
Oleh Rinny Soegiyoharto
Mencermati perilaku remaja yang akhir-akhir ini ramai diekspos berbagai media, arahnya berujung pada kebebasan. Bebas berpikir, bersikap, merasa, berkehendak, melakukan berbagai hal, termasuk bebas bergaul.
Seorang remaja puteri belia berusia 16 tahun, misalnya, yang kabur dari rumah karena ditentang oleh orangtua berpacaran dengan kekasihnya yang 18 tahun lebih tua. Sebuah bukti bahwa kebebasan menjadi acuan utamanya, yakni bebas berpacaran tanpa tentangan.
Bebas yang diartikan sebagai tanpa penghalang, tanpa hambatan, jauh dari konflik, dan sebagainya. Namun, acuan norma dan nilai-nilai sebagai wujud pertanggungjawaban seseorang terhadap kebebasan yang dimilikinya, belum terlihat nyata. Ataukah mungkin memang tidak dibutuhkan lagi?
Beberapa kasus yang ceritanya saya peroleh dari seorang kolega, cukup mencengangkan, meski tidak terlalu mengejutkan sebenarnya. Remaja putera dan puteri usia sekitar 13 hingga 15 tahun melakukan adegan sangat mesra di area sekolah tanpa rasa sungkan atau malu disaksikan kawan- kawannya.
Ada pula remaja putera yang membawa kabur remaja puteri dari rumahnya dan dari sekolah demi menikmati rasa bebas yang dimaknai sebagai bebas melakukan hubungan seks. Makna lain kebebasan yang tak kalah sepi dari berita yakni fenomena jual keperawanan yang dipraktikkan remaja puteri di wilayah tertentu, dengan berbagai alasan dan tujuan.
Intinya, tetap pada kebebasan memilih sikap dan perilaku, bebas mendapatkan apa yang diinginkan. Kebebasan mutlak yang tidak membutuhkan persetujuan dari pihak mana pun, termasuk dari orangtua sendiri. Kebebasan yang diinginkan remaja.
Mengapa Ingin Bebas?
Penelitian-penelitian di wilayah Psikologi Perkembangan melahirkan beberapa kesimpulan mengenai karakter remaja. Sebagai salah satu fase dalam perkembangan manusia, remaja disebut-sebut merupakan fase yang paling bergejolak.
Tidak hanya secara fisik, gejolak yang paling sering tampil adalah gejolak perilaku, yang didorong oleh pikiran, emosi dan jiwanya. Ditinjau dari segi usia dan kematangan, remaja bukan lagi anak-anak, tapi ia juga belum mencapai dewasa. Keadaan atau statusnya saat ini adalah interim, bersifat sementara karena memang hanya dialami setiap orang pada kurun usia belasan tahun.
Saat itu terjadi fluktuasi emosi dan percepatan perkembangan secara fisik. Banyak kejutan-kejutan dialami dalam fase remaja. Tubuh yang memuai, bertambah tinggi atau lebih berisi, mulai berlekuk pada tempat-tempat tertentu; berfungsinya organ seksual sekunder seperti tumbuh bulu, kumis, payudara dan sebagainya, mengalami menstruasi dan mimpi erotik; juga perubahan ambitus suara.
Gejolak emosi dan jiwa remaja menimbulkan hasrat pemenuhan secara impulsif. Saringannya belum kuat, sedang dibentuk dan harus dibantu dalam pembentukannya. Siapa lagi yang dapat membantu kalau bukan orangtua dan orang dewasa lain di seputar kehidupan remaja.
Karena konformitas terhadap teman, remaja menjadi tergantung pada saran dan pendapat teman, juga trend yang dilakukan teman sebaya. Arti teman menjadi lebih penting daripada orangtua.
Karena imaginary audience, remaja merasa dirinya yang paling penting daripada yang lain. Karena personal fabel disertai tindakan mencoba-coba, remaja merasa dirinya kuat dan tak akan terjerumus ke hal-hal negatif.
Karena ingin diperhatikan dan diakui oleh teman dan orang lain, remaja berani mengambil langkah memanipulasi kebebasan tanpa disadarinya. Remaja hampir memiliki segalanya yang ada pada manusia dewasa, tapi belum memiliki saringan kuat yang bernama tanggung jawab.
Apabila seseorang sudah memiliki pikiran-pikiran dan hubungan antarpribadi yang kompleks, perasaan serta kebutuhan sensasi dan seksual, visualisasi dan mudah mengakses fasilitas hidup untuk mengakomodasi kebutuhannya, apakah yang mendorongnya untuk memiliki semua itu secara penuh? Tentu saja kebebasan.
Membuat Saringan
Orangtua adalah hambatan, jika kebebasan yang remaja inginkan tidak terpenuhi disebabkan larangan orangtua. Lebih-lebih apabila pola pengasuhan yang terjadi di dalam keluarga didominasi oleh over protecting dan over demanding.
Tanpa sadar seringkali orangtua terlalu melindungi dan menuntut anaknya. Mengakibatkan perasaan anak terabaikan. Remaja membutuhkan konselor tempat ia dapat berkonsultasi mengenai berbagai warna kehidupan, termasuk mencurahkan isi hati.
Namun, yang terjadi orangtua lebih suka didengarkan perintahnya, alih-alih demi kebaikan anak, kendati pada dasarnya karena orangtua tidak suka didebat, tidak siap menjadi pendengar, cenderung "menerima" anak sesuai keinginannya. Saat anak mengatakan "sedang jatuh cinta", orangtua lebih senang menjawab "kamu masih kecil". Ingat, remaja sudah memiliki hampir segala hal yang dimiliki orang dewasa.
Remaja yang hanya menuntut kebebasan tanpa memikirkan ia harus mempertanggungjawabkan kebebasannya itu, artinya ia tidak cerdas. Ia belum mengerti makna kebebasan yang sesungguhnya. Bukti-bukti perilaku manusia bertanggungjawab antara lain, mematuhi kesepakatan sosial mengenai nilai-nilai insani, cerdas memahami hal-hal yang baik dan buruk, serta paham mengapa ada pemilahan itu, terampil memilih sikap dan perilaku hidup berorientasi pada masa depan untuk menjadi manusia yang sukses dan bernilai.
Cara paling efektif bagi orang dewasa untuk membantu pembentukan saringan pada remaja adalah keteladanan, keterbukaan, penerimaan, pola asuh dengan penuh cinta yang konsisten dan tanpa syarat, fokus pada kebutuhan remaja, kenali remaja dengan baik. Visualisasikan dan alirkan energi positif senantiasa, yakni pikiran-pikiran positif, dapat berupa kisah-kisah sukses dan sarat makna hidup.
Penuhi waktu-waktu remaja dengan kegiatan fisik, mental, sosial dan spiritual. Misalnya ilmu pengetahuan, olahraga, seni, budaya, kemasyarakatan, kepedulian dan empati pada sesama, peka terhadap inner-voice, mengenal dan mencintai alam, menaruh penghargaan tertinggi hanya kepada Sang Pencipta dengan sungguh-sungguh dan yakin.
Adakah waktu untuk memberikan keterampilan hidup seperti itu pada remaja? Pasti ada dan bisa. Penulis adalah Pengurus HIMPSI Jaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar