Sebagai rakyat yang sudah hampir 40 tahun hidup di Indonesia, baru sekarang saya mengalami kebijakan pendidikan yang paling buruk, tak masuk akal, dan begitu sewenang-wenang menggunakan kekuasaan mengorbankan mereka yang paling tidak berdaya, yaitu murid dan guru-guru.
Saya menyekolahkan anak dengan maksud membuatnya lebih pandai, lebih luas pengetahuan, dan seterusnya. Anak saya bersama teman-temannya adalah anak yang bersekolah normal, tidak membolos, mengerjakan tugas-tugas dengan baik. Setahu saya, guru-guru di sekolahnya (SMP negeri di pinggiran Bogor) juga bekerja dengan baik. Mengikuti kurikulum dengan menggunakan fasilitas yang ada semaksimal mungkin. Namun, kebijakan ujian nasional (UN) yang tidak dapat dipahami dasar pembenarannya oleh semua yang bergerak di bidang pendidikan itu telah menghasilkan satu perkara.
Anak-anak didik menjadi stres dan saya, orangtuanya, juga stres. Saya sangat yakin para guru dan kepala sekolah tidak kurang stresnya karena diperlakukan seperti kriminal yang siap "dipidanakan" karena terpaksa "curang" membantu anak murid untuk lulus UN karena mereka tahu persis kondisi orangtua masing-masing murid, apalagi yang sudah bisa sekolah saja sudah bersyukur.
Saya meminta setiap calon presiden mendatang agar mengumumkan dengan jelas program kebijakan pendidikan yang akan diterapkan bila calon tersebut menang. Saya tidak mau terjebak, teraniaya, dan dikecewakan oleh menteri yang diangkat presiden terpilih. Saat ini saya berada pada posisi tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong anak saya yang sudah tiga tahun bersekolah dengan baik dan benar, tetapi try out UN-nya sekali pun belum pernah lulus.
Sekarang saya sudah pasrah, juga menyemangati anak saya dan beberapa orangtua murid yang lain untuk tidak terlalu panik lagi. Saya katakan, ijazah pemerintah yang sewenang-wenang bukan segala-galanya. Sebagai orangtua murid, saya sekarang aktif mencari alternatif untuk mencerdaskan anak di luar jalur sekolah, untuk mempersiapkan bila anak tidak lulus UN atau bahkan bila lulus UN sekali pun.
Saya tidak mau stres lagi pada masa depan karena harus tunduk dengan pemerintah yang sewenang-wenang seperti sekarang ini. Banyak cara yang bisa dipakai dalam mencerdaskan bangsa yang masuk akal dan tidak menjebak. Narulita Dewi Jalan Nangka Nomor 328, Cinere, Depok

Tidak ada komentar:
Posting Komentar