
KOMPAS/YURNALDI / Kompas Images Nono (tengah), pelajar tunanetra kelas V di Sekolah Luar Biasa Negeri A Bandung, yang masih bisa melihat pada jarak 2-3 cm, membacakan buku untuk temannya yang tunanetra. Walaupun penyandang tunanetra, keinginan menambah ilmu begitu tinggi
Seusai belajar di ruang kelas, Sabtu (1/3) siang, Nita dan kawan-kawan berjalan kaki menuju asrama yang berjarak sekitar 75 meter, melewati beberapa kali belokan dan bangunan asrama. Mereka berjalan beriring layaknya tanpa masalah, sambil sesekali tertawa lepas dan bercanda ria.
Begitulah rekaman sekilas Mita dan kawan-kawan, pelajar sekolah dasar tunanetra di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri A Bandung. Mereka melakukan aktivitas tanpa tongkat karena mereka, melalui orientasi dan mobilitas, sudah menguasai lika-liku areal seluas sekitar 5 hektar, yang menjadi kompleks SLB Negeri A Bandung dan Yayasan Wyata Guna yang mengelola sejumlah asrama Panti Sosial Bina Netra.
Setelah berkemas dan mengganti pakaian, mereka menuju ruang makan yang berjarak 25 meter dari asrama untuk makan siang bersama. Untuk keperluan makan, semua mereka lakukan sendiri, layaknya seperti orang normal.
Tak lama kemudian, setelah makan, sebagian ada yang kembali ke asrama untuk istirahat sejenak. Ada juga yang berkumpul dan berdiskusi di teras asrama. Ada yang memetik gitar dan temannya bernyanyi, dengan suara empuk dan lembut.
Sementara Nono Herpino, pelajar kelas V SD, di teras asramanya asyik membaca. Suaranya sedikit keras supaya temannya, yang mengalami kebutaan total, serius mendengarkan.
Nono tidak buta total, ia masih bisa melihat dengan jarak 1-5 sentimeter. Ia membaca sembari menempelkan lembaran buku ke matanya dan setiap kata yang dibaca, ia menggeser buku ke kiri.
Ketika ada yang menyapa, Nono menimpali, ”Ada buku lain, tidak?” Saat dijawab tidak ada, Nono melanjutkan bacaannya. Menurut Nono, buku tersebut sudah berkali-kali ia bacakan untuk teman-temannya. Betapa haus mereka dengan buku-buku bacaan tentang sastra dan ilmu pengetahuan umum.
Begitulah rekaman sekilas Mita dan kawan-kawan, pelajar sekolah dasar tunanetra di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri A Bandung. Mereka melakukan aktivitas tanpa tongkat karena mereka, melalui orientasi dan mobilitas, sudah menguasai lika-liku areal seluas sekitar 5 hektar, yang menjadi kompleks SLB Negeri A Bandung dan Yayasan Wyata Guna yang mengelola sejumlah asrama Panti Sosial Bina Netra.
Setelah berkemas dan mengganti pakaian, mereka menuju ruang makan yang berjarak 25 meter dari asrama untuk makan siang bersama. Untuk keperluan makan, semua mereka lakukan sendiri, layaknya seperti orang normal.
Tak lama kemudian, setelah makan, sebagian ada yang kembali ke asrama untuk istirahat sejenak. Ada juga yang berkumpul dan berdiskusi di teras asrama. Ada yang memetik gitar dan temannya bernyanyi, dengan suara empuk dan lembut.
Sementara Nono Herpino, pelajar kelas V SD, di teras asramanya asyik membaca. Suaranya sedikit keras supaya temannya, yang mengalami kebutaan total, serius mendengarkan.
Nono tidak buta total, ia masih bisa melihat dengan jarak 1-5 sentimeter. Ia membaca sembari menempelkan lembaran buku ke matanya dan setiap kata yang dibaca, ia menggeser buku ke kiri.
Ketika ada yang menyapa, Nono menimpali, ”Ada buku lain, tidak?” Saat dijawab tidak ada, Nono melanjutkan bacaannya. Menurut Nono, buku tersebut sudah berkali-kali ia bacakan untuk teman-temannya. Betapa haus mereka dengan buku-buku bacaan tentang sastra dan ilmu pengetahuan umum.
Mahasiswa layanan baca
Sekitar pukul 13.50, seorang perempuan cantik berjilbab tampak berkunjung ke Asrama Cempaka. Restri Martiana namanya, mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris semester 4 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Betapa gembiranya Mita dan Gia, siswa kelas VI SD; Mia dan Erna yang masing-masing kelas V; serta Nita, kelas IV, ketika Restri, yang dipanggil anak-anak Teteh, datang mengunjunginya. Mereka kemudian berkumpul di ruang tamu.
Restri membacakan buku dan majalah untuk mereka. Kebiasaan itu dilakukan karena buku, majalah, apalagi novel yang berhuruf Braille jumlahnya sangat terbatas. Untunglah ada banyak readers atau sukarelawan seperti Restri yang membacakan buku-buku maupun majalah untuk penyandang cacat.
”Kami berterima kasih karena ada Teteh yang mau meluangkan waktu membacakan buku dan majalah sehingga pengetahuan kami bertambah,” kata Mita, asal Banjaran, Kabupaten Bandung. Buku yang dibaca sukarelawan bisa atas inisiatif sukarelawan, bisa juga atas permintaan penyandang tunanetra.
Menurut Ade Hidayat (39), pembimbing anak-anak di Asrama Cempaka, banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta yang memberikan layanan baca kepada penghuni 15 asrama—daya tampung lebih kurang 250 tunanetra—setiap hari.
Sarana minim
Memang, tidak setiap hari pelajar tunanetra mendapat bantuan dari sukarelawan. Ketika tak ada sukarelawan, mereka mengunjungi perpustakaan Braille Abiyoso di kompleks asrama. Di perpustakaan, mereka ada yang memanfaatkan komputer bersuara dan membuka internet. Namun, jumlah komputernya masih terbatas.
Buku-buku yang ada di perpustakaan pun diakui anak-anak sangat kurang. ”Di perpustakaan sekolah umum buku pasti banyak. Sementara di sekolah khusus tunanetra, jumlahnya amat terbatas. Pemerintah mesti peduli dengan buku-buku untuk anak-anak yang memerlukan perlakuan khusus,” kata seorang tunanetra pelajar kelas II SMA SLB Negeri A Bandung.
Kepala SLB Negeri A Bandung Dr H Ahmad Basri Nur Sikumbang MPd—tunanetra pertama yang meraih gelar doktor di Indonesia—mengakui terbatasnya buku-buku Braille dan alat peraga sehingga pendidikan anak-anak tunanetra cenderung menonjolkan kemampuan verbal ketimbang pendekatan vokasional dan aplikatif.
”Kepemilikan buku pegangan belajar dalam format Braille oleh pelajar masih menjadi hal langka,” katanya.
Nita, pelajar tunanetra, mengaku bosan dengan sistem pempelajaran yang monoton karena keterbatasan buku ajar Braille. ”Dalam kelas, kami belajar lebih menonjolkan aspek verbal dan ingatan dalam menyerap ilmu,” tandasnya.
Ahmad Basri Nur Sikumbang menjelaskan, di sekolah ada satu mesin cetak Braille asal Norwegia dengan 400 karakter. ”Mesin ini bisa membantu anak-anak dan guru untuk memenuhi kebutuhan buku-buku ajar Braille. Akan tetapi, karena tenaga untuk alih pengetikan dari Latin ke Braille hanya ada satu orang, ketersediaan buku Braille amat terbatas,” ungkapnya.
Tidak hanya buku-buku dan alat peraga yang terbatas, SLB Negeri A Bandung dengan total pelajar (SD, SMP, SMA) sekitar 100 anak tunanetra dan 70 guru yang 60 persennya tunanetra itu juga mengharapkan tambahan komputer yang sekarang ada 10 unit, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), dan tambahan ruang perkantoran.
Mereka bukan warga negara kelas dua yang dibiarkan begitu saja. Jumlahnya banyak, di Indonesia terdapat sekitar empat juta penyandang tunanetra. Mereka harus mendapat fasilitas yang layak. Fasilitas yang membuat para tunanetra bisa menyelami lautan ilmu dan mengembangkan potensi dirinya agar kelak bisa mandiri.
disalin dari kompas, 4/3/2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar