
Suara Pembaruan 16/5/2008
Tajuk Rencana
Pintar Itu Tidak Murah
Yang mengkhawatirkan adalah soal buku pelajaran. Harga buku pelajaran pasti akan ikut naik juga. Hal itu akan membuat anak didik makin susah membeli buku. Tidak bisa dibayangkan bagaimana suatu proses pendidikan tanpa tersedianya buku pelajaran yang cukup. Guru akan susah menyiapkan materi pelajaran, dan anak didik pun tidak bisa meningkatkan kemampuannya. Salah satu tujuan negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, pemerintah perlu memikirkan bagaimana menyelamatkan ketersediaan buku agar proses pendidikan bisa berjalan normal. Normal artinya, ada kepastian ketersediaan buku pelajaran.
Jika pemerintah tetap ingin harga buku pendidikan dan pengajaran tetap terjangkau, pemerintah mestinya mengeluarkan subsidi kertas untuk jenis kertas buku pelajaran sekolah, juga membebaskan penerbit dari pajak buku pendidikan dan pelajaran. Jika tidak, buku murah dan bermutu akan semakin jauh dari jangkauan. Komponen utama dari buku adalah kertas. Baru kemudian distribusi, promosi, honor, dan royalti, serta pembuatan sampul buku.
Kebijakan pemerintah tampaknya tidak pernah mengantisipasi bagaimana membuat aturan soal tata niaga kertas secara adil. Bahkan, kalau perlu membuat regulasi yang sedikit berpihak pada penerbit. Dalam hal ini, ada semacam subsidi yang harus diberikan pada penerbit berkaitan dengan ketersediaan bahan baku buku.
Rencana kenaikan harga BBM sampai 30 persen nantinya, tentu sangat berpengaruh terhadap bahan baku kertas untuk buku. Gara-gara rencana kenaikan BBM itu saja, bahan baku kertas mendadak menjadi langka dan sulit dicari penerbit buku sekarang. Para pemilik kertas masih menahan bahan bakunya untuk tidak terlalu banyak beredar di pasar. Tentunya, mereka masih menunggu berapa jumlah kenaikan harga BBM. Mau tidak mau, harga bahan baku kertas harus disesuaikan dengan kenaikan tersebut.
Keadaan ini akan membuat masyarakat memutuskan untuk mengutamakan pemenuhan bahan pokok daripada harus membeli buku. Keputusan itu bisa dipahami. Pada gilirannya, kampanye untuk mencintai buku, kampanye untuk meningkatkan minat baca akan kandas. Padahal, dalam rangka menyambut Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei ini, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) sedang giat berkampanye menggalakkan minat baca dengan semboyan "Aku Bisa Karena Aku Baca".
Peningkatan minat baca seharusnya berlangsung di seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Bagaimana hal itu bisa terwujud kalau bahan baku buku akan naik dan pada gilirannya harga buka akan melambung pula. Kita bukannya tidak mengetahui, hanya dengan buku kita bisa meningkatkan mutu pendidikan kita yang berdaya saing global.
http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/17/index.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar