
Dok SP/Jurnasyanto Sukarno
Para siswa SMA peraih gelar juara Fisika se-Asia melihat-lihat suasana di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Bangsa Indonesia cukup bangga karena pelajar yang dikirim mengikuti olimpiade sains di luar negeri dan di dalam negeri mampu mengukir prestasi membanggakan. Mereka berhasil membawa medali emas, perak, perunggu, bahkan menjadi juara umum di berbagai olimpiade sains. Keberhasilan ini merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan yang didukung oleh kualitas pelajar yang dikirim.
eberhasilan ini memberi keyakinan kepada kita bahwa kemampuan anak-anak Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan anak-anak dari negara-negara maju. "Keunggulan itu tidak muncul karena minimnya fasilitas dan pembinaan terhadap potensi mereka, sehingga keunggulan itu tidak muncul. Padahal,untuk berprestasi, pembinaan harus all out," kata Yohanes Surya, penggagas sekaligus arsitek Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI).
Ambil contoh, Niklas Lesmana Tjitra (11), Garry Reuben (11), dan Herbert Ilhan Tanujaya (11), sambil tersenyum lebar mereka mengatakan,"Kami mampu berprestasi!" ucap ketiganya lantang, saat ditemui di Tangerang, Banten, Rabu (19/11).
Ketiganya adalah siswa SD Laurensia, Serpong. Mereka memperoleh medali di ajang International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke V, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa waktu lalu.
Dalam ajang bergengsi tersebut, Niklas memperoleh medali emas dalam bidang sains. Sementara, Garry dan Herbert masing-masing memperoleh medali perak. Dalam event itu, Indonesia bahkan menyabet gelar juara umum.
Pelajar Indonesia terbukti mampu bersaing dengan negara-negara maju yang unggul dalam bidang sains. Paling tidak itu terlihat dari keberhasilan Indonesia membawa pulang medali emas, perak, perunggu, atau penghargaan khusus ketika mengikuti kompetisi sains di luar negeri beberapa tahun belakangan.
Pada akhir April lalu, pelajar Indonesia yang tergabung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) mampu meraih dua medali emas, empat perak, dan empat perunggu dari Olimpiade Fisika Asia VIII di Shanghai, Tiongkok.
Pada saat hampir bersamaan, seorang pelajar Indonesia lainnya berhasil mempersembahkan medali perak dalam kompetisi International Conference for Young Scientist (ICYS) di bidang ekologi di St Petersburg, Rusia.
Menurut Yohanes Surya, sebenarnya kemampuan anak-anak Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan anak-anak dari negara-negara maju.
Namun, karena minimnya fasilitas dan pembinaan terhadap potensi mereka, sehingga membuat keunggulan itu tidak muncul. Padahal, untuk bisa berprestasi, pembinaan harus all out. Pembinaan seperti itu membutuhkan dana besar, sedangkan anggaran yang dialokasikan pemerintah umumnya tidak mencukupi.

Berbangga
Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Depdiknas, Prof. Suyanto, Ph.D mengemukakan, anak-anak Indonesia yang memiliki potensi dalam berbagai bidang harus diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan maju tanpa halangan dalam pendidikan mereka.
Ini mengingat, di tengah kondisi bangsa dan negara yang masih dililit ber-bagai persoalan, prestasi pelajar Indonesia yang mengharumkan nama bangsa dengan berprestasi di bidang pendidikan, akan memberi harapan bahwa masa depan bangsa ini masih ada.
"Kita harus berbangga bahwa prestasi pelajar Indonesia dalam kompetisi internasional tidak kalah dibandingkan dengan negara lain. Prestasi tersebut merupakan salah satu bukti pencapaian prestasi pendidikan nasional," katanya, saat dihubungi SP, Kamis (20/11).
Sementara Kepala Sekolah SD Laurensia, Daniel Terry Dipo mengemukakan, setiap anak memiliki talenta yang berbeda-beda. "Ada yang memiliki talenta di bidang sains, matematika, dan lainnya. Namun, ada juga yang belum menyadari talenta apa yang dimilikinya. Artinya, tidak ada siswa bodoh. Semua anak cerdas. Tinggal bagaimana kita membuat anak itu bisa mengembangkan talentanya," katanya.
Dia menambahkan, sebenarnya perkembangan kemampuan siswa harus berimbang. "Itu lebih baik. Di sekolah kami, kemampuan intelegensia dikembangkan secara berimbang, baik itu spiritual, maupun kemampuan lainnya. Sehingga, pelajaran yang dilakukan bukan dengan metode menghafal atau drill, namun pada pemahaman," katanya.
Di SD Laurensia, katanya, anak-anak pecinta sains masuk ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, yakni Discovery Club. "Mereka dibimbing secara intensif dalam berbagai bidang sains dan matematika. Siswa-siswa tidak kami drill namun kami berikan pemahaman dan biarkan mereka melakukan eksplorasi," katanya.
Terry mengusulkan, sekolah-sekolah yang memang sudah berprestasi harus membantu sekolah-sekolah yang masih minim prestasi. Bantuan itu bisa berupa sharing pengajaran dan pengalaman.
"Kami melakukan itu dengan sekolah-sekolah lainnya. Misalnya bagaimana metode pengajarannya. Sehingga, sekolah-sekolah lainnya pun bisa berkembang dan maju bersama. Sehingga, tidak ada egoisme satu sekolah," katanya.
Sementara itu, staf humas sekolah Karisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang, Banten, Nurhadi mengemukakan, sekolah Karisma Bangsa cenderung memfokuskan kepada pembelajaran di bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
Sekolah berstandar internasional ini memang menjadi salah satu sekolah swasta bergengsi di Indonesia, karena mampu menorehkan sejumlah pres- tasi di berbagai ajang nasional dan interna- sional.
Bagaimana untuk bisa diterima di sekolah itu? Nurhadi menjelaskan, sejak awal pendaftaran, orangtua akan ditanyakan kemampuan anaknya. "Apa keinginan dan minat orangtua terhadap anak," katanya.
Kalau lulus tes, katanya, barulah pihak sekolah menetapkan uang masuk yang sekitar Rp 27 juta dan uang sekolah yang per bulannya sekitar Rp 2 juta.
Dijelaskan, sekolah Karisma Bangsa menyediakan fasilitas pendidikan yang super lengkap. Selain itu, siswa juga diasramakan.
Kepandaian Masing-masing
Mengenai cara mengindikasikan anak berprestasi, psikolog Tika Bisono yang memiliki tiga orang anak mengatakan setiap anak memiliki kepandaiannya masing-masing, di bidang yang berbeda-beda.
Mengukur kepandaian tidak bisa lepas dari laporan akademis yang diberikan pihak sekolah. Melalui rapor, orangtua dapat mengetahui dengan detail seberapa besar kompetensi anak-anak mereka dalam mendalami setiap mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Hal senada juga disampaikan psikolog anak Seto Mulyadi yang sangat menerapkan pendidikan dengan metode home schooling kepada empat anak-anaknya.
"Jangan salah, home schooling juga memberikan laporan penilaian detail akan perkembangan setiap murid kepada orang tua, di samping penyertaan orangtua secara langsung ketika anak-anak belajar," tegasnya.
Kelebihan menerapkan metode belajar di rumah kepada anak-anak, seperti dijelaskan Seto, mereka dapat belajar sambil bermain, belajar dengan suasana yang santai dan lebih menyenangkan.
Kebanyakan sekolah- sekolah melakukan pendekatan secara eksternal dibandingkan internal dalam membangun motivasi anak-anak untuk belajar dan menggali potensi siswanya. Metode pembelajaran yang diberikan juga cenderung menekan murid dan menyebabkan stress.
Oleh karena itu, imbuh Seto, sesungguhnya home schooling merupakan solusi yang tepat untuk merangsang keinginan anak-anak untuk belajar. Dengan home schooling pula, kemungkinan bentrok sosial seperti tawuran, atau pengaruh buruk dari sosialisasi seperti keterlibatan dengan obat-obatan terlarang dapat diminimalisasi.
Salah satu cara yang juga dilakukan oleh Tika dalam mendidik anak-anaknya dalam keseharian adalah dengan cara menanamkan sikap yang gigih dan tidak takut untuk mencoba hal-hal baru.
Selain itu, ia juga selalu menyempatkan diri untuk belajar bersama anak-anak dan memberikan perhatian yang cukup kepada mereka. [WWH/W-12]
http://202.169.46.231/News/2008/11/23/index.html
Jadilah Sahabat Anak

endidikan dan karier sama-sama penting. Banyak orang terjebak, pilih sekolah (pendidikan) atau karier terlebih dahulu. Di saat menempuh pendidikan, kadang-kadang ada tawaran kerja. Karena sudah merasakan dapat menghasilkan uang dan nikmatnya bisa membeli apa pun, manusia sering lupa akan pentingnya pendidikan. Masa depan menjadi taruhannya. Namun, tidak bagi artis Dian Nitami. Perempuan cantik itu sudah terjun ke dunia hiburan sejak duduk di kelas 2 SMP.
"Waktu itu kakakku bekerja di salah satu agency. Aku sering ikut pergi dengan kakak, lalu ditawari bermain film, ya aku ambil saja kesempatan itu. Konsentrasi belajar dan bekerja, bisa dibagi, juga untuk segala kegiatan atau kesibukan apapun. Terbukti sekarang, hal itu tidak menjadi masalah bagiku," tutur Dian kepada SP di Jakarta, Rabu (19/11).
Menurut Dian, semua kegiatan bisa dijalaninya secara bersamaan. Karier sukses, dan sekolah juga sampai selesai dengan mencapai srata sarjana di salah satu perguruan tinggi jurusan ekonomi. Ilmu ekonomi yang dipelajarinya, sekarang terpakai untuk mengurus keuangan rumah tangga.
"Memangnya mudah apa membuat laporan rumah tangga? Mengurus keuangan rumah tangga lebih susah daripada keuangan suatu perusahaan. Kalau tidak percaya, tanya saja ibu-ibu yang lain. Ilmu yang kudapat di bangku kuliah dulu, benar-benar terpakai saat ini. Jangan menyepelekan ilmu pengetahuan yang sudah didapat. Ilmu itu pasti berguna, mungkin untuk orang yang berada di sekeliling Anda. Pendidikan itu perlu dan berguna," tegas pemilik nama lengkap Dian Meutia Nitami itu.
Motivasi adalah kunci dibalik kesuksesan Dian, baik dalam berkarier maupun menempuh pendidikan. Kata Dian, segala sesuatu bisa dijalankan, asal ada kemauan yang kuat dari dalam diri kita sendiri. Sesulit apapun permasalahan, bila ada kemauan dan usaha, pasti terwujud apa yang diimpikan. Setelah menikah dengan aktor tampan Anjasmara, Dian dianugerahi dua anak, yaitu Sasikirana Zahrani Asmara dan Arka Setya Andipa.
Menurutnya, cara terbaik dalam mendidik anak adalah mencoba untuk menjadi seorang sahabat bagi anak saya sendiri. Dengan demikian, sebagai orangtua, hubungan tidak ada jarak lagi.
"Walaupun demikian, kadang-kadang aku suka menggunakan hak prerogatif orangtua sebagai nomor satu. Aku mencoba membangun komunikasi dua arah yang baik dengan anak-anak. Hasilnya, mereka tidak sungkan untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri, apa yang ada dalam pikirannya langsung diutarakan," ucap ibu dua anak itu.
Untuk sekolah anak-anak, Dian memberikan beberapa pilihan. Kedua anaknya datang untuk melihat sekolah itu. Mereka memilih sendiri, ingin bersekolah di tempat yang disukai. Namun, yang pertama kali dilihat Dian adalah sistem pendidikan sekolah itu. Bagaimana tenaga pendidik menyampaikan materi-materi pelajaran kepada murid-muridnya, sampai atau tidak? Itu yang menurutnya paling penting buat kebaikan anak-anaknya. Sekolah yang mahal, baginya tidak menjadi suatu ukuran atau jaminan pendidikan itu berkualitas.
"Sebenarnya, anak-anak tidak suka dengan pelajaran, bahkan mereka tidak ada yang mau belajar. Tetapi langkah yang harus diambil, membuat mereka melihat pelajaran itu bukan sebagai beban, tetapi bagian kehidupan sehari-hari. Aku pun tetap mengajarkan mereka. Bila ada mata pelajaran yang tidak dimengerti anak, aku pasti turun tangan membantu, menanyakan di mana kesulitannya," paparnya.
Melihat pendidikan sekarang, dia merasa sangat sedih. Bingung dan kasihan dengan anak-anak sekolah. Katanya, materi sekolah saat ini mau di bawa kemana? Setiap ganti menteri, ganti kurikulum (sistem belajar). Setiap tahun selalu ganti buku. Ia pun bingung sudah tidak ada lagi pelajaran lagu wajib dan lagu daerah yang diajarkan di sekolah. Berbeda dengan sekolah, pada zamannya sekolah dulu. Hal itu terbukti, dengan anak-anak muda sekarang yang masih hafal lagu Maju Tak Gentar dan Padamu Negeri.
"Aku sangat sedih, banyak anak-anak sekolah saat ini, sudah tidak tahu lagu-lagu wajib lagi. Padahal lagu wajib itu menjadi kebanggan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Jadi ,di mana semangat patriotismenya? Saran saya, sistem pendidikan sekarang, baiknya dibalikkan saja ke zaman dulu, dimana kita mengenal lagu-lagu wajib, daerah dan mengenal sejarah," katanya. [HDS/N-5]
Pemerintah Basa-basi Mengurusi Anak

da penilaian bahwa perhatian pemerintah terhadap anak-anak, baik menyangkut pendidikan maupun kesehatan masih sangat kurang. Yang dilakukan pemerintah masih sebatas basa basi. Kualitas pendidikan di Indonesia pada saat ini masih termasuk rendah. karena standar pendidikan yang ditetapkan pemerintah belum mengedepankan pendidikan anak.
Demikian rangkuman pendapat psikolog, Tika Bisono dan psikolog anak yang juga anggota Badan Standar Nasional Pendidikan di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Seto Mulyadi tentang perhatian pemerintah terhadap anak-anak.
Menurut Tika Bisono, seharusnya pemerintah memperhatikan, mengkaji, dan melakukan segala kebijakan yang menyangkut kesejahteraan anak dengan komprehensif. Bahan pembandingnya dapat diambil dari negara-negara lain yang dinilai telah berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan anak.
"Contohnya, membandingkan Indonesia dengan Singapura yang dinilai berhasil memiliki anak-anak bangsa yang berkualitas. Reputasi Singapura sebagai negara majupun tidak boleh dijadikan alasan bagi Indonesia untuk memaklumi kenyataan yang ada sekarang, dan menganggap bahwa kita tidak mampu untuk mengejar segala ketinggalan," tegasnya.
Dalam pendidikan anak, tidak hanya kecerdasan dalam bidang akademis yang perlu diperhatikan, tetapi juga mencakup kompetensi dasar seorang anak yang tercakup dalam delapan jenis, yaitu kecerdasan berbahasa baik lisan dan tulisan, kecerdasan spatial atau kecerdasan ketika berhadapan dengan gambar, lalu kecerdasan gerak dan tubuh atau kecerdasan dalam melakukan aktivitas, kecerdasan bermusik, mengenal irama, kecerdasan interpersonal yaitu kecerdasan dalam berkomunikasi, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan dalam menganalisa, serta yang terakhir, kecerdasan alamiah.
Amat disayangkan, imbuh Tika, political will yang dimiliki Indonesia cenderung belum mengarah pada peningkatan kualitas kompetensi yang akan memajukan kualitas anak-anak bangsa. Hal tersebut terbukti pada masalah anggaran pendidikan yang dijanjikan 20 persen ternyata masih menemukan banyak kendala, bahkan kini persentasenya diturunkan karena banyak hal yang dijadikan pertimbangan.
Namun, jika membicarakan tentang pihak atau insitusi-institusi swasta, seperti dikatakan Tika, tidak sedikit yang sudah melakukan upaya-upaya peningkatan kualitas anak-anak khususnya dalam hal pendidikan, dan dapat dikatakan sudah cukup baik.
Namun usaha-usaha yang dilakukan pihak swasta tidak akan sepenuhnya sukses bila tidak mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah.
Tika menambahkan, selain pendidikan, polemik yang juga tengah dihadapi Indonesia dan membutuhkan perhatian yang besar adalah mengenai penderita gizi buruk yang semakin meningkat. Kesejahteraan yang merata sangat perlu diperhatikan, maka bukan hanya penduduk di tengah kota yang mendapatkan kesejahteraan dalam hal pangan dan kesehatan, tetapi juga mengutamakan mereka yang berada di tempat-tempat yang tak terjangkau.
Satu lagi hal yang harus diubah adalah kebiasaan menolak predikat Indonesia sebagai negara yang buruk. "Kita harus belajar menerima anggapan negatif yang diberikan oleh dunia internasional terhadap Indonesia. Namun sikap menerima pun harus disertai dengan motivasi untuk melakukan perubahan demi menuju kemajuan, jadikan hal tersebut sebagai cambuk" ujar Tika.
Kualitas rendah
Sementara itu, psikolog anak yang juga anggota Badan Standar Nasional Pendidikan di Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Seto Mulyadi, mengatakan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia saat ini masih termasuk rendah. Hal tersebut dikarenakan standar pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah belum berorientasi mengedepankan pendidikan anak.
"Standar pendidikan belum mengedepankan kepentingan pendidikan anak, dan belum memenuhi delapan standar kompetensi termasuk standar guru, sarana dan prasarana, bahkan di seluruh kawasan Asia Pasifik, Indonesia masih menempati peringkat 50" kata dia.
Seto memberikan contoh pada Ujian Nasional (UN) yang dijadikan standar kompetensi siswa yang justru dampaknya menyebabkan siswa stress dan tertekan dengan syarat kelulusan yang dinilai sangat memberatkan. Selain itu pada kenyataannya, UN tidak bisa dijadikan alat ukur bagi kepandaian seseorang.
Konsep UN juga terbukti telah mengundang kecurangan di dalam institusi pendidikan itu sendiri, maka hendaknya pemerintah mengkaji atau meninjau ulang, melakukan evaluasi, serta mempertimbangkan kebijakan-kebijakan seperti menetapkan UN sebagai syarat kelulusan. [WWH/M-5]
Upaya Sistematis Mulai Dari Usia Dini

[JAKARTA] Untuk mampu bersaing dan mendominasi di dunia internasional, diperlukan upaya-upaya jangka panjang yang sistematis dan kreatif, yakni dimulai dari anak-anak usia dini.
"Untuk jadi unggul tidak bisa dalam waktu singkat. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana caranya mempersiapkan anak-anak ini sejak usia dini. Kita ambil contoh saja dari Tiongkok, bagaimana mereka mempersiapkan anak-anaknya untuk jadi atlet internasional," ujar Pengamat Pendidikan, Anies Baswedan, di Jakarta, Kamis (19/11).
Yang menjadi kendala selama ini, kata Anies, kecenderungan masyarakat yang selalu berpikir pendek atau ingin cepat menikmati hasil dalam waktu singkat. Padahal perspektif jangka panjang bisa mendorong untuk melakukan usaha yang lebih besar dan hasil yang besar pula.
"Contohnya seperti 10 tahun reformasi, semua orang sudah komplain dan mengatakan selama itu tidak ada apa-apa, tidak ada pembangunan. Jadi masalahnya adalah pada cara berpikir, ini perlu disadari," ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, anak-anak Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah dari negara luar, bahkan lebih baik dari beberapa negara seperti Malaysia. Terbukti sejak 15 tahun lalu, Indonesia lebih banyak meraih medali olimpiade di tingkat internasional.
Oleh karenanya, kata Anies, diperlukan upaya yang lebih serius, terutama lembaga pendidikan milik pemerintah untuk memperbaiki kualitasnya.
"Mulai dari guru, karena menjadi ujung tombak yang berhadapan dengan siswa adalah guru, bukan kurikulum dan ujian. Guru inilah yang harus diperbaiki, yakni dengan perbaikan kesejahteraan dan pengetahuan. Sertifikasi juga jangan sekedar formalitas, tapi substansinya," tambahnya.
Dia mengatakan, yang menjadi kendala dalam pendidikan di Indonesia adalah, anak-anak yang berada di sekolah yang unggul mendapat kesempatan yang lebih baik. Oleh karenanya diperlukan program lintas sosial ekonomi agar semua anak bisa berpartisipasi dalam kompetisi secara terbuka dalam dunia yang terbuka pula.[DMF/M-5]
Harga Diri Anak di Tangan Orangtua
eran orang tua sangat besar dalam membangun prestasi anak. Jika orang tua tidak memberikan porsi yang besar bagi self esteem anak, maka anak itu pasti rendah diri. Akibatnya? Anak memiliki harga diri yang rendah.
"Kalau sudah begini, anak akan dekat dengan kriminalitas dan tidak tahan terhadap stress. Anak seperti itu tentu saja jauh dari berprestasi," kata Ketua Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3), Julianto Simanjuntak.
Dikatakan, yang ditimbulkan dari harga diri yang rendah (inferior), biasanya anak cenderung menggantungkan harga dirinya pada penilaian orang lain. Selain itu, harga diri anak yang rendah maka anak akan dekat dengan kriminalitas dan narkoba. "Anak juga tidak tahan terhadap stress," katanya.
Dikatakan, akibat adanya penghargaan dari orang tua terhadap anak maka harga diri anak dapat tumbuh dengan baik.
Menurutnya, ada lima area rasa percaya diri pada anak yang harus berkembang. Yakni, percaya diri di bidang rohani, akademik, sosial, emosi, dan fisik. "Semuanya itu harus berkembang bersama," katanya.
Rasa percaya diri pada anak, menurutnya, membuat mereka mampu mengatasi tekanan dan penolakan dari teman-teman sebayanya. Anak yang percaya diri mempunyai perangkat yang lebih lengkap untuk menghadapi situasi sulit dan berani minta bantuan jika mereka memerlukannya.
Mereka juga jarang diusik. Justru mereka sering mempunyai daya tarik yang membuat orang lain ingin bersahabat dengannya. Mereka tidak takut untuk berprestasi baik di sekolah, atau untuk menujukkan bahwa mereka memang kreatif.
Percaya diri anak bukan merupakan bawaan dari lahir, juga tidak begitu saja turun dari langit. Yang pasti, anak-anak mudah sekali merasa rendah diri, merasa tidak mampu, tidak penting, karena ada banyak hal yang harus dipelajari. Anak-anak memerlukan dorongan dan dukungan secara berkesinambungan. Jika orang tua dapat berperan dengan baik, anak-anak akan memiliki harga diri yang positif.
"Untuk membuat anak mampu berprestasi maka tanamkanlah kepercayaan yang besar padanya," katanya.
Pasangan suami-istri Simon Subianto dan Fonny Lomanoreh menuturkan, untuk mendorong anak berprestasi, orangtua harus selalu bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan talenta.
"Selalu bersyukur. Anak harus menikmati kegiatan yang dilakukannya. Jangan sampai anak tertekan saat melakukan kegiatannya. Kalau dia sedang belajar sains, ya dia memang senang terhadap pelajaran itu, bukan karena kami paksa. Biasanya kami selalu bertanya, apakah kamu senang," kata Simon, orangtua dari peraih medali perak di ajang International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke V di Mataram.
Simon menuturkan, orang tua harus mengingatkan jadwal kegiatan anak karena anak-anak sering lupa atau belum mampu untuk melakukan perencanaan atau menyusun agenda secara baik. "Kami berkewajiban untuk mengingatkan sambil mengajari anak untuk bisa mem-bagi waktu. Misalnya, kapan bermain, kapan belajar, dan kapan untuk menonton TV," katanya.
Ditanya bagaimana memotivasi kepada anak saat menjelang olimpiade, Simon menuturkan, dirinya selalu memberikan gambaran bahwa kompetisi
merupakan bagian dari kehidupan nyata. "Kami berharap, anak kami sadar
sendiri atau malu bila prestasinya lebih jelek dari teman-temannya dan memberikan gambaran bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh usahanya di masa kanak-kanak," katanya. [W-12]
Trik Mendorong Anak Berprestasi
p Sediakan peralatan untuk mendorong anak belajar, seperti bahan permainan yang bisa merangsang rasa ingin tahu seorang anak, yaitu alat lukis, komputer, puzzle dan sebagainya.
p Ciptakan kehidupan teratur dalam keluarga. Keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang sesama anggota keluarga sangat membantu mendukung perkembangan kemampuan anak.
p Kebiasaan orang tua mendongeng akan mendorong kemampuan anak untuk membaca dan si anak memiliki perbendaharaan kata yang kaya, serta memberi mereka pengalaman.
p Dorong anak untuk gemar membaca dengan memberikan contoh masing-masing anggota keluarga memiliki kumpulan buku masing-masing. Kesukaan membaca akan meningkatkan kemampuan anak dan memperluas pengetahuannya.
p Anak harus didampingi dalam mengerjakan pekerjaan sekolah (PR). Dengan pendampingan si anak dapat mempelajari cara mengerjakan soal yang baik dan benar.
p Orang tua harus memiliki hubungan yang baik dengan guru anaknya, sehingga dapat mengetahui dengan pasti perkembangan anak yang sekaligus akan mendorong si anak bersikap baik di sekolah.
p Pilih sekolah yang baik, karena standar sekolah yang baik sangat menentukan keberhasilan seorang anak di sekolah. Namun harus juga diperhatikan standar yang sekolah yang sesuai dengan karakteristik si anak, sehingga akan membantu perkembangan seorang anak.
p Jangan lupa, sejak dini anak harus diajari disiplin karena jika sejak kecil sudah disiplin, seorang anak dengan mudah bisa melakukan setiap tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar