|
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images Sebagian pelajar mengandalkan angkutan umum untuk transportasi ke sekolah. Namun, masih saja ada angkutan umum yang enggan mengangkut pelajar karena mereka membayar lebih murah daripada penumpang umum. |
Minggu, 30 November 2008 | 03:00 WIB
Lusiana Indriasari
Bagi sebagian pelajar dan guru di Jakarta, pagi hari adalah saat untuk "bertarung" melawan kantuk, waktu, dan kemacetan agar tidak terlambat masuk sekolah pukul 07.00. Apa jadinya bila jam masuk sekolah dimajukan menjadi pukul 06.30?
Kebijakan memajukan jam sekolah diambil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta guna mengurai kemacetan di Jakarta. Rencananya, kebijakan itu mulai diberlakukan bulan Januari 2009.
Faktanya, tanpa dimajukan sekalipun, jam sekolah yang dimulai pukul 07.00 sudah sangat merepotkan pelajar dan guru, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari sekolah atau harus menempuh jalur kemacetan menuju sekolah. Setiap hari, ketika hari masih gelap, mereka sudah harus keluar rumah. Itu pun tidak menjamin mereka bisa terbebas dari kemacetan.
"Wah, kalau jam masuk sekolah dimajukan, saya harus bangun pukul 03.30 dan berangkat pukul 04.30. Bisa-bisa saya ketemu maling di jalan," kata Suherti, guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Perbanas, Cakung, Jakarta Timur. Rumah Suherti di Rawa Kalong, Bekasi Timur, berjarak sekitar 20 kilometer dari sekolah.
Sekarang ini saja Suherti sudah harus berangkat dari rumah pukul 05.10. Untuk sarapan pun, Suherti tidak sempat karena lewat lima menit saja dari pukul 05.10 sudah pasti ia akan terjebak macet hingga setengah jam. Padahal, dari rumah ia naik sepeda motor. Biasanya Suherti sampai di sekolah pukul 06.15. "Saya masih punya waktu setengah jam untuk sarapan dan istirahat," katanya.
Simak pula kerepotan yang dialami keluarga Disa (16), warga Pondok Petir, Sawangan, Bogor, yang bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) PGRI di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Setiap pagi, keluarga Disa bangun pukul 04.00-04.30. Begitu bangun, anggota keluarga yang jumlahnya lima orang itu harus berebut satu-satunya kamar mandi yang ada di rumah tersebut.
Ketika ada orang yang terlalu lama di dalam kamar mandi, yang lain pasti sudah menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Disa yang paling sering digedor karena mandinya lama," ujar Rini (38), ibu Disa, yang menyebut aktivitas di seputar kamar mandi mirip kamar mandi umum. Untuk mengejar waktu, Rini terpaksa menyuapi ketiga anaknya, Disa, Adrian (13), dan Haikal (9), agar mereka bisa tetap sarapan sambil berbenah untuk sekolah.
Memajukan jam sekolah akan memaksa anak-anak untuk bangun lebih pagi. Persoalannya, anak-anak ini dipaksa bangun lebih pagi, sementara pada jam normal pun waktu tidur mereka sebenarnya masih kurang.
Kurikulum yang dianut sebagian sekolah menyebabkan anak- anak baru selesai belajar lewat tengah hari atau sore hari. Kalau sudah begitu, mereka yang rumahnya jauh atau jalurnya macet bisa tiba di rumah menjelang petang.
Di rumah, anak-anak ini masih harus belajar, mengerjakan pekerjaan rumah (PR), dan tugas-tugas lain dari sekolah. Mereka pun terpaksa tidur larut malam. "Setiap hari anak-anak saya tidur pukul 22.00. Mereka hanya tidur enam jam, kadang kurang," kata Susi Indrawati (38), ibu dari Ajeng (16) dan Ramadhan (11), yang bertempat tinggal di Sasak Tinggi, Pamulang, Banten.
Karena keletihan, Ajeng, siswa kelas II SMK Bakti Idata, Cilandak, Jakarta Selatan, kerap mencuri waktu untuk tidur di sekolah saat jam istirahat. Ajeng yang bangun pukul 04.00 harus dua kali naik turun angkutan umum, lalu disambung jalan kaki menuju sekolah. Waktu tempuh perjalanan yang berjarak 15 kilometer bisa dua jam karena macet.
Disa di rumah sudah letih untuk melakukan kegiatan lain selain mengurusi pelajaran dan tugas sekolah. "Untuk selingan, paling saya hanya baca-baca buku saja," tutur Disa.
Karena letih, setiap pulang sekolah Disa langsung tidur setelah makan malam. Ia bangun larut malam sekitar pukul 22.00 untuk belajar hingga kira-kira pukul 02.00. Setelah itu, ia tidur sebentar lalu bangun pukul 04.30 untuk sekolah.
Di usianya, Disa mungkin bisa tahan untuk belajar pada larut malam. Namun, bagaimana dengan Rama yang masih duduk di kelas 6 SD Madrasah Ibtidaiyah Al-Khairiyah, Pondok Pinang, Jakarta Selatan?
Seperti juga Ajeng, kakaknya, Rama juga bangun pukul 04.00 dan berangkat sekolah pukul 05.00. Pada Jumat (28/11), Rama yang kecapekan bangun "kesiangan", sekitar pukul 05.00. Ia baru bisa berangkat pukul 06.00. "Daripada sampai sekolah pukul 08.00, saya minta izin tidak masuk saja," tutur Rama yang juga enggan untuk main di luar rumah karena capek.
Tertekan
Bagi Ajeng, perjalanan menembus kemacetan lalu lintas setiap hari membuat ia panik dan tertekan. Ajeng kerap merasa loyo begitu sampai di sekolah. Tidak hanya itu, ia mengeluh sering pusing, mengantuk di kelas atau tiba-tiba sakit perut tanpa ada sebab yang jelas. "Dia tertekan, sudah begitu ia tidak pernah sarapan karena tidak sempat," tutur Susi.
Meski sudah bangun pukul 04.00, Rama dan Ajeng tiba di sekolah dengan waktu yang mepet. Bahkan, kata Ajeng, ia lebih sering terlambat ketimbang tepat waktu. Hal itu juga dialami teman-teman Ajeng yang tinggal jauh, seperti di Depok atau Bekasi. Bukan karena malas bangun pagi, mereka telat karena banyaknya hambatan di perjalanan, seperti angkot ngetem, macet, atau tidak terang.
Jangankan istirahat, kalau telat, anak-anak menjadi sasaran guru piket yang sudah menyiapkan hukuman bagi siswa yang datang terlambat. Ajeng pernah disuruh menyapu atau membersihkan kaca sebelum ia diizinkan mengikuti pelajaran.
"Kalau jam sekolah dimajukan, saya bukannya tambah segar, melainkan malah makin lecek karena ngantuk di sekolah," kata Ajeng.
Tidak hanya pelajar, bagi bu guru, jam sekolah yang lebih awal memaksa ia bangun pukul 03.30. Padahal, sehari-hari ia baru tiba di rumah pukul 19.00 atau pukul 20.00. Sampai di rumah, ia masih harus mengurus suami, menyiapkan materi untuk mengajar keesokan harinya, atau memeriksa ujian para siswa. Sering kali pekerjaan itu membuat ia harus terjaga hingga tengah malam.
Setiap hari Suherti tidak pernah memasak. Ia dan suami berlangganan katering sehingga ia masih bisa bersih-bersih rumah seadanya. Bagi orang-orang seperti Suherti, Disa, Ajeng, dan Rama, hidup berputar dengan sangat cepat dan mereka tenggelam di dalamnya. (Budi Suwarna/ Ilham Khoiri)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/30/02114355/mau.sekolah.malah.loyo
|
| MPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images Pak Slamet bersiap mengantarkan anaknya, Dini (16) dan Dewi (11), ke sekolahnya . |
Benarkah memajukan jam pelajaran dari pukul 07.00 menjadi pukul 06.30 akan berhasil mengurai kemacetan di Jakarta?
Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia Bambang Susantono mengatakan, kemacetan di Jakarta bukan hanya disebabkan oleh lalu lalang para pelajar menuju ke sekolah.
Menurut Bambang, kemacetan lebih disebabkan oleh tidak berimbangnya jumlah volume kendaraan dibandingkan dengan fasilitas jalan yang tersedia. Selain itu, banyak ruas jalan di Jakarta terhambat berbagai hal yang tidak terkait dengan lalu lintas, seperti pedagang kaki lima yang berjualan di badan jalan, kendaraan umum yang berhenti seenaknya di tengah jalan, juga areal parkir di pinggir jalan.
Perilaku pengguna kendaraan juga memengaruhi macet tidaknya lalu lintas. Karena tidak sabar, pengemudi sering kali berpindah-pindah lajur agar bisa bebas melaju kencang. Perpindahan lajur itu menyebabkan kendaraan lain harus memperlambat kendaraan. Perlintasan kereta api yang masih sebidang dengan lajur jalan juga memperparah kemacetan.
Untuk mengurangi kemacetan, kata Bambang, tidak ada jalan lain selain menyediakan angkutan umum massal yang memadai, seperti bus dan kereta. Angkutan massal itu juga harus memiliki jaringan luas. Orang cenderung malas naik bus atau kereta karena tidak nyaman dan tidak bisa menjangkau banyak tempat.
Slamet yang bekerja di bagian tata usaha sebuah sekolah, misalnya, memilih naik motor karena cepat dan bisa dengan mudah menjangkau lokasi yang jalannya sempit. Setiap pagi, warga Pondok Karya, Tangerang, Banten, itu harus membonceng tiga anaknya sekaligus, yaitu Dini (16), Dewi (11), dan Bayu (8) yang bersekolah di Jakarta.
Silvy (36), warga perumahan di Cikupa, Tangerang, merasakan enaknya menggunakan fasilitas kendaraan umum yang memadai untuk transportasi anaknya yang bersekolah di SD di kawasan Jakarta Barat.
Di perumahan Silvy, pihak pengembang membuka kerja sama dengan swasta untuk mengadakan angkutan warga, berupa bus dan angkutan kota. Pada jam sibuk, yaitu pagi hari dan malam, bus berangkat setiap seperempat jam sekali. Dengan angkutan dari perumahan itu, anak Silvy berangkat pukul 05.30, turun di depan Citraland, Grogol, lalu tinggal satu kali naik angkot ke sekolahnya.
"Anak saya bisa tidur di bus berpendingin. Saya juga tidak perlu menyetir kendaraan sendiri," tutur Silvy. (IND)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/30/02122617/menyediakan.transportasi.massal
Jika jam masuk sekolah dimajukan, sebagian siswa tidak hanya harus bangun dan berangkat dari rumah lebih pagi, mereka juga kemungkinan harus menyiapkan ongkos lebih banyak dari biasanya.
RA Sonia Ayu Maretha (16), warga Sasak Tinggi, Pamulang, Tangerang, setiap hari harus naik angkot atau bus sebanyak tiga kali untuk mencapai sekolahnya, SMK Bakti Idata, Cilandak, Jakarta Selatan. Ongkos yang harus dia sediakan untuk perjalanan pergi-pulang sebanyak Rp 12.000.
Jika lalu lintas macet sekali, siswa yang biasa dipanggil Ajeng ini terpaksa naik ojek dari Pasar Ciputat ke Cilandak agar bisa sampai di sekolah sebelum pukul 07.00. Untuk itu, Ajeng harus mengeluarkan dana tambahan sebanyak Rp 20.000.
Ibunda Ajeng, Susi Indrawati (38), kini khawatir. Jika jam masuk sekolah dimajukan, anaknya kemungkinan akan semakin sering naik ojek untuk mengejar waktu. "Bayangkan berapa kali lipat ongkos yang harus saya sediakan," ujar Susi.
Rencana pemajuan jam sekolah juga membuat pusing pasangan Rudi Gunawan (44) dan Rini (38) yang memiliki dua anak usia sekolah, yakni Disa (16) dan Adrian (13). Disa sekolah di SMA PGRI Pondok Labu, Jakarta Selatan, sedangkan Adrian sekolah di SMP I Pamulang, Tangerang. Setiap pagi, Rudi harus mengantar Disa dan Adrian dari rumah mereka di Pondok Petir, Sawangan, Depok, Jawa Barat, dengan sepeda motor sebelum berangkat kerja ke kantornya di Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan.
Dengan berangkat bersama-sama, keluarga itu bisa menghemat. Setidaknya, Disa dan Adrian hanya mengeluarkan ongkos pulang. Disa hanya mengeluarkan ongkos angkot Rp 9.000 per hari, sedangkan Adrian Rp 7.000 ongkos ojek dari sekolah ke rumah.
Akan tetapi, strategi berhemat tersebut terancam berantakan jika jam masuk sekolah di wilayah Jakarta dimajukan. Kemungkinan, kata Rini, Adrian harus berangkat sendiri ke sekolah dengan ojek, sedangkan Disa bisa nebeng sepeda motor ayahnya. Itu berarti, keluarga itu harus menyediakan dana ekstra untuk ongkos ojek Adrian ke sekolah sebesar Rp 7.000 per hari di kali satu bulan.
Bagi keluarga itu, dana tambahan sebesar itu cukup besar. Betapa tidak, saat ini saja, uang saku dan ongkos untuk kedua anak mereka mencapai Rp 750.000 per bulan. "Saya harus bantu suami untuk mencari uang saku dan ongkos anak-anak," kata Rini yang aktif menjadi agen produk multilevel marketing.
Begitulah, hidup sekarang sudah berat. Jangan dibikin tambah berat. (BSW/IAM/IND)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/30/02130446/makin.berat.di.ongkos

Tidak ada komentar:
Posting Komentar