18 Mei 2008

Jual Diri Mengejar Rumah



Meme, 16, adalah seorang grey chicken alias ayam abu-abu. Seorang siswi SMA yang merangkap sebagai pekerja seks komersial (PSK). Jumlah anak seperti Meme itu disebut terus bertambah. Bahkan disebut sudah menyebar di semua sekolah, juga sampai di tingkat SMP.

Di lingkungan sekolah, Meme (bukan nama sebenarnya) tidak berbeda dari teman-teman yang lain. Di sekolahnya, sebuah SMA negeri populer di kawasan Surabaya Timur, Meme justru dikenal sebagai pelajar yang cenderung tidak banyak tingkah.

Gaya dandan siswi kelas 2 itu jauh dari kesan tidak seronok. Roknya tak pernah lebih dari satu sentimeter di atas lutut. Benar-benar seperti anak SMA kebanyakan.

Namun, Meme bukanlah pelajar SMA kebanyakan. Bila tasnya diubek-ubek, tiga pak kondom selalu tersembunyi di dalamnya. Itu adalah persediaan untuk menghadapi "program ekstrakurikuler" yang memang berbeda dari anak kebanyakan.

Ya, Meme adalah seorang grey chicken alias ayam abu-abu. Istilah itu sering dipakai para hidung belang untuk para siswi SMA yang nyambi sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Di luar sekolah, tampilan Meme memang berubah drastis. Dengan gaya sedikit bernuansa Harajuku, gadis 170 cm itu terlihat seperti cewek dari keluarga berada. Dia lebih terkesan seperti mahasiswi berkocek tebal. Baru setelah diajak berdialog, nada suara dan wawasannya menunjukkan bahwa dia masihlah pelajar SMA.

Sebenarnya, Meme bukanlah grey chicken kelas A di Surabaya. Tapi, dia termasuk yang paling tenar. Buktinya, Meme punya jadwal booking cukup padat. Kadang, butuh waktu beberapa hari sebelum dapat jadwal bersama Meme. "Sehari, paling sepi aku dapat dua tamu," kata Meme, yang mematok tarif Rp 750 ribu untuk sekali kencan short time (sekitar tiga jam). "Tidak jarang, sehari bisa dapat lima tamu," ungkapnya.

"Omzet" Meme pun lumayan. "Minim, aku bawa pulang Rp 750 ribu sehari," ujarnya.

Pendapatan itu merupakan pendapatan bersih, setelah dipotong uang operasional seharian (bayar komisi untuk germo, uang taksi, dan makan). Rata-rata, sehari Meme membawa pulang uang Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Berarti, per bulan, Meme punya penghasilan Rp 25 juta sampai Rp 30 juta.

Setelah setahun menekuni dunia itu, Meme kini hampir mencapai impiannya. Yaitu, membeli rumah sendiri. "Targetnya, tiga bulan lagi beli rumah tipe 45 yang bagus," ucap Meme, yang menyebut ingin membeli rumah seharga Rp 200 jutaan.

Dia menambahkan, sebenarnya dirinya sudah bisa membeli rumah impian itu dua bulan lalu. Tapi, ada seorang teman yang menipunya. Uang sekitar Rp 50 juta amblas dibawa lari. "Terpaksa menabung lagi," ujarnya.
***
Mengapa Meme mau menekuni dunia grey chicken? Latar belakang hidup Meme sebenarnya klise. Kegadisannya direnggut pacar dua tahun lalu, saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Keluarganya juga tergolong broken dan dekat dengan dunia prostitusi.

"Papi suka main pukul ke Mami. Papi juga jarang pulang, dan aku tahu kalau Papi suka main cewek," ungkap sulung di antara tiga bersaudara tersebut.

Ketika masih kelas 3 SMP itu pula, Meme menyadari bahwa maminya ternyata seorang "Mami Ayam" alias muncikari. "Tahunya, ya karena banyak anak buah Mami yang datang ke rumah," jelasnya.

Meme mengaku bisa memaklumi mengapa maminya sampai menjadi koordinator gadis panggilan. "Papi tak pernah memberi uang kepada Mami. Malah, lebih sering minta uang kepada Mami," katanya.

Menurut dia, papinya adalah seorang wirausahawan yang berusaha bangkit setelah bangkrut ditipu teman empat tahun lalu.

Meme sendiri secara resmi baru menekuni dunia grey chicken itu pada Maret 2007. "Sebelum itu, aku bertemu salah seorang anak buah Mami yang biasa aku sebut Cece. Aku sering curhat dengan dia, terutama masalah keluarga," paparnya.

Akhirnya, karena merasa tertarik, Meme pun memberanikan diri terjun ke dunia tersebut. "Aku minta kepada Cece. Kalau ada (tamu) yang tertarik, aku mau menjalaninya," katanya.

Meme menegaskan, dirinya menjalani itu bukan karena kepepet secara ekonomi. Keluarganya memang broken, tapi tidak kekurangan. "Intinya, aku punya keinginan. Dan segala keinginan itu bisa diraih melalui kerja begini," ucapnya. "Bisa untuk beli handphone, bisa untuk membantu orang tua, dan bisa beli barang-barang mahal yang tak mungkin dibelikan Papi-Mami," tegasnya.

Begitu mengutarakan niat untuk terjun, Meme tak perlu lama-lama menunggu orderan pertama. Hanya dalam beberapa hari, Cece memintanya datang ke sebuah hotel short time di kawasan Surabaya Timur.

Tentu saja, pengalaman pertama menjajakan diri itu sempat membuat Meme grogi. Namun, pengalaman tersebut sekarang justru menjadi sesuatu yang mampu menghiburnya, membuatnya tertawa.

Tamu pertama Meme adalah seorang pria paro baya. "Bagaimana tidak ketawa. Koko (panggilan untuk tamu pertama itu, Red) lima menit sudah keluar," ungkapnya.

Tugas pertama itu memberi Meme bayaran Rp 1 juta. Sejak saat itu, segalanya jadi lebih mudah. Sudah tak terhitung pria hidung belang yang pernah dia layani. "Mayoritas tamu pertama biasanya berlanjut jadi langganan," urainya.

Sejumlah pengalaman unik pun dialami Meme. Salah satunya, ketika sang tamu ternyata adalah ayah teman sendiri. "Kaget sekali waktu main ke rumah temanku itu. Seminggu sebelumnya, bapaknya pernah booking aku," ujar Meme.

Untung, dia cepat menguasai keadaan. Meski kikuk, Meme dan ayah teman itu bisa bersikap biasa-biasa saja. Baru besoknya, bapak itu menelepon, memohon supaya Meme tidak bercerita macam-macam. "Tentu saja aku penuhi. Aku pasti tidak akan cerita. Sama saja bunuh diri itu," tegasnya.
***
Setelah setahun (lebih sedikit), profesi gelap Meme tersebut diketahui maminya. Kedoknya terbongkar sebulan lalu. "Mami langsung mendudukkanku dan menginterogasi. Intinya, menasihati macam-macam, jangan sampai seperti anak buahnya," katanya.

Usut punya usut, yang mengadukan Meme adalah Cece. "Aku tak tahu pasti sebabnya, mungkin saja karena kalah order," ujarnya.

Begitu ketahuan mami, "jam kerja" Meme pun berubah. Sekarang, dia mendapat jam malam dari sang mami. "Pukul 22.00 sudah harus pulang. Kalau tidak, bisa ditelepon terus-menerus sama Mami," ungkapnya.

Karena menghormati sang mami, Meme mematuhi jam malam itu. "Namun, aku tetap kerja kayak ginian," lanjutnya.

Meme menegaskan, dirinya tidaklah sendirian. Sekarang ada banyak pelajar SMA yang nyambi sebagai PSK seperti dirinya. "Setahuku, di setiap SMA ada yang seperti aku. Itu paling sedikit lho," ucapnya. "Wong yang SMP saja juga mulai banyak," tegasnya.

Meme mengaku tidak tahu persis berapa banyak jumlahnya. Sebab, mereka memang tidak terorganisasi secara jelas. Ada banyak pintu untuk memesan, ada banyak penghubung. Sesama grey chicken juga belum tentu saling mengenal.

"Tidak harus kenal, tapi tahu. Misalnya, kalau lagi jalan-jalan di mal. Lalu, aku lihat ada anak SMA yang jalan dengan mantan tamuku. Dari situ aku tahu bahwa dia seperti aku," jelasnya. (bersambung/tim jp)

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=342177

Tidak ada komentar: