02 Juni 2008

Mardhan-Hartati, Merintis SLB di Kendari

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Keprihatinan pada nasib anak-anak berkebutuhan khusus yang tak mendapat layanan pendidikan, mendorong Mardhan mendalami pendidikan luar biasa. Dengan menyisihkan gaji dirinya dan istri sebagai pendidik, pasangan Mardhan-Hartati menjalankan satu-satunya sekolah luar biasa atau SLB di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, sejak 1990.

Pasangan ini memperjuangkan nasib anak-anak berkebutuhan khusus di Kendari agar mendapatkan layanan pendidikan yang baik. Maka, puluhan anak yang semula disembunyikan keluarga perlahan dikirim belajar ke SLB Mandara, yang awalnya berada dalam Kampus Universitas Haluoleo, Kendari.

Upaya pasangan yang bertemu saat Mardhan kuliah di Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, ini seakan sempurna dengan didirikannya SLB Mandara kedua di atas tanah seluas 5.000 meter persegi. Bangunan sekolah yang didanai pemerintah itu berdiri di atas tanah yang dicicil dari gaji mereka selama 13 tahun.

"Yang memberi nama Mandara itu teman saya. Mandara dalam bahasa setempat artinya terampil. SLB ini bertujuan memberi keterampilan buat anak-anak yang belajar di sini sehingga mereka tak lagi jadi beban siapa pun," ujar Mardhan, dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Haluoleo.

Mardhan dan Hartati yang menikah tahun 1973 tak hanya mendirikan layanan SLB Mandara. Mereka juga membiayai pendidikan dan hidup beberapa anak dari keluarga tak mampu. Rumah mereka terbuka bagi anak-anak dari keluarga miskin yang ingin mandiri.

Mardhan dan istrinya bangga saat Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengunjungi SLB Mandara akhir April 2008. Perjuangan mereka untuk memberikan layanan pendidikan terbaik buat anak-anak di daerah ini dihargai pemerintah dengan pemberian biaya membangun gedung sekolah dan berbagai fasilitas keterampilan hingga bantuan operasional sekolah. Maka, para siswa bisa belajar secara gratis sejak 2004.

"Panggilan hidup saya ada di sini. Saya yakin anak-anak cacat itu punya potensi yang harus dikembangkan. Saya bilang kepada yang tunanetra, buta itu mata mereka, tetapi hati mereka tidak buta. Saya yakin anak-anak ini pasti bisa mandiri jika diberi pendidikan yang baik seperti anak-anak lain," katanya.

Awalnya, Mardhan yang guru SD di Kendari itu tak berpikir untuk berhubungan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Saat pemerintah mewajibkan guru SD menjalani pendidikan diploma-2, Mardhan tertarik dengan tawaran PLB di UNS Solo. "Syaratnya mudah, pokoknya sudah kerja jadi guru. Saya pilih PLB karena jarang yang mau ambil kuliah ini," ujarnya.

Diuji

Mendalami pendidikan guru untuk anak-anak luar biasa menjadi pengalaman yang mengubah orientasi hidup Mardhan selanjutnya. Mardhan, yang diminta menjadi dosen di Universitas Haluoleo, dan Hartati jadi guru di SD di lingkungan kampus suaminya berusaha keras menyisihkan gaji mereka untuk mewujudkan mimpi mendirikan SLB di Kendari.

Komitmen Mardhan kepada anak-anak yang tersisihkan dari layanan pendidikan pemerintah itu tak semulus yang dia bayangkan. Ketika hendak mengurus perizinan mendirikan Yayasan Mandara tahun 1990, niatnya itu sempat teruji. Untuk mendirikan yayasan harus ada uang di bank minimal Rp 5 juta sebagai modal dasar, sedangkan tabungannya hanya Rp 1 juta. Selain itu, harus ada jaminan guru yang mengajar bertahan 10 tahun di sekolah ini.

Saat mereka mencari dukungan dari para kenalan, lagi-lagi niat ini sempat diragukan. Bahkan, Mardhan disarankan mendirikan sekolah umum yang keuntungan finansialnya jelas.

"Tapi, saya tetap teguh karena yakin ini panggilan hati nurani. Syukur, niat saya itu dipahami dan diberi kemudahan," ujarnya.

Ia lalu mencari anak-anak cacat untuk disekolahkan secara gratis. Namun, tawaran itu belum tentu disambut baik oleh keluarga dengan anak cacat. Pada tiga tahun pertama hanya tiga anak penyandang tunanetra yang mau bersekolah dan tinggal bersamanya. Semua anggota keluarga Mardhan dilibatkan untuk mengajari para penyandang tunanetra ini.

Masyarakat sadar

Tiga siswa pertamanya itu kemudian bisa mandiri. Labai (30), yang hanya menyelesaikan SDLB Mandara, mampu mencari uang dari keahlian memijat yang dipelajarinya saat dibiayai Mardhan ikut kursus pijat di Yayasan Wyata Guna Bandung. Sukirman (27), penyandang tunanetra, bisa menyelesaikan pendidikan di madrasah aliyah di Manado. Ia pun mandiri dari hasil memijat. Adapun Tulus Hidayat (25), penyandang tunanetra, membentuk perkumpulan musik karena bakatnya menyanyi dan bermain gitar.

Ada pula anak penyandang tunanetra yang bisa menyelesaikan kuliah, lalu menjadi guru bimbingan dan konseling di SMP Negeri 1 Kendari sekaligus guru Pendidikan Kewarganegaraan di SD Universitas Haluoleo. Kemandirian anak berkebutuhan khusus yang menimba ilmu di SLB Mandara membuat mata masyarakat terbuka.

Pemerintah daerah pun menyadari kenyataan ini dan memberi kesempatan anak cacat dari SLB Mandara mewakili daerah tampil di kejuaraan daerah dan nasional bagi anak berkebutuhan khusus. Para siswa SLB Mandara mampu membuktikan bahwa mereka punya potensi. Ada yang menang dalam lomba mengarang, menggambar, lari, dan merawat diri pada tingkat nasional.

"Saya ikutkan anak-anak jika ada lomba, untuk menambah rasa percaya diri dan membuka wawasan mereka. Ketika mereka menyadari ada penyandang cacat yang bisa jadi profesor, anak-anak jadi berani bercita-cita setinggi mungkin," katanya.

Awalnya, pembelajaran siswa SLB Mandara berlangsung di kelas kosong di SD Universitas Haluoleo. Seorang guru lulusan PLB yang tinggal di rumah Mardhan mengajar anak-anak ini. Hartati yang menjadi kepala sekolah sesekali ikut membantu.

Mulai tahun ketiga SLB Mandara berjalan, keluarga yang punya anak cacat terpancing mengirim anak mereka ke sekolah. Beruntung, saat murid bertambah, guru-guru SD mau membantu, dari mengajar hingga membantu anak penyandang tunagrahita yang tak bisa mengurus diri.

"Anak-anak ini belum banyak yang menyentuh. Saya sering mengistilahkan, jangankan dipandang dua mata, sebelah mata pun enggak dipandang. Tapi, kami jalan terus, sampai ada dukungan pemerintah. Nanti jika pensiun, saya dan Bapak bisa lebih konsentrasi mengurusi SLB Mandara yang sudah punya siswa SMPLB," kata Hartati.

Kedua SLB Mandara di Kendari semakin hidup dengan semangat anak-anak yang bertekad belajar mandiri serta kesadaran orangtua yang tak lagi menganggap anak cacat sebagai "aib" atau tak berguna. Para guru tak keberatan menjadi pengojek, menjemput dan mengantar anak agar bisa belajar setiap hari di sekolah.

Mardhan dan Hartati tersenyum melihat anak-anak ini optimistis menatap masa depan dengan bekal ilmu dan keterampilan yang mereka perjuangkan. http://cetak.kompas.com/sosok (Senin, 2 Juni 2008)

Tidak ada komentar: