18 Mei 2008

Ade Pujiati , Sekolah di Teras Rumah

Republika, Minggu, 18 Mei 2008 - Ketika ada yang maju ke depan kelas, mereka pun serempak menyemangati. ''Yo yo yo, semangat ya.'' Kedua tangan mereka pun digerak-gerakkan ke depan, seperi gerakan mendorong, sata mengucapkan kalimat penyemangat itu.

Ini adalah salah satu cara agar mereka tidak minder. Disoraki teman-teman ketika sedang maju ke depan kelas adalah hal yang membuat mereka tidak percaya diri. Difasilitasi oleh guru mereka, mereka pun membuat kesepatan untuk tidak lagi menyoraki teman yang maju ke depan teras.

Ya, ke depan teras. Bukan ke depan kelas. Soalnya, mereka tidak sedang belajar di kelas, melainkan di teras rumah. Sudah sekitar delapan bulan ini mereka belajar di teras. Kursi dijejer satu-satu menghadap ke sebuah papan tulis yang diletakkan di dekat pintu masuk. Kain spanduk dibentangkan di bagian luar teras sebagai pembatas pandangan dari jalanan. Di spanduk itulah tertera tulisan yang menunjukkan identitas lembaga pendidikan ini: SMP Gratis Ibu Pertiwi.

Seperti namanya, tak ada pungutan yang dibebankan kepada peserta didik. Pun tak ada kewajiban berpakaian seragam. Bahkan, buku pelajaran dipinjamkan yang boleh dibawa pulang ke rumah. Anak-anak itu memang berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang beruntung. ''Awalnya ada 27 anak. Tapi, seleksi alam, ada yang malas, tak ada motivasi. Sekarang tinggal 15 anak,'' kata Ade Pujiati, pendiri dan pengelola sekolah gratis tersebut.

Anak-anak itu bukan korban gusuran. Mereka tidak sedang belajar di sekolah darurat, misalnya, karena sekolah mereka roboh akibat termakan usia atau karena bencana alam. Lembaga pendidikan yang berada di bilangan Perdatam, Jakarta Selatan, ini adalah sebuah SMP Terbuka yang menginduk ke SMPN 67 Jakarta. SMPN inilah yang mengeluarkan rapor dan ijazah untuk mereka. Seperti umumnya sekolah, di lembaga pendidikan ini belajar mengajar diselenggarakan setiap hari, dari pukul 13.00 - 17.00.

Marah


Andai saja Ade Pujiati tak dongkol terhadap sekolah yang dikelola pemerintah, mungkin saja 15 anak-anak dari keluarga kurang mampu itu tetaplah putus sekolah. Kedongkolan itu terjadi tiga tahun lalu. Kala itu, 2005, ia menyekolahkan anak asuhnya di sebuah sekolah dasar negeri.

Waktu itu, kata dia, pemerintah selalu menyatakan sekolah gratis. Kenyataan yang ditemuinya, muncul pungutan-pungutan. Ada sedekah mingguan yang wajib. Bukan tak mau sedekah, tapi tak senang karena diwajibkan. Tak hanya itu kedongkolan Ade. Dia pun merasa tidak puas dengan cara yang mewajibkan siswa membeli buku pelajaran di sekolah. ''Saya bilang, saya mau beli buku di luar (sekolah), tapi dijawab, itu tidak dijual di luar.''

Belakangan dia menyadari, mungkin karena sering protes, anak asuhnya mendapat perlakuan yang dinilainya tak wajar di sekolah. ''Anak di-sebelin sampai nangis. Saya pikir, ya udah, saya buat sekolah gratis,'' ujar dia. Ia ingin menampung anak-anak yang kurang beruntung dan tidak diterima di sekolah negeri. Atau, tidak bisa meneruskan belajar di sekolah swasta karena keterbatasan biaya. ''Jadi awalnya, saya marah sama sekolah negeri,'' ujar dia.

Ade lalu melakukan penjajakan untuk mewujudkan niatnya. Informasi yang peroleh, peluang yang ada dengan membuka SMP terbuka. Gayung bersambut, niat itu didukung teman-temannya. Banyak yang ingin menjadi pengajar, tanpa minta bayaran. Mereka berasal dari beragam latar belakang seperti dosen, arsitek, atau psikolog. Beberapa mahasiswa psikologi Universitas Indonesia pun terlibat di sini.

Ade menyediakan teras rumahnya menjadi ruang kelas, tempat belajar. Proses belajar mengajar pun dimulai September 2007. Bagaimana mendapatkan siswa? Ade mengaku, awalnya ia mencari sendiri. Perempuan kelahiran Jakarta, 6 Oktober 1966 ini sampai melakukan survei ke daerah-daerah kumuh di Jakarta yang anak-anak mereka potensial tidak bersekolah. Ia juga menempel poster di jalan-jalan.

Pendaftar pun datang. Tapi, sebelum diterima, Ade kembali melakukan survei, mendatangi kediaman calon siswanya. Ia ingin mengetahui kondisi keluarga anak, sekaligus berkonsultasi kepada orangtuanya. ''Kami hanya mau menerima anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri atau putus sekolah,'' tuturnya.

Ade menyediakan perlengkapan untuk proses belajar mengajar, seperti alat tulis dan buku-buku pelajaran. Untuk satu paket buku pelajaran, misalnya, sedikitnya ia mengeluarkan biaya Rp 42 ribu. Buku-buku paket itu dipinjamkan kepada setiap siswa untuk dipelajari di rumah. Ini agar buku yang sama dapat dimanfaatkan oleh siswa yang lain, tahun berikutnya.

Semua kebutuhan belajar ia penuhi dari kocek sendiri. Tak ada bantuan dari pemerintah. Ia memang mengaku tidak minta. Tidak jarang, ada saja temannya mengulurkan tangan, rela membantu. ''Kita memang kekurangan uang, tapi insya Allah, ada saja jalannya,'' kata dia.

Sabar


Niat baik, kenyataannya, tidak selamanya mendapat sambutan yang baik pula. Ade menemukan kenyataan itu. ''Ada yang orangtuanya selalu menyuruh anaknya berhenti sekolah karena merasa tidak ada manfaatnya,'' kata dia.

Tapi, Ade tidak patah arang. Dengan sabar ia mendatangi rumah anak didiknya dan memberikan pengertian kepada orangtuanya. Ia pun hanya bisa mengurut dada, meski mengaku tempat anak didiknya belajar sudah berulang kali dilempari batu oleh anak-anak iseng.

Ade tidak sekadar mendirikan dan mengelola SMP Gratis Ibu Pertiwi. Ia juga kerap berdiri di depan kelas, mengajarkan pelajaran Sejarah dan Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn). Sejatinya, anak ketiga dari lima bersaudara ini tidak pernah mengenyam pendidikan keguruan. Ia hanya pernah kuliah di Fakultas Sastra Inggris Universitas Indonesia (UI), itu pun tidak selesai.

Tapi, mendidik anak-anak sudah ia lakoni sejak masih di perguruan tinggi, sebagai guru piano. Persentuhannya yang intens dengan anak-anak dari keluarga kurang beruntung di sekolah yang dirintisnya memberikan kesenangan baru baginya. Kini ia menikmati profesi barunya sebagai guru. Mantan wartawati di sebuah majalah berita ini pun berujar, ''Saya senang jadi guru.''n burhanuddin bella ( )

Tidak ada komentar: