ani minta nota kesepahaman betul- betul dijalankan. "Bila kita peduli, bersama kita bisa mewujudkan Indonesia sejahtera," ujarnya. (INU)

24 April 2008

Unair Luncurkan E-Paper untuk SMA

Rabu, 23 April 2008

Surabaya- RoL-- Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Rabu, meluncurkan e-paper bagi SMA se-Jawa Timur yang merupakan ajang penulisan karya ilmiah dan populer secara elektronik.

"E-paper yang pertama di Indonesia itu akan diresmikan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di auditorium Unair yang rencananya dihadiri presiden," kata Direktur Sistem Informasi Unair, dr Dripa Sjabana M.Kes.

Didampingi Sekretaris Unair Dr drh Imam Mustofa M.Kes saat berbicara di hadapan 30 guru dari 30 SMA se-Jatim, ia mengatakan Unair adalah pelopor e-paper di Jawa Timur.

"E-paper bertujuan meningkatkan kemampuan membaca dan menulis di kalangan siswa SMA, karena minat baca anak SMA memang masih rendah, padahal minat baca yang tinggi akan berdampak kepada peningkatan kualitas penulisan dan penelitian," katanya.

Untuk jangka pendek, katanya, e-paper hanya sebatas mendokumentasikan tulisan hasil penelitian dan karya ilmiah anak bangsa, namun kelak diharapkan dapat meningkatkan mutu lulusan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ditanya seorang guru tentang manfaat e-paper bagi sekolah, ia mengatakan e-paper dalam jangka panjang dapat digunakan media promosi bagi sekolah, terutama sekolah yang sulit berpromosi di media cetak.

"E-paper juga dapat dijadikan penilai kelulusan, misalnya dalam PMDK Prestasi ada guru yang kesulitan menentukan siswa yang masuk dalam peringkat lima besar karena nilainya sama, maka tulisan siswa dalam e-paper dapat dijadikan filter," katanya. Keuntungan lain, katanya, e-paper dapat dilihat pada laman google.com atau laman lainnya, sehingga paper ilmiah dari para siswa SMA dapat diakses se-dunia.

"Bagi Unair sendiri, kami tidak ada keuntungan secara signifikan, karena program itu merupakan bagian dari Universitas Social Responsibility (USR) atau tanggungjawab sosial Unair kepada masyarakat. Kami hanya diuntungkan dengan image (citra)," katanya. antara/mim

Ary Ginanjar Bergetar Dengar 13.800 Pelajar Hafal Asmaul Husna

Rabu, 23 April 2008 20:02:00

Padang-RoL -- Pimpinan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Indonesia, Ary Ginanjar Agustian, menyatakan hatinya bergetar saat mendengar langsung 13.800 pelajar Kota Padang melafalkan Asmaul Husna (99 nama Allah SWT, red) di lapangan Stadion H Agus Salim Padang, Rabu (23/4) sore.

"Hati saya bergetar mendengar nama-nama Allah SWT dilafalkan belasan ribu pelajar ini," kata Ary saat memberikan tausiah di depan belasan ribu hadirin, termasuk 13.800 pelajar SLTP dan SLTA peserta lomba melafalkan asmaul husna.

Acara ini juga memiliki arti luar biasa, karena bertepatan dengan 100 tahun kebangkitan nasional bangsa Indonesia, tambahnya.

Ary memberikan apresiasi sangat tinggi bagi para pelajar yang hafal asmaul husna. "Mengenal dan hafal asmaul husna sejak awal (saat usia muda, red) adalah tanda bagi calon-calon pemimpin terbaik bangsa," katanya.

Menurut dia, umat muslim yang hafal asmaul husna disinari bathinnya oleh Allah SWT dan akan menjadi pemimpin yang mampu merobah bangsa dan masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik.

Karena itu, tutur Ary, para pelajar saat ini yang hafal dan memahami asmaul husna adalah genarasi muda penerus kepemimpinann bangsa di masa depan.

"20 tahun akan datang para pelajar saat ini akan menjadi walikota, bupati, gubernnur, menteri hingga presiden Indonesia. Jika sejak awal mereka hafal dan memahami asmaul husna maka pemimpin bangsa masa depan akan membawa perubahan ke arah lebih baik bagi Indonesia," tambahnya.

Sementara itu, Walikota Padang Fauzi Bahar mengatakan, asmaul husna gencar dihafal warga kota ini dalam beberapa tahun terakhir. Hasilnya, kata dia, kini sekitar 120 ribu pelajar dan 50 ribu orang tua telah hafal asmaul husna.

Untuk penghargaan bagi para pelajar itu, diadakan lomba melafalkan asmaul husna tingkat SLTP dan SLTA diikuti 13.800 pelajar memperebutkan tiga unit mobil.

Lomba ini sekaligus untuk memeringati satu abad hari kebangkitan nasional, katanya. antara/is

21 April 2008

Animasi Lebih Mudah Dipahami Dalam Metode Belajar

Kompas, Senin, 21 April 2008, SEMARANG - Metode belajar visual menggunakan animasi harus segera dikembangkan di Indonesia. Dengan melihat animasi, pelajaran atau ilmu pengetahuan umum yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap dan diingat oleh peserta didik.

Hal itu disampaikan Ketua Sinergi Biro Perencanaan dan Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional Didik Sulistyanto saat membuka Festival Game Edukasi dan Animasi Indonesia 2008 Putaran Ke-2 di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang, Sabtu (19/4).

Menurut dia, selama ini siswa di sekolah sering kesulitan menangkap pelajaran karena modal pembelajaran mereka hanya buku. ”Dengan metode animasi, ilmu pengetahuan akan tampak hidup dan mudah diserap,” kata Didik.

Menurut Didik, pelajaran seperti ilmu pengetahuan alam, eksakta, atau materi kuliah seperti anatomi, pengenalan mesin, akan lebih mudah dan efisien disampaikan dalam bentuk animasi. Jadi, manfaat animasi bukan semata untuk hiburan seperti yang ada di televisi, tetapi juga untuk pendidikan.

”Namun, tampaknya animasi di Indonesia tertinggal jauh dengan perkembangan animasi di Jepang, Taiwan, Thailand, dan China. Untuk itu, teknologi pembuatan animasi harus diperkenalkan sejak dini lewat sekolah atau pendidikan nonformal lain,” kata Didik.

Dalam kualitas gambar, katanya, pelukis Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan negara lain, tetapi soal membuat animasi masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya.

Menurut Didik, pada Mei 2008 ia akan mengajak beberapa siswa sekolah menengah kejuruan ke Bangkok, Thailand, untuk membuka peluang animasi Indonesia di tingkat ASEAN. Ia mengatakan, sekolah menengah kejuruan berstandar internasional harus mulai diberdayakan untuk membuat animasi.

Festival Game Edukasi

Mengenai Festival Game Edukasi dan Animasi Indonesia 2008, Rektor Udinus Edi Noersasongko mengatakan, respons dari para pelajar dan mahasiswa melampaui target. ”Target peserta hanya 150, ternyata yang mendaftar 205 siswa,” kata Edi.

Festival ini merupakan bagian dari keseluruhan aktivitas yang sama yang dilakukan bergiliran di Poliseni Yogyakarta, Udinus Semarang, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, dan Institut Teknologi Bandung.

Menurut Edi, banyaknya televisi di Indonesia, 96 lokal dan 12 nasional, merupakan modal pengembangan animasi. ”Animasi merupakan ladang ide yang tidak akan pernah habis. Karena itu, mulai sekarang kita harus mengembangkan sumber daya manusia yang bergulat dengan animasi secara lebih serius,” kata Edi. (A08)

18 April 2008

Gubernur Sulsel Mundur jika Pendidikan Gratis Gagal

[MAKASSAR] Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Syahrul Yasin Limpo berjanji akan mundur dari jabatannya jika program pendidikan dan kesehatan gratis gagal di tahun ketiga. Pernyataan itu disampaikan pada saat melantik dan mengambil sumpah pasangan bupati dan wakil bupati Bone terpilih periode 2008-2013, HAM Idris Galigo-HAM Said Pabokori di Bone, Rabu (16/4).

Bone adalah salah satu dari empat daerah yang ditetapkan oleh Mahkamah Agung (MA) untuk pemilihan kepala daerah (pilkada) ulang pada saat sengketa Pilkada Sulsel, beberapa waktu lalu.

Daerah ini merupakan basis terbesar pendukung kandidat gubernur dan wakil gubernur Amin Syam-Mansyur Ramli (Asmara), termasuk bupati yang dilantik Syahrul adalah pendukung Asmara dari Partai Golongan Karya (Golkar).

Program pendidikan dan kesehatan gratis bukanlah hal mudah, apalagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sulsel sudah berjalan dan sangat terbatas. Untuk itu, tahun ini harus bisa diarahkan sesuai dengan kemampuan dan dilakukan bertahap.

"Kalau tidak berhasil sampai tahun ketiga atau keempat, saya siap mundur di perjalanan," tandasnya.
Menurut dia, program pendidikan gratis diupayakan menjangkau pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).

Program ini berjalan dengan 14 item, antara lain menggratiskan SPP, uang ujian, biaya ulangan, pramuka, bantuan pembangunan, pembayaran buku, LKS, uang foto, perpisahan, pakaian, dan sebagainya

Konsisten

Syahrul mengajak bupati dan wali kota untuk konsisten melaksanakan program hak dasar rakyat itu. Kalau nanti provinsi melakukan penggratisan untuk SD-SMP, maka idealnya, kabupaten dan kota melakukannya untuk tingkat SMA.

Dia juga mengingatkan, peran komite sekolah harus berfungsi mengawasi, mendorong, dan berkoordinasi agar akselerasi sekolah bisa jalan.

"Komite sekolah jangan lagi menjadi alat tukang pungut-pungut yang membebani orangtua siswa, tapi tugas komite mengawasi anggaran yang turun ke sekolah serta pelaksanaan proses belajar-mengajar," jelasnya.

Dalam program seratus hari kepemimpinannya bersama wakil gubernur Agus Arifin Nu'mang, konsolidasi adalah bagian yang terpenting dilakukan kepada segenap lapisan, baik dengan para pejabat daerah, tokoh masyarakat maupun kelompok-kelompok yang pada saat pilkada berbeda dukungan.

"Gubernur adalah milik semua orang, semua golongan, suku, dan agama. Jadi, yang harus kita pikirkan sekarang adalah, bagaimana kita saling berangkulan, menyatukan tekad untuk membangun Sulsel menuju perubahan kehidupan ke arah yang lebih maju," tandasnya. [148]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/04/18/index.html

Septi, Prestasi Bermula dari Sepuluh Jari

KOMPAS/INDIRA PERMANASARI / Kompas Images

INDIRA PERMANASARI

Dengan jemarinya, Septi Peni Wulandani menghalau ketakutan anak-anak mempelajari Matematika. Lebih dari itu, dia menyentuh kehidupan banyak perempuan dan mengubah jalan mereka. Semua berawal dari sepuluh jari.

Kisah Septi bermula dari kecintaannya terhadap anak-anak dan keinginan untuk mendidik mereka. Septi pun melepaskan kesempatan menjadi pegawai negeri sipil Departemen Kesehatan tahun 1995, dengan penempatan di Semarang, demi menjadi ibu rumah tangga.

Ketiga anaknya, Nurul Syahid Kusuma (11), Kusuma Dyah Sekararum (10), dan Elan Jihad Mohammad (5), mendapat didikan langsung dari Septi di rumah alias ber-homeschooling. Salah satu tantangan Septi adalah mengajari anak berhitung alias Matematika, materi yang selama ini dianggap ”menakutkan”.

Enes (panggilan untuk Nurul) pernah mengikuti kursus sempoa atau swipoa, metode berhitung menggunakan alat tradisional Tionghoa. ”Tetapi Enes tidak menikmati kursusnya,” kata Septi.

Enes memang lebih cepat menguasai materi. Pada umur dua tahun ia sudah pandai membaca dengan metode Abacabaca atau belajar membaca dengan merangkai suku kata (bukan huruf seperti umumnya) yang dibuat Septi.

Swipoa juga kerap rusak lantaran dijadikan mainan. Waktu itu Enes berusia tiga tahun. ”Saya lantas berpikir untuk ikut kursus, kemudian mengajari Enes,” ujar Septi yang lalu mengikuti kursus swipoa.

Berbekal pengetahuan dari kursus itu, Septi berupaya menciptakan metode yang disukai anaknya. Ia melihat Enes suka memainkan jemari. Dia lalu berpikir mengapa tidak jari-jari tangan diaktifkan kembali dan dimaksimalkan untuk menguasai pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Dengan imajinasinya, Septi memindahkan bidak swipoa ke jari-jari tangan.

Tangan kanan diibaratkan tangan satuan dan tangan kiri sebagai tangan puluhan. Metode itu terus dikembangkan hingga mencapai angka ratusan dan ribuan, dengan menggunakan biku-biku jari. Selama 2000-2003 metode ciptaan Septi itu dipraktikkan kepada Enes, yang ternyata sangat menyukainya. Metode itu kemudian dinamai Jarimatika singkatan dari jari dan matematika.

”Aplikasinya mudah sehingga dapat menjadi jembatan pertama anak memasuki dunia matematika yang dianggap sukar dan sering membuat minder. Kalau anak sudah percaya diri, mata pelajaran lain akan berkembang baik,” kata istri Dodik Mariyanto itu. Metode pembelajarannya dikemas menyerupai permainan.

Septi lalu menuliskan metode berhitung itu dan diterbitkan menjadi buku berjudul Jarimatika Penambahan dan Pengurangan (Teknik Berhitung Mudah dan Menyenangkan dengan Menggunakan Jari Tangan). Buku itu sudah memasuki cetakan ke-10, bahkan akan dibuat versi braille bagi tunanetra.

Menyebarkan ilmu

Banyak pembaca tertarik dan meminta Septi memberikan pelatihan agar mereka bisa mengajari anak-anaknya di rumah. Bahkan, perempuan kelahiran Salatiga itu ”terpaksa” membuka kursus di Depok Timur, sebelum pindah ke Salatiga, Jawa Tengah. Rumahnya di Salatiga berubah menjadi markas pelatihan Jarimatika.

Awalnya sulit mengajarkan Jarimatika kepada para ibu karena mereka merasa tangannya sudah kaku. Sebagian lagi berpandangan berhitung dengan tangan itu kuno dan hanya dapat sampai hitungan 10.

”Ada yang sampai nangis-nangis melipat jarinya, dan sekarang ibu itu menjadi instruktur keliling Indonesia,” katanya.

Sebagian peserta pelatihan kemudian tertarik membuka kursus. Jalan hidup sebagian dari mereka pun berubah. ”Ada manajer perusahaan multinasional dan beberapa perempuan dengan jabatan bagus yang mengundurkan diri dari pekerjaan karena ingin mendidik sendiri anaknya. Mereka tetap mandiri secara finansial dengan membuka kursus Jarimatika,” ujarnya.

Sekarang terdapat 80 waralaba Jarimatika yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, beberapa berada di luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Timur Tengah. Tak kurang dari 600 ibu yang telah dilatihnya belajar berhitung. Septi tak pernah membayangkan sedemikian luas metode itu dikenal orang lantaran semula hanya diperuntukkan bagi ketiga anaknya.

Rentetan penghargaan mengikuti sepak terjang Septi. Tahun 2006 dia menerima penghargaan Danamon Award untuk kriteria pengembangan sumber daya masyarakat. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tertarik menggunakan metodenya guna memberdayakan ibu-ibu di daerah terpencil. Ashoka Foundation, yayasan dari Amerika, juga melibatkan Septi dalam jaringannya. Belakangan dia mendapat tawaran dari Kedutaan Besar Indonesia di Swedia guna mengenalkan metode tersebut kepada ibu-ibu di negara itu.

Ibu rumah tangga

Septi bangga menjadi ibu rumah tangga. Di kartu namanya tercetak dengan huruf hitam tebal nama Septi Peni Wulandani, Ibu Rumah Tangga Profesional, bukan tulisan jabatannya sebagai Direktur PT Jarimatika Indonesia.

Belakangan dia mendirikan jaringan Institut Ibu Profesional guna menyemangati para ibu agar produktif dan mampu mendidik anak. Jaringan itu sudah beranggotakan 1.000 perempuan.

”Ini ibaratnya sekolah untuk menjadi ibu profesional. Kami membentuk komunitas belajar bersama, merancang seminar, dan workshop,” ujarnya.

Temanya juga beragam, mulai dari persoalan mendidik anak, mengatur rumah, mendidik anak, mengembangkan usaha, pertolongan pertama pada kecelakaan di rumah, berkendara dengan aman, sampai mengatur keuangan rumah tangga. Anggotanya para ibu rumah tangga dengan kekuatan yang berawal dari rumah. Sebagian peserta adalah para ibu dengan kesulitan finansial.

Para ibu yang dilatih itu kemudian didorong mengadakan kegiatan serupa di lingkungan masing-masing, sesuai keahliannya. Ada ”alumnus pelatihan” yang lalu mengajak para ibu dari lapisan ekonomi sulit untuk belajar Jarimatika dan membuat alat peraga belajar atau permainan edukasi. Produk itu dijual lewat jaringan Jarimatika. Mereka mendapatkan penghasilan tambahan dari kegiatan itu dan dapat mengajari anaknya di rumah tanpa harus keluar biaya.

Belakangan Septi juga melatih para mahasiswi tingkat akhir mengenai pengetahuan menjadi ibu rumah tangga tersebut.

”Dalam masyarakat, hidup anggapan bahwa ibu rumah tangga itu tak ada nilainya. Tetapi, kata saya, suatu saat ibu rumah tangga pasti dicari karena membanggakan.” Kompas, 18/4/2008

http://www.kompas.com/kompascetak/sosok/

03 April 2008

Sekolah Sekompleks Disulap Jadi Satu dan Bertaraf Internasional

SUKSES menghijaukan Surabaya saat menjabat kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Tri Rismaharini yang kini sebagai kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) memiliki gebrakan baru. Yakni, menyulap sekolah-sekolah kecil dalam satu kompleks menjadi satu sekolah berfasilitas internasional.

Tidak hanya tiga hingga empat sekolah yang bakal digabung menjadi satu. Tetapi, ada juga sembilan sekolah dalam satu kompleks yang nanti disulap menjadi satu sekolah (nine in one). Tentu tidak mudah mewujudkan impian itu. Namun, Bappeko telah mematangkan konsep itu dan bertekad merealisasikan program itu mulai tahun ini.

Bukan tanpa alasan Risma harus memerger sekolah-sekolah tersebut. Berdasarkan pengamatan, selama ini begitu banyak persoalan yang kerap terjadi di sejumlah sekolah dalam satu kompleks itu. "Yang pasti, kebijakan itu demi pertimbangan efektivitas. Akhirnya, saya berencana memerger sekolah-sekolah itu," ujar alumnus ITS itu.

Untuk rencana awal, ada tujuh SDN kompleks yang dijadikan pilot project. Yaitu, SDN Simokerto I-IV; SDN Rangkah I-IX; SDN Bubutan IV, V, VI, VII, dan XI; SDN Putat Jaya I, II, V; SDN Karah I, II, IV, VI; SDN Sememi I-II; serta SDN Dupak I-IV.

Risma menjelaskan, beberapa persoalan di sekolah-sekolah itu, antara lain, terjadinya ketimpangan dalam jumlah siswa. "Ada sekolah yang jumlah siswanya hingga 300 anak, tetapi sekolah sebelahnya hanya memiliki 100. Ini kan jelas timpang dan berpotensi terjadi persaingan tidak fair antarsekolah dalam satu kompleks," katanya.

Mengapa tujuh kawasan itu menjadi prioritas dan dijadikan pilot project? Menurut Risma, di antara sekian banyak sekolah kompleks di metropolis, tujuh sekolah sekawasan itu dinilai memiliki problem masing-masing. Dia mencontohkan, SDN Rangkah I-V. Sekolah itu berlokasi di Kapas Krampung Kulon dan SDN VI-IX yang berlokasi di Kapas Krampung Wetan.

Lokasi dua sekolah kompleks tersebut berdekatan dengan Pasar Tambahrejo. Tak urung, Risma merasa risau dengan kondisi keramaian pasar dan dipastikan mengganggu aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut. "Sangat tidak representatif sekolah dekat pasar. Selain itu, antara satu sekolah dan sekolah lain juga terjadi ketimpangan dalam banyak hal," cetusnya.

Karena itu, sambung Risma, pihaknya memutuskan untuk menyulap sekolah-sekolah tersebut menjadi satu saja. Risma menjelaskan, dalam rencana besar yang sudah dirancang, sembilan sekolah itu dilebur menjadi satu. Lokasinya dipilih di kompleks SDN Rangkah 1-V. "Kami bikin bertingkat. Lebih menghemat lahan. Dengan satu manajemen pula. Lebih simple dan tidak ribet," ujar ibu dua anak itu.

Sedangkan lokasi SDN Rangkah VI hingga IX bakal dibongkar total. Sebagai gantinya, di lahan itu bakal dibangun beragam fasilitas. Mulai fasilitas olahraga outdoor, lahan terbuka hijau, aneka permainan, hingga fasilitas-fasilitas untuk kegiatan ekstrakurikuler. "Kami memimpikan anak-anak sehat dan bisa menjadi atlet masa depan," tuturnya.

Lain lagi problem SDN Karah kompleks. Di kompleks tersebut terdapat empat sekolah, yaitu SDN Karah I, II, IV, dan VI. Sebelumnya, ada juga SDN Karah V. Namun, karena siswa siswinya terus menyusut, SDN Karah V lebih dulu tutup dan menggabungkan diri dengan SDN Karah I.

Seperti disampaikan Risma, masalah utama yang dihadapi SDN kompleks tersebut juga menyangkut ketimpangan jumlah siswa. SDN Karah IV dan VI mengaku kekurangan siswa sejak beberapa tahun terakhir. Setiap memasuki musim penerimaan siswa baru (PSB), jumlah siswa menyusut. "Tahun lalu kami hanya berhasil menjaring 17 siswa," tutur Kepala SDN Karah IV Kasiati.

Menurut dia, para orang tua lebih memilih SDN induk yang lebih lama berdiri. Yaitu, SDN Karah I dan II. Dua sekolah itu dianggap yang paling favorit di kompleks tersebut. Akibatnya, jumlah siswa njomplang. SDN Karah II, misalnya, kini memiliki 223 siswa. Itu berarti jumlahnya lebih dari dua kali lipat dari SDN Karah IV yang hanya memiliki 100 siswa.

Fakta ketimpangan jumlah siswa tersebut tentu berdampak pada banyak hal. Di antaranya, memengaruhi kualitas anak didik. Bisa dibayangkan apabila seorang guru hanya mengajar 10 siswa dalam satu kelas. "Tentunya beban moral. Guru menjadi malas mengembangkan diri, kehilangan semangat. Padahal, guru-guru saya relatif potensial," sambungnya. Kalau guru sudah kehilangan semangat, tentunya berpengaruh terhadap kualitas.

Karena problem-problem di sekolah sekompleks itulah, Risma memutuskan agar merger itu segera terwujud. Dan, sekolah-sekolah pascamerger bakal tidak kalah dengan kelas internasional. "Mimpi itu harus kami wujudkan. Fasilitas seperti laboratorium matematika maupun bahasa bakal disediakan," ujarnya.

Risma juga menekankan, bila masing-masing sekolah hasil merger itu nanti harus berwawasan lingkungan. "Ruang terbuka hijau wajib ada," katanya. Sebab, kecintaan terhadap lingkungan sejak dini dianggap penting.

Konsep yang dikembangkan di sekolah-sekolah itu adalah pengembangan multiple intelligence atau kecerdasan majemuk. Anak-anak yang berbakat di bidang olahraga, musik, maupun tari tak perlu khawatir bakatnya tak tersalurkan. "Fasilitas seperti ruang bahasa dan musik akan melengkapi," paparnya. Dengan begitu, tak hanya mereka yang pintar di bidang sains yang terwadahi.

Selain itu, kata Risma, seluruh ruang yang berkaitan dengan pembelajaran murid bakal dilengkapi dengan multimedia. Pembelajaran siswa juga terpantau dengan CCTV. "Tujuannya, belajar mereka terpantau. Nah, agar mereka betah tinggal di sekolah, kami tentu harus mencukupi kebutuhan mereka," terangnya.

Untuk itu, para tenaga pengajar juga harus dipersiapkan dengan profesional. "Dispendik harus mendukung kelengkapan fasilitas yang tersedia dengan tenaga pendidik yang profesional," ujarnya.

Untuk memenuhi fasilitas itu, anggaran yang disediakan cukup besar. Masing-masing sekolah yang dimerger membutuhkan anggaran Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar. "Meski bertaraf internasional, kami upayakan biaya tetap murah. Dengan begitu, kesempatan untuk mendapatkan sekolah layak bagi mereka yang tidak mampu sangat terbuka," tegas Risma.

Risma mengungkapkan, konsep pengembangan sekolah-sekolah yang bakal dimerger itu tengah dimatangkan tim. Dia mencontohkan, konsep merger untuk SDN Karah. Bappeko sudah membuat desain visual sekolah itu menjadi seperti apa. Jika saat ini kondisi existing sekolah itu secara umum kurang layak, dalam desain yang sudah tuntas nanti sekolah tersebut menjadi sangat istimewa.

Sementara itu, Kepala Dispendik Sahudi menyatakan bahwa konsep merger SD yang tengah dimatangkan Bappeko itu sejatinya program lawas. Dispendik mengaku program tersebut telah dilayangkan ke meja Bappeko setahun silam. "Itu sudah lama kami godok. Sekarang tengah digarap Bu Risma karena sudah muncul SK wali kota," kata Sahudi.

Selain konsep merger SD, lanjut Sahudi, pihaknya menyodorkan beberapa konsep lain untuk mempercepat laju pendidikan di Surabaya. Di antaranya, pembangunan SD baru di kawasan Kedinding. Hal itu dilakukan karena mengacu pertimbangan bahwa siswa SD di kawasan tersebut berlimpah.

Selain itu, ada konsep sekolah kawasan. Program tersebut berupaya mengatasi kemacetan pemerataan siswa saat penerimaan siswa baru. Selama ini siswa hanya mendaftar di sekolah-sekolah tertentu. Akibatnya, sekolah yang mendapat murid baru hanya sekolah itu-itu saja. Sekolah lain kelimpungan untuk mendapatkan siswa. Akibatnya, jumlah sekolah unggulan dari tahun ke tahun juga tak pernah bertambah.

Melalui sekolah kawasan, pemkot menunjuk beberapa sekolah di kawasan pinggiran untuk dibina menjadi sekolah maju. "Jadi, warga Surabaya tidak tertuju kepada SMA 5 saja. Tapi, juga bisa mendaftar ke SMA lain agar bisa mendapatkan pendidikan berkualitas," ucapnya.

Program lain, terang Sahudi, terkait penataan SD kompleks. Selama ini ada kecenderungan penerimaan murid di SD kompleks timpang. Ada SD yang mendapatkan siswa melebihi kuota dan ada yang kekurangan murid. "Kondisi ini tentu tidak efisien bagi proses pendidikan," katanya

Saat itu, dia mengusulkan penggabungan beberapa SD dalam satu payung lembaga dengan satu kepala sekolah. "Waktu itu ada 24 SD yang kami usulkan. Dua tahun sebelumnya kami mengusulkan 39 sekolah perlu dimerger. Tapi, tiap SD yang digabung perlu mendapatkan SK wali kota. Sebab, itu sama halnya membikin lembaga baru," ucapnya.

Setelah SK turun, barulah Dispendik bertanggung jawab terhadap penataan SDM (sumber daya manusia) sekolah tersebut. "Siapa Kasek yang ditunjuk dan berapa guru yang terlibat," jelasnya.

Sahudi juga mengakui, umumnya kondisi SD yang diusulkan untuk merger memang mengenaskan. Rata-rata memiliki ruang kelas yang tak layak dan jumlah siswa sedikit. Hal tersebut tentu berbeda dengan program sekolah kawasan yang menitikberatkan pembenahan manajemen sekolah. (kit/ara/git/hud) /// Indo Pos, Kamis, 03 Apr 2008,

25 Maret 2008

Pengawasan Ujian Nasional 2007/2008 Ditingkatkan

Kompas, 25/3/2008
Jakarta - Pengawasan pelaksanaan ujian nasional 2007/2008 untuk tingkat SD, SMP, dan SMA serta yang sederajat akan terus ditingkatkan guna mencegah terjadinya kecurangan. Pengawasan ini akan melibatkan pemantau independen dari kalangan perguruan tinggi yang mulai diadakan sejak tahun lalu.

”Jangan sampai pelaksanaan ujian nasional (UN) dinodai kecurangan-kecurangan. Semuanya harus sesuai dengan prosedur operasi standar (POS) UN yang sudah disosialisasikan ke daerah- daerah,” kata Sekretaris Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Furqon di Jakarta, Senin (24/3).

Furqon mengatakan, kehadiran tim pemantau independen di sekolah-sekolah yang berasal dari perguruan tinggi termasuk salah satu elemen pengawas yang diandalkan untuk bisa melaporkan pelaksanaan UN sesuai dengan POS atau tidak. Minimal di setiap sekolah ada satu pemantau independen yang melaporkan proses pelaksanaan UN di tempat dia bertugas.

Selain itu, kata Furqon, tahun ini ada tambahan dana transportasi bagi pengawas sehingga diharapkan bisa memantau hingga ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Namun, Furqon tidak merinci besarnya dana pengawasan yang dialokasikan untuk pelaksanaan UN tahun ini.

Membocorkan jawaban soal

Pelaksanaan UN dimulai di tingkat SMA atau sederajat tanggal 22-24 April dengan enam mata pelajaran dan SMP atau sederajat tanggal 5-8 Mei dengan empat mata pelajaran. Adapun untuk SD atau sederajat 13-15 Mei dengan tiga mata pelajaran.

Dari hasil investigasi Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), tahun lalu memang ada kecurangan pelaksanaan UN yang dilakukan pihak sekolah dengan membocorkan jawaban soal-soal UN. Depdiknas menginvestigasi sebanyak 37 kasus pelanggaran UN, yang sebagian besar berupa penyimpangan POS UN.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Depdiknas Burhanuddin Tolla secara terpisah mengatakan, mengenai dugaan kecurangan dalam pelaksanaan UN, sebenarnya Puspendik sudah bisa memetakan sekolah- sekolah yang diduga tidak jujur dalam pelaksanaan UN. Penilaian itu bisa dilihat dari perhitungan mengenai hubungan kelulusan, prestasi belajar, dan koefisien obyektivitas.

”Saat pelaksanaan UN tahun lalu, kami sudah minta BSNP untuk mengawasi ribuan sekolah yang diduga melakukan kecurangan dalam UN. Memang ada yang terbukti. Sayang Mendiknas belum mengizinkan data-data sekolah yang diduga curang itu dipublikasikan secara luas,” kata Burhanuddin.

Kelulusan dibatalkan

Ujian akhir sekolah berstandar nasional tingkat SD dan UN tahun 2008 diperkirakan diikuti sekitar 10 juta siswa, meliputi 5 juta siswa tingkat SD/MI, 3 juta siswa SMP/sederajat, dan 2 juta siswa SMA/sederajat.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo berjanji akan menindak keras pihak-pihak yang melakukan kecurangan dalam pelaksanaan UN. Sanksi yang lebih tegas ini dalam upaya pembelajaran kepada masyarakat bahwa lulus dan tidak lulus dalam evaluasi di sekolah merupakan hal yang lumrah.

Bambang mengatakan, jika kecurangan itu dilakukan oleh peserta, kelulusan siswa bisa dibatalkan. Seandainya guru terlibat, pihaknya meminta pemerintah daerah untuk memberi sanksi keras hingga pemecatan.

Mendiknas merasa yakin penambahan mata pelajaran dalam UN tidak akan mengurangi jumlah lulusan. (ELN)

21 Maret 2008

Situs Porno Indonesia Temui Ajalnya?


Kompas.com, 21/3/2008
SURABAYA - Situs-situs porno di Indonesia akan segera gulung tikar. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Prof Ir Mohammad Nuh DEA menyatakan situs porno akan diblokir mulai April dan diharapkan akan tuntas pada Mei mendatang.

"Pengguna internet di Indonesia memang masih kecil dengan kisaran 25 juta orang, tapi Mei mendatang akan meroket, karena kami akan memberi fasilitas khusus untuk SMA/MA se-Indonesia," katanya di Surabaya, Jumat.

Usai menjadi khotib salat Jumat dan meresmikan laboratorium IT di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), ia mengatakan fasilitas khusus yang diberikan secara free (gratis) kepada SMA/MA se-Indonesia akan mendorong lompatan pengguna internet.

"Lompatan itu diperkirakan mendorong pengguna internet di Indonesia menjadi sekitar 50 juta. Jumlah itu kecil atau sekitar 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia, tapi jumlahnya sudah 20 kali lipat Singapura, apalagi Malaysia," katanya.

Menurut mantan rektor ITS Surabaya itu, sosialisasi pemanfaatan internet melalui fasilitas khusus itu akan menimbulkan dampak negatif yakni penggunaan internet untuk mengakses situs-situs yang tidak bagus (negatif) atau porno.

"Untuk mengantisipasi dampak negatif itu, kami akan memblokir situs-situs porno dalam tiga level yakni masyarakat, software (piranti lunak), dan jaringan provider (bekerjasama dengan Internet Service Provider atau ISP)," katanya.

Oleh karena itu, katanya, ketiga level diharapkan akan dapat dituntaskan pada April-Mei. "Di level masyarakat, kami berharap kesadaran masyarakat untuk memblokir sendiri dengan tidak membuka situs-situs negatif," katanya.

Di tingkat software atau pernagkat lunak, katanya, Depkominfo akan menjalin kerjasama dengan instansi (departemen) dan sekolah untuk men-download software dengan program blokir situs porno pada website Depkominfo RI.

"Kalau mereka men-download, maka mereka dapat memasang pada ’admin’ komputer di setiap instansi pemerintah dan sekolah untuk memblokir, sehingga dampak negatif dari internet di instansi dan sekolah dapat diminimalisir," katanya.

Langkah blokir paling akhir, katanya, Depkominfo akan bekerjasama dengan provider (ISP) untuk memblokir situs yang merusak bangsa. "Semua tingkatan itu, kami harapkan akan dapat dilaksanakan pada April-Mei mendatang," katanya.

Ditanya tentang kemungkinan program untuk memblokir situs porno itu akan dibobol para "hacker", ia menambahkan hal itu dapat diantisipasi secara teknologi pula.

"Bersamaan pemblokiran situs porno itu, kami akan memasukkan content (isi) yang berkaitkan dengan bisnis atau industri, seperti bagaimana memantau stabilitas harga padi atau ikan. Kami juga berharap tempat ibadah seperti MAS juga membuat software tentang evaluasi ahlak yang diajarkan Alquran," katanya.

Di MAS, Mohammad Nuh bersama Executive General Manager Telkom Divre V Jatim, Mas’ud Khamid, meresmikan laboratorium informasi dan teknologi Broadband Learning Center (BLC) di lantai dasar MAS yang berkapasitas 11 Personal Computer (PC) serta dilengkapi akses internet berkecepatan tinggi. WIP

10 Maret 2008

Manado Terima BOS Terbanyak


Kota Manado Menerima dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) triwulan I tahun 2008, terbesar di ProVinsi Sulawesi Utara, yakni sekitar Rp4,7 miliar. Angka itu lebih besar dibandingkan 13 kabupaten dan kota lainnya di provinsi tersebut.
Wakil Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Propinsi Sulut, Arnold Poli, Senin, di Manado, mengatakan, BOS Kota Manado itu terbagi untuk SD dan SD Luar Biasa (LB) Rp 2,9 miliar, SMP dan SMP LB Rp1,7 miliar.
Sementara daerah lainnya Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Rp 3,8 miliar, Minahasa Rp 3,4 miliar, Minahasa Selatan Rp 2,4 miliar, serta alokasi terendah di Kabupaten Sitaro Rp 731 juta dan Bolmong Utara Rp 860 juta.
Kucuran bantuan untuk sektor pendidikan itu, sebaiknya diarahkan pada kekegiatan peningkatan mutu pendidikan, sekaligus menghindari praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
"Jika ditemukan ada penyimpangan bantuan BOS dipihak sekolah, Diknas tidak segan-segan memproses secara hukum," ujarnya.
Kucuran bantuan itu diambil langsung pihak sekolah melalui PT Pos dan Giro atau bisa rekening bank, dengan menyampaikan pertanggungjawaban secara berkala.
Ketua Yayasan Peduli Pendidikan Sulut (YPPSU), Robby Sangkoy mengatakan, bantuan BOS yang diarahkan untuk kegiatan peningkatan sumber daya manusia sektor pendidikan, harus tepat sasaran.
Penyaluran bantuan itu harus dipertanggungjawabkan kepada publik, terutama kegiatan fisik yang sudah dilakukan disetiap sekolah, mengingat penyaluran anggaran sarat dengan konsekuensi hukum jika penggunaannya salah aturan. (ANT)
http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.10.08545318&channel=1&mn=2&idx=6

09 Maret 2008

DANA BOS CAIR, KEPSEK DI JAKTIM BERNAFAS LEGA


Para Kepala Sekolah di Jakarta Timur, khususnya SD negeri/swasta, SD/SMP luar biasa (LB), SMP negeri/swasta, dan sekolah terbuka, boleh bernafas lega. Ini karena dana bantuan operasional sekolah (BOS) dari pemerintah telah mengucur, Senin (3/3).

“Yang terpenting para kepala sekolah harus transparan dan akuntabel dalam mengelola dana BOS. Sehingga laporan pertanggungjawabannya dapat diterima oleh pihak pemeriksa fungsional,” kata Kepala Sudin Pendidikan Dasar (Dikdas) Jakarta Timur, Zaenal Soleman, Rabu (5/3).

Dengan cairnya dana BOS ini, kata Zaenal, diharapkan para kepala sekolah lebih konsentrasi dan serius dalam melaksanakan tugas kegiatan belajar mengajar di sekolahnya amasing-masing.

Untuk menghindari kecurigaan dari masyarakat, kata Zaenal, pihaknya menyarankan agar kepala sekolah mengumumkan pengelolaan dana tersebut. Tidak hanya menyebutkan berapa jumlah murid dan dana BOS yang diterima, tapi pengeluaran atau alokasinya pun harus diumumkan di papan pengumuman.

Dana BOS yang telah dikucurkan itu untuk kegiatan belajar mengajar selama tiga bulan. Di Jakarta Timur, pada triwulan pertama, jumlah penerima dana BOS terdiri dari SD negeri/swasta dan SD LB sebanyak 845 sekolah, dengan jumlah murid penerima sebanyak 251.054 murid. Total jumlah dana BOS yang mengalir ke sekolah tersebut sebesar Rp 15.941.929.000.

Kemudian untuk sekolah SMP negeri/swasta dan SMP LB, jumlahnya ada 233 sekolah dengan jumlah murid penerima sebanyak 106.453 murid. Total dana yang mengalir ke sekolahan tersebut untuk tiga bulan sebanyak Rp Rp 9.421.090.500.

Sedangkan untuk SMP terbuka, jumlah sekolah penerima dana BOS sebanyak 11 lokasi dengan jumlah murid 1.931 murid. Total dana yang diterima Rp 170.893.500. “Silakan kepala sekolah mengambil atau mengggunakannya sesuai dengan kebutuhan. Dana sejumlah itu diperuntukan untuk kegiatan 3 bulan,” pesan Zaenal.

Ia juga meminta agar para kepala sekolah menggunakan anggaran tersebut mengacu pada RAPBS yang telah disusun oleh kepala sekolah dan komite sekolah setempat. “Pesan saya, para kepala sekolah jangan lupa untuk memperhatikan pembayaran pajaknya, sesuai dengan jumlah belajanya. Tentunya pembayaran pajak ini juga sesuai denan UU Perpajakan,” kata Zaenal.

Sementara, berdasarkan pengalaman pada tahun 2007, pengelolaan dana BOS di Jakarta Timur secara umum berjalan lancar. Hanya saja, saat itu setelah ada hasil audit dari unit pemeriksa fungsional ditemukan adanya beberapa kepala sekolah yang terlambat membayar pajak. Jumlah sekolah yang lambat membayar pajak itu mencapai 60 an sekolah, dengan nilai tunggakan pajak berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Selain itu ditemukan juga beberapa sekolah yang kelebihan menerima dana BOS. Karena itu, Zaenal meminta agar ada kesadaran dari para kepala sekolah untuk mau menghitung jumlah murid penerima dana BOS yang sebenarnya. Sehingga jika ada kelebihan segera dikembalikannya. Penulis: NURITO, Sumber: nurito, http://www.beritajakarta.com