Misalnya, siswa cowok yang berperawakan kecil dan tak punya teman diolok-olok dengan sebutan banci. Akibatnya, dia dikucilkan teman-teman. Bahkan enggak cuma itu, dia lalu dijadikan obyek kekerasan oleh teman atau kakak kelas sampai babak belur. Mungkin di antara kalian ada yang pernah ngalamin.
Simak kisah Vincent di friendster MuDA. Dia mengaku pernah menjadi korban bullying karena sifatnya yang enggak suka kekerasan. Dia dibilang banci. Di kelas dia diasingkan dan enggak ada satu pun yang mau berteman dengannya.
Ada lagi siswa yang takut ke pusat perbelanjaan atau tempat keramaian karena takut bertemu kakak kelas. Kalau "ketahuan" kakak kelas, bisa-bisa besoknya dia disiksa tanpa ampun. Kalau sudah begini, sekolah jadi tempat yang enggak menyenangkan, bahkan menakutkan.
Masih banyak bentuk bullying lain, termasuk electronic bullying di dunia maya. Yang lebih memprihatinkan, bullying nyaris sudah terjadi di banyak sekolah selama bertahun-tahun. Seperti itukah wajah dunia pendidikan kita?
Fakta ini jelas memprihatinkan. Tak cuma saat bullying terjadi, tapi karena dampaknya bisa sangat luar biasa terutama bagi korban. Dampak itu bisa jangka pendek, bahkan seumur hidup. Jika mata rantai bullying tak diputus, mau jadi apa generasi muda Indonesia?
Penelitian yang dilakukan psikolog dari Universitas Indonesia, Ratna Djuwita, bersama para mahasiswa di sejumlah sekolah di Jakarta tahun 2005-2006 menyebutkan, seorang siswa perempuan yang belajar di sekolah khusus perempuan sampai nyaris bunuh diri karena tak tahan menghadapi teror para senior. Fakta ini jelas mengundang keprihatinan mendalam.
Sayangnya, karena bullying sudah terjadi sekian lama dan masih terus terjadi, sebagian orang malah menganggapnya sebagai tradisi. Banyak orangtua pesimistis, bullying bisa hilang. Setidaknya itu MuDA dengar dalam seminar From Bully to Buddies yang diselenggarakan Parents Teachers Association, Madania Progressive Indonesia School.
"Bisa dikurangi saja sudah bagus," kata Pak Jaya, orangtua (ortu) murid di Madania. Sebagai alumnus sebuah sekolah di kawasan Jakarta Selatan yang dikenal dekat dengan tradisi bullying dari senior kepada yunior, Pak Jaya pesimistis bullying bisa dihapus.
Komentar senada juga muncul dari ortu lain, meski ada yang optimistis bullying bisa dihapus asal ada kemauan dan usaha keras dari berbagai pihak. Bahkan bukannya enggak mungkin, si pelaku bullying yang semula menindas berubah menjadi kawan bagi korban.
Lawan jadi teman
Tapi gimana caranya mengubah perilaku menindas menjadi kawan? Memangnya gampang? Memangnya bisa? Menurut Ratna, mengubah perilaku menindas menjadi teman bukan hal mustahil.
Apalagi, tambahnya, bullying tak selalu terjadi di setiap sekolah seperti yang dikatakan dan dikhawatirkan orang. Jadi, peluang untuk menghilangkan bullying yang sudah menjadi budaya cukup besar.
"Kita harus tanamkan bahwa setiap anak punya hak untuk sekolah dengan aman dan gembira. Kalau di sekolah ketemu kakak kelas saja enggak berani, ke mal enggak berani, ini berarti ada yang enggak benar," katanya.
Ada dua faktor penyebab bullying, yaitu kepribadian dan situasional.
"Faktor kepribadian terjadi karena pengaruh dari pola asuh ortu terhadap anak. Pola asuh ortu yang otoriter terbukti mengakibatkan anak memiliki peluang menjadi pelaku bullying," kata Ratna.
Tak cuma itu, tayangan televisi seperti sinetron rupanya juga membentuk skema kognitif pada remaja yang mengakibatkan mereka cenderung menjadi pelaku bullying. Waduh....
Sementara faktor situasional, sebagai anak muda, kecenderungan untuk mengikuti perilaku kelompok memang cukup tinggi. Apalagi jika sebuah sekolah nyata-nyata memiliki tradisi bullying. Tradisi itu akan menurun terus kepada para yunior.
Upaya yang harus dilakukan untuk mengubah si penindas menjadi teman harus dimulai dari sekolah. Persoalan bullying, kata Ratna, enggak bisa diselesaikan cuma dengan membekali siswa belajar ilmu bela diri untuk mempertahankan diri atau menerima perilaku bullying apa adanya.
"Sekolah yang 'mengerikan' harus bisa menjadi tempat yang menyenangkan. Di sini guru berperan penting untuk menciptakan suasana itu. Kalau cara gurunya mengajar aja udah enggak benar, bisa bikin frustrasi," kata Ratna.
Sebaliknya, jika sekolah sudah melakukan upaya menghapus bullying, ortu juga mesti mengimbangi dengan memberikan pendidikan yang baik di rumah. "Jangan sampai di sekolah sudah dididik dengan benar, di rumah mendapat perlakuan keras dari ortu. Ini namanya sama saja," katanya.
Jika kedua faktor itu bisa dijalankan seirama, ditambah bekal pendidikan agama, budi pekerti, dan pendidikan emosional yang baik, si penindas cuma akan jadi cerita lama. Di sekolah akan berkibar "bendera putih" untuk semuanya. Ayo dong kibarkan "bendera putih" di sekolah kita.... (DWI AS SETIANINGSIH)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/06/03204191/kibarkan.bendera.putih

Tidak ada komentar:
Posting Komentar