Pada saat banyak pejabat menyatakan bidang pendidikan menjadi prioritas, justru tetap banyak gedung sekolah nyaris roboh. Keadaan itu terjadi di Kabupaten Tangerang dan Jakarta, ibu kota negara ini. Walau kondisi gedung sekolah membahayakan siswa dan guru, belum diketahui kapan gedung sekolah itu akan diperbaiki. Alasan mengapa sekolah yang nyaris roboh itu tak diperbaiki sangat klasik. Anggaran terbatas, sementara jumlah sekolah rusak yang perlu direhabilitasi banyak. Mau tahu seperti apa kondisi gedung atau ruang kelas yang rusak itu, inilah antara lain gambarannya.
”Kalau hujan, kelasku bocor, tapi semua tetap belajar,” tutur Asan, siswa kelas I Sekolah Dasar Negeri 4 Rawaboni, Kabupaten Tangerang, Selasa (26/2). Asan mengaku, sebenarnya ia takut harus duduk di bawah atap yang eternitnya sudah berlubang dengan kayu-kayu bagian atap yang menjuntai ke bawah, tepat di atas para siswa kelas I sekolah itu duduk. Pasalnya, kayu-kayu itu sewaktu-waktu bisa saja lepas dari paku.
Kondisi tak jauh beda terjadi pada tiga ruangan lain, kelas II dan III, serta ruang kepala sekolah dan para guru. Tak hanya atap yang terancam roboh karena kayu kuda-kuda atap sudah rapuh, seluruh jendela juga berlubang. Bagian lantai juga kerap basah karena air hujan masuklewat celah atap yang bocor. Akibatnya, ruang kelas terasa lembab. Sungguh situasi yang tidak sehat.
Pada waktu hujan turun, halaman sekolah pasti terendam air hingga setengah tungkai siswa SD tersebut. Parit kecil yang berada di belakang sekolah menyumbang limpahan air dari badan parit. Maklum, dalaman parit hampir sama tinggi dengan halaman sekolah.
Kamar mandi yang tak lagi bisa difungsikan dan akses jalan yang sulit melengkapi penderitaan para guru dan siswa. Untung mereka bisa membuang hajat di kamar mandi rumah yang ditempati keluarga Saudi, mantan guru SDN 4 Rawaboni yang kini mengajar di sekolah lain.
Puluhan sekolah di Ibu Kota juga dalam kondisi memprihatinkan. SDN Pasar Baru 07, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, yang berada di area pusat belanja Pasar Baru selalu kebanjiran setiap hujan turun. Tinggi air bahkan mencapai paha orang dewasa. Tak heran, lantai di sekolah itu terkelupas akibat sering terendam banjir.
Keadaan tersebut mengganggu kegiatan pembelajaran di sana. Apalagi, bagian atap beberapa ruang kelas dan unit kesehatan sekolah kerap bocor.
”Kami mengharapkan gedung sekolah ini dibangun baru sebab kalau hujan deras, air masuk sekolah. Dari dulu tiga anak saya yang sekolah di sini, salah satunya sudah kuliah, tetapi sekolah ini belum pernah direnovasi,” ujar Ny Babai yang menjemput Putri, siswa kelas I, tetangganya.
Pitasari, guru sekolah setempat, menambahkan, ”Sejak ditempatkan di sekolah ini tahun 2004, usulan untuk rehabilitasi belum pernah terealisasi. Entah mengapa, padahal dari pihak dinas telah berulang kali survei, tetapi tak ada tindak lanjutnya.”
Keterbatasan anggaran pemerintah untuk perbaikan gedung atau ruang kelas yang rusak juga mengakibatkan sekolah unggulan SMP Negeri 179 Pasar Rebo, Jakarta Timur, tak kunjung mendapat perbaikan. Padahal, dinding sekolah banyak yang rapuh, kuda-kuda atap sekolah lapuk sehingga beberapa bagian bangunan tampak melengkung.
Staf tata usaha sekolah itu, Damanik, mengeluh, sejak tahun 2003 sekolah mengajukan diri untuk direhabilitasi total, tetapi tak pernah disetujui.
Sekolah yang memiliki 1.057 siswa di sekolah itu dengan 15 ruangan belajar, kegiatan belajar-mengajar (KBM) harus dilaksanakan dalam dua giliran.
”Idealnya per mata pelajaran 45 menit, tapi itu hanya diperoleh siswa pada giliran pertama. Shift (giliran) kedua rata-rata per mata pelajaran hanya 40 menit. Jika dibangun gedung baru yang dapat menampung seluruh siswa dalam satu giliran, pembelajaran tentu lebih optimal,” ujar Damanik.
Sekolah kebanjiran karena letak gedung sekolah yang rendah juga terjadi pada SDN 03 Sumur Batu, Jakarta Pusat. Tentu saja ini mengganggu pembelajaran, terpaksa para siswa segera dipulangkan.Para siswa kini dipindahkan ke SDN 04 Sumur Batu yang berada di depan SDN 03. Sekolah itu tak hanya kebanjiran.
”Atapnya banyak yang bocor. Kalau hanya air menetes, tetapi tak sampai banjir, paling kami hanya pindah tempat duduk dan tetap belajar,” kata Ega Nadya Aprilia (12), murid kelas V SDN Sumur Batu 03, Jakarta Pusat, Jumat (29/2).
Kondisi sama dialami 350 murid SDN 12 Sumur Batu yang berada di Jalan Nilam Raya, Sumur Batu. Ratusan murid tersebut terpaksa dipindahkan ke SDN 10 yang berada satu kompleks dengan SDN 03 dan SDN 04 di Jalan Sumur Batu Utara. Perpindahan itu mengakibatkan anak-anak belajar pada siang sampai sore yang biasanyamenjadi waktu istirahat mereka. Akibatnya, para siswa mengantuk saat belajar di kelas.
Kondisi bangunan SDN 03 dan SDN 12 terlihat memprihatinkan. Atap kelas berlubang dan kusen kayu maupun tiang kayu keropos hampir di tiap ruang kelas. Di salah satu ruang kelas seluruh atapnya nyaris jebol. Tiang kayu dan besi yang sengaja dipasang tidak mampu menahan plafon yang keropos.
Begitulah, entah bagaimana cara pemerintah menentukan sekolah mana yang harus segera diperbaiki. Ataukah sekolah harus roboh dulu baru diperbaiki?
disalin dari Kompas, Sabtu, 1 Maret 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar