10 Juli 2008

Orangtua Kecewa Dipermainkan Sekolah

[JAKARTA] Sejumlah orangtua siswa yang anaknya hendak melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kecewa dengan perilaku guru di beberapa sekolah yang terkesan mempermainkan standar nilai sebagai syarat penerimaan.

Suwarni, seorang Ibu di Cawang kepada SP, di Jakarta, Kamis (10/7) mengatakan, guru terkesan mempermainkan standar angka mata pelajaran yang pada akhirnya dijadikan alasan bernegosiasi dan memungut uang pada orangtua. "Suami saya sempat kesal, karena anak saya yang bernama Fanny saat mendaftar melihat pengumuman di internet dengan standar nilai terendah dari salah satu mata pelajaran 7,30, tetapi di sekolah diberi pengumuman tertulis minimal 7,50," katanya.

Dengan nilai terendah 7,388, sang anak mendaftar di SMK 24, setelah sebelumnya mendaftar di beberapa SMK lain, seperti SMK 10 dan SMK 12, tetapi juga tidak diterima. "Penetapan standar seperti ini sudah jadi mainan guru cari duit. Saya sudah pusing harus daftar mengantre dan menunggu berhari-hari, hasilnya malah mengecewakan," katanya.

Dia berharap, jika sistem standar nilai minimal sebagai syarat harus dipatok dari awal, sehingga yang nilainya tidak mencapai tidak perlu ikut-ikut antre dan mencari sekolah lain yang standarnya lebih rendah. "Saya bingung sama Depdiknas yang mengkampanyekan wajib belajar dan melanjutkan sekolah, tetapi cari sekolah saja sulit," katanya.

Setelah tidak diterima di SMK Negeri, akhirnya memutuskan tidak mendaftar lagi untuk gelombang kedua di SMK negeri, tetapi mendaftarkan anaknya di SMK swasta di Jakarta Timur.

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Menengah dan Perguruan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta, dari 62 SMKN hanya mampu menjaring 15.548 siswa atau 37,4% dari jumlah siswa baru yang mendaftar sebanyak 41.575 orang. Sedangkan, dari 116 sekolah SMAN, bangku kosong yang tersedia hanya 30.616, sedangkan jumlah siswa yang mendaftar sebanyak 46.791 orang atau hanya terjaring 65,4%. [IGK/B-15]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/10/index.html

Tidak ada komentar: