06 Juni 2008

Tradisi - Tak Dihargai di Negeri Sendiri

Lemah-gemulai tari legong keraton yang dibawakan Laksmi, Monique, dan Tika di depan stan Indonesia dalam Moskwa International Tours and Travel atau MITT, pertengahan Maret lalu. Mendengar suara musik tradisional Bali, pengunjung yang melintasi stan itu menghentikan langkah. Ada yang sekadar melirik, ada yang mengeluarkan kamera dan mengabadikan tarian itu.

Tari tradisional menjadi salah satu daya tarik promosi pariwisata daripada sekadar pidato, membagikan brosur, dan memutar video keelokan daerah tujuan wisata. Tak hanya di MITT, pergelaran tari tradisional itu pun ditampilkan kembali di Renaissance Hotel, Moskwa.

Personel penari bertambah dengan Henny, Lutfia, dan Riyanti. Tarian yang disajikan juga makin bervariasi, ada tari renggong manis (Betawi), tor-tor (Sumatera Utara), dan bajidor kahot (Jawa Barat).

Sebagian tarian ini juga ditampilkan di Museum of Archeology Sofia, Bulgaria, pertengahan Maret lalu. Semua itu menjadi bagian dari peluncuran Visit Indonesia 2008 di kawasan Eropa Timur.

Duta budaya

Para penari bisalah dibilang sebagai salah satu duta budaya Indonesia di hadapan publik dunia. Padahal mereka "hanya" berawal dari sanggar-sanggar kecil seperti di Pusat Kesenian Wilayah Jakarta Selatan.

Dalam keterbatasan ruang, sekitar 30 perempuan berlatih keras menarikan japin Riau. Butir-butir keringat mengucur dari dahi hingga membasahi baju mereka. Keterbatasan ruang ini pantas disebutkan.

Fasilitas seperti tape recorder untuk memasang musik pengiring tarian pun harus dibawa sendiri dan dipergunakan secara bergantian antara penari "senior" dan penari "yunior".

Kecintaan pada menari dan tarian tradisionallah yang membuat mereka tetap berlatih meski plafon sudut ruangan sudah jebol akibat saluran air di kamar mandi lantai dua bocor. Di sudut ruang lainnya, sesekali tikus terlihat berlalu-lalang. "Beginilah tempat latihan kami. Biar begitu, kami bukan penari cabutan, tetapi penari profesional," kata Haryati Abelam, pimpinan sanggar tari itu.

Rini, salah seorang penari yang sudah berlatih sejak 1980-an, mengatakan, "Kalau kami berpindah-pindah tempat latihan, bukan karena bosan. Tapi biasanya disuruh pindah oleh pengelola gedung karena ruangan tak layak dipakai lagi."

Mereka pun terdorong kesadaran untuk melestarikan budaya daerah yang semakin ditelan perkembangan zaman. Maka, kesibukan pentas di dalam dan luar negeri menjadi penyemangat untuk semakin profesional.

Siapa sangka, sebagai duta wisata mereka harus berjuang sendiri tanpa subsidi dalam melestarikan budaya Indonesia. Ironis memang. (OSA)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/06/00534412/tak.dihargai.di.negeri.sendiri

Tidak ada komentar: