Tampilkan postingan dengan label kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurikulum. Tampilkan semua postingan

06 Agustus 2008

Kurikulum Matikan Daya Kritis dan Kreativitas Siswa

[JAKARTA] Ketiadaan konsep masa depan yang jelas menjadikan kualitas pendidikan Indonesia terus mengalami penurunan. Pergantian kurikulum yang tidak saling berkaitan, menunjukkan tidak adanya kesinambungan usaha dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

"Tidak ada benang merah kebijakan sejak menteri pendidikan Ki Hadjar Dewantara sampai sekarang," ujar pakar pendidikan Winarno Surakhmad, kepada SP, di Jakarta, Selasa (5/8).

Winarno mengemukakan, pola pendidikan nasional tidak disusun oleh kaum profesional tetapi oleh politisi. Hal itu yang membuat visi pendidikan menjadi tidak jelas dan tidak ada kontinuitas sistem guna mewujudkannya.

Perubahan kurikulum, katanya, terbukti tidak dapat mendongkrak kualitas pendidikan di Indonesia karena justru mematikan daya kritis dan kreativitas siswa. "Percuma kurikulum bagus, tapi hanya diukur oleh ujian nasional," katanya.

Akibatnya, pendidikan justru kehilangan esensinya karena tidak dapat memberi makna bagi kehidupan siswa. "Perubahan kurikulum secara terus menerus juga berdampak negatif bagi para guru. Kurikulum yang terus berganti membuat para guru sering kebingungan dalam mengaplikasikannya," tutur Winarno.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi menilai, beban kurikulum yang terlalu berat dan sedikitnya ruang bagi tumbuhnya kreativitas mengakibatkan sekolah menjadi "penjara" bagi peserta didik.

"Sistem pendidikan kita memperlakukan anak seperti robot. Anak ke sekolah harus membawa koper berisi begitu banyak buku, sampai di rumah masih harus mengerjakan PR," ucapnya.

Dia mengungkapkan, dengan beban sekolah yang demikian padat, lantas kapan anak-anak memiliki waktu untuk bermain. Padahal, katanya, bermain merupakan salah satu unsur penting dalam tumbuh kembang fisik, intelektual, dan mental anak.

Sistem pendidikan yang kaku dan mengekang seperti itu, katanya, menganggap otak anak-anak kosong, sehingga harus dijejali dengan berbagai hafalan materi pelajaran.

Karena sekolah sudah seperti penjara bagi peserta didik, lanjutnya, maka ketika guru mengumumkan siswa bisa pulang lebih awal karena guru akan rapat, reaksi spontan siswa adalah kegirangan. "Mereka bergembira karena bisa lepas sejenak dari 'penjara'," tuturnya.

Mengidap Fobia

Menurut dia, karena beban di sekolah sangat berat, tidak mengherankan bila sebagian anak pada saat ini ada yang mengidap fobia sekolah (school phobia), yang manifestasinya bisa bermacam-macam, misalnya sering merasa sakit, tidak enak badan, dan lainnya.

Seto mengingatkan, kurikulum pendidikan dasar terlalu padat, sehingga kurang memberi ruang ekspresi dan kreativitas bagi peserta didik. Padahal, pendidikan nasional bertujuan mengembangkan segenap potensi peserta didik, bukan ingin menciptakan robot.

Menurut dia, kreativitas dengan kedisiplinan seseorang bisa berjalan beriringan, karena itu keliru bila kebebasan dan kreativitas identik dengan ketidakdisiplinan.

Diingatkan, masih banyak sekolah yang diduga melanggar hak anak, bahkan tidak hanya sekolah tapi juga orangtua. "Beban kurikulum yang berat bisa dianggap melanggar hak anak. Masyarakat seharusnya proaktif memantau hal itu," katanya. [W-12]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/05/index.html

03 Juni 2008

Wajib Antikorupsi di Paramadina

Wiwin Wirwidya - Anies Baswedan, PhD

Musuh bangsa adalah tindakan korupsi. Koruptor menyebabkan negara bangkrut karena pelakunya memperkaya diri sendiri melalui tindakan meraup uang yang seharusnya milik negara atau hak rakyat. Universitas Paramadina (UPM) bukanlah lembaga pendidikan tinggi yang pertama memasukkan mata kuliah Antikorupsi ke dalam kurikulumnya. Namun, UPM merupakan universitas pertama yang memberlakukan mata kuliah Antikorupsi sebagai mata kuliah wajib bagi para mahasiswanya.

Hal tersebut dikatakan oleh Rektor UPM, Anies Baswedan, PhD, ketika menggelar jumpa wartawan pada Jumat, (30/5) lalu di kampus UPM, Mampang, Jakarta. Bersama dengan wakilnya, Ir Wijayanto, MPP dan dosen yang tergabung dalam Komite Mata Kuliah Antikorupsi UPM, Asriana Issa Sofia dan Sukron Kamil, Anies memaparkan latar belakang dan tujuan mata kuliah Antikorupsi di UPM.

"Dengan demikian, tidak ada yang dikecualikan. Semua mahasiswa harus mengambil pelajaran Antikorupsi ini sebagai salah satu mata kuliah wajib," ujar Anies. Ia juga menilai bahwa mata kuliah Antikorupsi sangat penting untuk ditanamkan di kalangan anak-anak muda, sebagai insan harapan bangsa menuju perbaikan, karena generasi mudalah kunci pemberantasan korupsi.

Hal ini, kata Anies, mengingat tingkat kompromi terhadap korupsi di Indonesia semakin tinggi akhir-akhir ini, dan semakin mengakar, bahkan telah menyentuh semua level masyarakat. Tindak korupsi bukan hanya berbicara mengenai kecurangan-kecurangan yang terjadi pada skala interaksi besar seperti banyak digembar-gemborkan media, melainkan juga berbicara mengenai tindak korupsi yang dilakukan dalam skala interaksi yang kecil. Contohnya, ketika mengurus perpanjangan SIM dan KTP. Untuk dapat mempersingkat proses pembuatan SIM atau KTP serta melewati prosedur yang singkat, tidak sedikit pihak masyarakat yang menggunakan kekuatan uang.

Selama ini, perguruan tinggi yang didirikan Dr Nurcholish Madjid itu telah berusaha memikirkan bagaimana caranya menyiapkan generasi baru yang sadar akan bahaya korupsi. Wijayanto mengatakan, selama tidak ada usaha yang kolektif dalam memerangi korupsi, maka selama itu pula pemberantasan tindak korupsi tidak akan ada hasilnya. "Selama ini, menurut penelitian, 60 persen responden mengatakan tindakan pemberantasan korupsi yang telah dilakukan terbukti tidak efektif," ungkapnya.

Kebijakan penetapan mata kuliah Antikorupsi, seperti diungkapkan oleh Wijayanto, merupakan salah satu dari rangkaian rencana kemajuan pada tahun 2008, yang dikenal dengan sebutan "2008 Initiative".

Penelitian

Dalam praktiknya nanti, Anies menjelaskan, mahasiswa akan diajak untuk membandingkan tingkat tindak korupsi di Indonesia dengan negara lainnya. Hal itu dilakukan dengan mencari tahu pengertian, dampak, faktor eksternal dan internal penyebab terjadinya tindak korupsi di negara lain. Selain itu, juga mengharuskan mahasiswa melakukan penelitian atau riset serta memberikan laporan investigasi mengenai tindak korupsi, langsung dari lapangan, tempat praktik korupsi terjadi.

Asriyana sebagai koordinator komite mata kuliah Antikorupsi UPM menambahkan, sistem pembelajarannya, selain penelitian dan teori juga akan dilengkapi dengan kuliah umum sebanyak empat kali dalam satu semester dari para ahli Antikorupsi seperti Ketua KPK, Antasari Azhar, dan para pakar, pengamat, atau praktisi ekonomi seperti Sandiaga S Uno untuk hadir sebagai dosen tamu.

"Selain itu, akan ada kunjungan ke tempat-tempat yang berhubungan dengan tindakan korupsi seperti Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini akan melengkapi setiap materi mata kuliah Antikorupsi," ujar Asri.

Tim komite mata kuliah Anti Korupsi UPM juga telah menyiapkan materi-materi yang mendalam mengenai mata kuliah Antikorupsi. Dengan tidak mengutamakan kecerdasan inteligensia melainkan kecerdasan motorik, UPM berharap dapat menciptakan mahasiswa yang memiliki sikap keras terhadap korupsi, kritis, berani memerangi korupsi dengan tindakan yang nyata.

Mata kuliah Antikorupsi akan mulai diberlakukan pada semester berjalan, khusus bagi mahasiswa semester tiga dan empat, di mana mahasiswanya dianggap telah memiliki daya kritis dan daya analisa yang cukup tinggi.

Sementara itu, guna menghindari persepsi yang salah dan sikap pesimistik dari para mahasiswa, maka mata kuliah Antikorupsi akan dirancang dengan materi yang lebih fun dan tidak monoton. Pemutaran film, debat, dan games juga akan memperlengkapi materi mata kuliah itu.

Wiwin Wirwidya Hendra

Rektor Universitas Paramadina (UPM), Anies Baswedan (kedua dari kiri) memberikan pemaparan tentang mata kuliah "Anti Korupsi" dengan didampingi tim dari Komite Mata Kuliah Anti Korupsi UPM.

Kalangan Umum

Setiap teori yang telah disusun oleh komite akan dimasukkan dalam website UPM sehingga dapat digunakan oleh kalangan umum dengan bebas. Asriyana menambahkan, materi tersebut tidak menggunakan logo atau hak cipta UPM. Hal tersebut dimaksudkan agar siapa saja dapat mempelajari materi mata kuliah Antikorupsi, terutama demi terwujudnya multiaplikasi mata kuliah Antikorupsi di banyak universitas di Indonesia, agar upaya pemberantasan korupsi melalui pendidikan tinggi dapat terlaksana dengan lebih efektif.

Di samping itu, UPM juga ingin membangun rasa optimis di kalangan mahasiswa dan generasi muda bahwa tindak korupsi di Indonesia dapat dimusnahkan. "Bila seluruh universitas memasukkan mata kuliah Antikorupsi sebagai mata kuliah wajib dan melakukan perlawanan secara berkelanjutan, maka dalam waktu sekurang-kurangnya 10 tahun ke depan, Indonesia akan terbebas dari tindak korupsi," imbuh Anies optimistis.

Sebagai awal proses pembelajaran, kuliah tersebut juga akan mengambil contoh-contoh korupsi sederhana yang seringkali dilakukan mahasiswa dalam lingkungan kampus. Contohnya, terlambat masuk ke kelas, yang termasuk dalam kategori betrayal of trust.

"Korupsi dapat terjadi karena adanya kemauan dan kesempatan untuk melakukan korupsi itu sendiri. Kemauan atau willingness berbicara mengenai akhlak seseorang dan etika dari masing-masing pribadi, sedangkan kesempatan atau opportunity bergantung pada sistem," kata Anies.[WWH/ R-8]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/03/index.html

Pendidikan Tinggi Harus Bisa Berikan Solusi

Perguruan tinggi harus mampu menjadi pusat-pusat keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan solusi pada beragam persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan. Untuk mewujudkan keunggulan itu, perguruan tinggi perlu serius mendorong semua komponen bekerja maksimal.

"Yang terpenting, seberapa besar kesungguhan untuk meningkatkan kualitas internal di setiap perguruan tinggi (PT), yang dimulai dari dosen hingga lembaganya," kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal dalam seminar Perspektif Standar Mutu Perguruan Tinggi Indonesia Tahun 2020, yang digelar Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Negeri Jakarta, Senin (2/6).

Tantangan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia memang cukup berat di tengah minimnya anggaran yang disediakan pemerintah. Rata-rata dunia mengalokasikan 1 persen dari produk domestik bruto, sedangkan di Indonesia masih di bawah 1 persen. Anggaran untuk perguruan tinggi tahun ini senilai Rp 14 triliun, tetapi Rp 5,6 triliun di antaranya dialokasikan untuk gaji.

Pusat transfer ilmu

Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat mengatakan, perguruan tinggi harus mampu menjadi pusat transfer ilmu pengetahuan dan penelitian, pembangunan karakter, konservasi dan kreasi budaya. Karena itu, peningkatan kualitas perguruan tinggi diarahkan untuk mampu membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan minimal sesuai kurikulum.

Rektor Institut Pertanian Bogor Herry Suhardiyanto menyebutkan, di tengah daya saing bangsa yang terpuruk, perguruan tinggi menjadi tumpuan untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya siang tinggi dalam persaingan global. Untuk itu, perguruan tinggi harus terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tetap relevan dengan kebutuhan sosial ekonomi masyarakat dan negara.

"Perguruan tinggi ditantang untuk mampu mengkreasi pengetahuan, mengurangi ketergantungan pada pihak asing, serta pengembangan penelitian. Pusat keunggulan perguruan tinggi itu bisa dikembangkan dengan fokus pada penelitian-penelitian unggul yang dikembangkan," kata Herry. (ELN)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/03/00525927/pt.harus.bisa.berikan.solusi

01 Juni 2008

Anies Baswedan tentang Kuliah Antikorupsi di Universitas Paramadina - Mahasiswa Wajib Menulis Riset atau Investigative Report

JP Minggu, 01 Juni 2008 :: Dalam kacamata Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan, korupsi disebabkan ada willingness and opportunity to corrupt. Itulah yang mendasari Universitas Paramadina mewajibkan kuliah antikorupsi.

Apa yang ingin dicapai dengan mata kuliah antikorupsi?

Tentu upaya untuk mencegah korupsi. Selama ini, masalah korupsi banyak dibahas, tetapi masih sulit diberantas. Mata kuliah ini adalah alternatif yang ditawarkan Universitas Paramadina.

Bagaimana kaitannya mata kuliah itu dengan pencegahan korupsi?

Korupsi terjadi karena ada willingness and opportunity to corrupt (kemauan dan kesempatan untuk korupsi). Willingness terkait dengan etika masing-masing individu. Sementara itu, opportunity menyangkut sistem.

Kalau ingin bebas korupsi, etika dan sistem harus kita bangun secara simultan. Korupsi di Indonesia bisa diberantas dengan metode yang benar yang dijalankan secara konsisten dan terus-menerus.

Universitas Paramadina bukan yang pertama mengajarkan kuliah itu.

Ya. Di perguruan tinggi lain, ada yang memberikan mata kuliah antikorupsi. Namun, sifatnya pilihan. Nah, di sini merupakan mata kuliah yang wajib diikuti setiap mahasiswa. Tidak ada yang dikecualikan. Jadi, setara dengan MKDU (mata kuliah dasar umum) yang lain. Sifatnya fundamental.

Mata kuliah itu juga multidiscipline karena korupsi tidak hanya masalah akhlak, tetapi juga politik. Sekarang kita coba untuk berpikir outside the box, tidak terikat dengan struktur sehingga ada kemajuan. Dari kampus tersebut, kita benar-benar ingin membangun semangat memberantas korupsi.

Adakah hal khusus yang diajarkan?

Mahasiswa diwajibkan menulis riset atau investigative report tentang kasus korupsi di sekitar kita. Misalnya, dalam pembuatan KTP atau SIM. Atau mengamati pungli-pungli di jalan. Kita coba untuk melihat korupsi yang kecil-kecil dulu, tapi impact-nya begitu terasa.

Seperti evaluasi terhadap mata kuliah itu?

Kami sudah menetapkan kebijakan, setelah berjalan selama setahun, akan ditilik, dievaluasi, dan disempurnakan. Tahun depan, Universitas Paramadina akan membuat seluruh materi kuliah sebagai good public yang bisa diakses secara online melalui website universitas secara gratis.

Ada kerja sama dengan KPK?

Tentu ada, meski pendidikan ini lebih ke pencegahan dan KPK pada pemberantasan. Pimpinan KPK akan jadi salah satu yang akan memberikan kuliah-kuliah umum. Misalnya, Pak Antasari Azhar (ketua KPK, Red). Juga dengan praktisi lain, seperti Didik J. Rachbini, Denny Indrayana, dan Azyumardi Azra.

Selain mengisi kuliah, mereka juga akan menjadi penasihat dalam menyusun materi kuliah. (fal/pri)

04 Mei 2008

Bermain sambil Mengenal Sains

foto-foto:stefanus yugo H







Tak dimungkiri, hingga saat ini pelajaran sains dinilai masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian kalangan pelajar, khususnya para pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia. Sains yang meliputi, kimia, fisika, dan biologi dianggap pelajaran yang paling membosankan.

Penilaian negatif terhadap sains tersebut seakan-akan runtuh, ketika melihat puluhan siswi SMA justru tertawa riang mempelajari Sains di kawasan wisata Pasir Mukti di wilayah Citereup, Bogor, Rabu dan Kamis (23-24/4) lalu. Sebanyak 45 perwakilan pelajar SMA dari Jakarta, Bekasi, Bogor, hingga Yogyakarta tampak sangat antusias mengikuti L'Oreal Girl Science Camp 2008.

Pada kesempatan itu, L'Oreal menghadirkan berbagai kegiatan team-building outbond permainan sains (Amazing Race) yang mengulas teori sains di balik permainan sains. Sains yang menjadi momok menakutkan ternyata dapat menjadi permainan yang mengasyikkan. "Saya jadi senang dan ingin belajar lebih jauh tentang sains, pertamanya mengenal sains itu susah, tapi kalau dikemas jadi permainan jadi gampang dimengerti, jadi orang-orang nggak stres," kata Evi Rahmayanti, pelajar kelas X SMA Negeri 1 Bogor.

Evi mengatakan, motivasi mengikuti kegiatan sains itu adalah untuk mempraktikkan penelitiannya tentang biogas reaktor. Sebelum mengikuti kegiatan tersebut, Evi bersama dua rekannya mengadakan penelitian tentang Pemanfaatan Portable Biogas Reactor, dan terpilih sebagai finalis L'Oreal Girl Science 2008. "Supaya teman-teman yang lain dan masyarakat bisa lebih tahu kalau biogas bisa menghasilkan reaktor," ujarnya.

Senada hal tersebut, Irna Octaviana, siswi SMA Negeri 2 Bekasi mengatakan, melalui kegiatan sains itu ia mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. "Kalau saya dari dulu memang suka biologi, dan kimia, di sini semuanya diaplikasikan," katanya.

Para peserta diajak melakukan permainan-permainan seperti Spoon on The Nose, dan Magic Flower. Pada permainan Spoon On The Nose, peserta dipaksa berjalan membawa sendok yang ditempelkan di hidung. Peserta yang menjatuhkan sendok dinyatakan gagal. Permainan ini mengajarkan, bahwa udara dapat memberikan tekanan yang dapat membuat sendok tidak jatuh. Magic Flower, merupakan sebuah permainan membuat warna dari soda, dan berbagai cairan kimia.

Sementara itu, Corporate Communications and Public Relation Manager L'Oreal Indonesia, Richele Maramis mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari program L'Oreal UNESCO for Women in Science didukung oleh komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO dengan tujuan mempopulerkan sains di kalangan remaja putri.

Melalui program tersebut, lanjut Richele, diharapkan siswi SMU mendapatkan inspirasi dan motivasi dari para role model positif yang telah berprestasi di dunia ilmiah di Indonesia, melalui berbagai penelitian penting yang akan bermanfaat bagi bangsa dan negara pada masa mendatang. [SYH/N-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/04/index.html

03 Mei 2008

Nuklir Masuk Kurikulum SMA. Bantuan Pendirian Laboratorium bagi SMA

Sabtu, 3 Mei 2008, Jakarta, Kompas - Teknologi nuklir kini akan diaplikasikan di berbagai sektor. Namun, hal ini belum banyak diketahui masyarakat. Untuk menyosialisasikan nuklir kepada generasi muda, Badan Tenaga Nuklir Nasional bersama Departemen Pendidikan Nasional menyusun kurikulum bermuatan pengetahuan nuklir.

"Dengan adanya penguasaan pengetahuan tentang nuklir oleh generasi muda sejak dini, di kemudian hari mereka akan dapat arif dan bijaksana dalam mengembangkan dan menerapkan teknologi itu," ujar Taswanda Taryo, Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Batan, di Jakarta, Jumat (2/5).

Dalam penyusunan kurikulum tersebut, ujar Eko Madi, Kepala Subbidang Diseminasi Iptek Nuklir Energi, akan dibentuk tim yang terdiri atas para pakar dari Batan dan Depdiknas. Tim ini akan membahas materi akademis, kurikulum, dan pengambilan keputusan.

Menurut Eko yang juga penanggung jawab program penyusunan kurikulum, materi tentang nuklir masuk pelajaran Fisika, Kimia, dan Biologi. Nantinya, pada pelajaran Fisika antara lain akan diajarkan tentang teknologi reaktor nuklir, perunutan dan memperpendek usia limbah bahan radioaktif.

Pada pelajaran Biologi akan diajarkan efek radiasi bagi kesehatan, mutasi gen, dan pengawetan makanan dengan teknik iradiasi (penyinaran). Pada bidang Kimia di antaranya akan diajarkan pengetahuan tentang vulkanisasi lateks untuk menguatkan bahan karet.

Pada tahun 2009 penyusunan kurikulum tersebut ditargetkan telah menghasilkan draf untuk masuk kurikulum pendidikan SMA tingkat nasional.

Lokakarya guru

Sosialisasi pengetahuan nuklir, lanjut Eko, sebenarnya telah dirintis sejak tahun 2005 dengan menyelenggarakan lokakarya bagi guru SMA di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Kudus, dan Jepara.

Lokakarya ini meliputi pemahaman teori dan praktik. "Mereka diajarkan pula cara menghitung aktivitas radiasi dan upaya penyelamatan terhadap bahan radioaktif," ujar Eko.

Bantuan Batan

Edukasi publik lewat pendidikan pada akhir April lalu juga dilakukan Batan di 14 SMA di Jepara. Sasaran program orientasi itu adalah para guru dan siswa.

Di tiga daerah di Jepara, ungkap Eko, akan dibangun Pusat Informasi Edukasi Nuklir dilengkapi dengan laboratorium edukasi. Peralatan untuk laboratorium ini akan diberikan Batan sebagai hibah.

Dalam laboratorium itu antara lain akan diajarkan pengenalan sumber radiasi, alat keselamatan kerja terhadap radiasi, pengukuran aktivitas radiasi, dekontaminasi, dan pencarian sumber radioaktif di lokasi tertentu.

Pengetahuan dan pelatihan tentang nuklir ini juga dapat diikuti oleh mahasiswa dan LSM.

Di luar sektor pendidikan, sosialisasi aplikasi nuklir juga dilakukan dengan memberi bantuan secara gratis benih padi dan pakan ternak hasil iradiasi kepada petani. (YUN)

03 April 2008

Wayang Thengul Bojonegoro Masuk Kurikulum SMP

Kamis, 03 Apr 2008
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kerajinan membuat wayang thengul akan masuk kurikulum pada mata pelajaran ketrampilan dan kesenian (KTK) Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bojonegoro. Materi kesenian lokasi ini, dilakukan untuk melestarikan para seniman perajin wayang thengul di kabupaten ini.

Realisasi pemberian mata pelajaran untuk siswa SMP ini, akan dilaksanakan pada semester genap tahun 2008, ini tepatnya bulan Mei mendatang.

Dinas Pariwisata Bojonegoro dan Dinas Pendidikan Bojonegoro, telah menyepakati kerjasama itu. “Sudah disetujui dan tinggal realisasinya saja,” tegas Imam Wahyu Santoso, Kepala Subdinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata Bojonegoro, di kantornya, Kamis (3/4).

Untuk mendukung program pendidikan bagi penguatan budaya lokal itu, pihak Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Bojonegoro, akan melibatkan sejumlah seniman pembuat wayang thengul dan dalang wayang thengul di kabupaten ini. Mereka akan menjadi instruktur langsung untuk mengajar mata pelajarana bagi siswa-siswa SMP di Bojonegoro.

Di Kabupaten Bojonegoro, lanjut Imam, selama ini, sudah jarang sekali ditemukan seniman pembuat wayang thengul. Kini sulit ditemukan para seniman kesenian lokal ini, setelah sejumlah seniman wayang thengul meninggal dunia. “Ini bagian dari upaya melestarikan kesenian wayang thengul dari kepunahan,” tandasnya.

Pihak Dinas Pariwisata Bojonegoro, dalam dua tahun terakhir menyebutkan, kesenian wayang thengul akan menjadi salah satu unggulan kesenian di Jawa Timur. Tetapi, kondisi ini kadi ironi, mengingat di kabupaten ini, jumlah dalang dan seniman pembuat wayang thengul mulai langka.

Keprihatinan ini, juga dirasakan sejumlah dalang wayang thengul di Bojonegoro. Apalagi, dari tahun ke tahun, jumlah dalangnya yang terus berkurang. Sekarang ini, tercatat hanya sekitar sembilan dalang wayang thengul. “Yang lainnya, dalang wayang thengul merangkap menjadi dalang wayang kulit. Ini bagian dari keprihatinan saya,” tegas Mardi Marto Degleg, salah satu dalang wayang thengul tersohor di Bojonegoro. sujatmiko