Di tempat-tempat itulah para siswa SDN Percontohan 12 Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, mengisi hari-harinya saat berada di luar ruang kelas. Di situ mereka belajar mengenal alam dan lingkungan beserta makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, bersosialisasi dengan sesama, dan belajar memahami aturan berlalu lintas. Pendek kata, kondisi itu diciptakan untuk membuat siswa-siswi betah berada di lingkungan sekolah.
SDN ini sedang menerapkan program Adiwinata. Ini adalah salah satu program Kementerian Negara Lingkungan Hidup untuk mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dengan penerapan program itu, sekolah memiliki kebijakan, kurikulum, partisipasi, dan prasarana yang memihak kepada lingkungan.
Adalah Hazniel Tiara bersama pengurus Komite Sekolah dan penyelenggara pendidikan di sekolah itu yang punya peran penting dalam menciptakan kondisi tersebut. Empat tahun lalu, kondisi sekolah ini --sebagaimana sekolah-sekolah negeri umumnya-- sungguh tidak layak sebagai tempat belajar. Hazniel menggambarkan kondisinya masa itu mirip gudang, tempat penyimpanan barang-barang yang tidak terpakai.
Kala itu, 2004, pria yang bekerja sebagai konsultan pendidikan itu sengaja mendaftarkan anak sulungnya di sekolah ini. Ia tak memilih sekolah swasta yang bagus kualitasnya dengan alasan orangtua mempunyai tanggung jawab memajukan sekolah negeri.
Melihat kenyataan kondisi sekolah yang tak layak, pikiran Hazniel langsung melayang jauh, melintasi benua. Ia melihat betapa kontrasnya lembaga pendidikan tempatnya anaknya bersekolah dengan sekolah-sekolah yang ada di Jerman, negara tempat ia pernah kuliah.
Sekolah-sekolah di negeri itu, Hazniel mencontohkan, selain gratis, fasilitasnya pun lengkap. Anak didik punya sarana untuk mengekspresikan diri, punya ruang untuk mengembangkan bakat dan kreativitas mereka. ''Bagaimana anak-anak di SDN 12 Bendungan Hilir bisa berkreasi dan mengembangkan diri dalam keterbatasan fasilitas?'' Dia membantin.
Hazniel tak muluk bermimpi menyamakan sekolah anaknya dengan sekolah-sekolah yang ada di Eropa. Lulusan Teknik Ilmu Bahan salah satu perguruan tinggi di Jerman ini hanya menginginkan suasana dan lingkungan sekolah yang daat membuat siswa betah di sekolah.
Persoalannya, bagaimana memulainya? Hazniel menyatakan tak punya dana yang memadai untuk mewujudkan impiannya. Orangtua siswa lain, setali tiga uang. Apalagi, menurut dia, sekitar 80 persen orangtua siswa di sekolah ini tergolong kurang mampu. ''Kami cuma punya niat,'' ucap ayah dua anak kelahiran Jakarta, 10 September 1969, ini.
Justru modal niat itulah yang menjadi pemicu semangat untuk melangkah maju. Bersama pengurus dan anggota Komite Sekolah yang lain, Hazniel mengajak pengelola sekolah melakukan perbaikan. Sebuah gagasan untuk membuat sekolah yang lumayan bagus dilengkapi berbagai faslitas pun tercetus.
Proposal disusun, lalu diajukan ke Dinas Pendidikan setempat. ''Kami juga menyampaikan gagasan itu ke Wali Kota (Jakarta Pusat),'' tuturnya. Gayung bersambut, panci pun ketemu tutup. Gagasan membangun SDN 12 Bendungan Hilir menjadi sekolah yang bagus disepakati pemerintah daerah.
Sekolah lama dirobohkan. Pemerintah DKI Jakarta mengucurkan dana, melakukan renovasi total bangunan sekolah. Renovasi dilakukan dua tahun: 2006-2008. ''Masa revovasi ditergetkan tiga tahun, tapi Januari 2008 sudah diresmikan,'' kata Hazniel.
Selama masa itu, apa boleh buat, anak didik menumpang belajar di sekolah lain yang ada di sekitarnya. Mereka belajar di waktu petang, usai jam belajar anak didik di sekolah ini.
Fasilitas
Sekolah baru berlantai tiga terbangun, tapi fasilitas pendukung untuk proses belajar-mengajar masih jauh dari memadai. Kembali Hazniel mengajak pengurus Komite Sekolah duduk bersama. Mereka berembuk, mencari cara untuk memenuhi fasilitas yang dibutuhkan. Lahirlah gagasan mengajak perusahaan-perusahaan besar yang ada di gedung-gedung tinggi di bilangan Jl Sudirman untuk bekerja sama. Pemetaaan pun disusun. ''Tapi, kita tidak pernah minta uang. Kami tawarkan program,'' kata dia.
Benar, tak ada upaya sia-sia bila dilandasi oleh niat tulus. Program yang ditawarkan Hazniel berbuah manis. Sejumlah perusahaan yang berada di sekitar sekolah mengulurkan tangan. Ada pula orangtua siswa yang ikut membantu. ''Ada orangtua yang memberi lima unit komputer,'' ujarnya.
Kini, sekolah yang terletak di Jl Taman Bendungan Jatiluhur, Jakarta Pusat, itu bisa menjadi sekolah percontohan. Sekolah berlantai tiga itu memiliki taman sekolah yang asri: Tempat anak didik mengembangkan kreativitas dan mencintai lingkungan. Gedung sekolah telah dilengkapi dengan ruang serba guna, laboratorium sains, peralatan drum band, dan perpustakaan. Untuk mengembangkan perpustakaan, misalnya, ia tak segan 'berguru' kepada anak-anak muda di Forum Indonesia Membaca.
Hazniel mulai lega. Impiannya membangun SDNP 12 Bendungan Hilir seperti sekolah-sekolah yang ada di Jerman mendekati kenyataan. Tapi, Wakil Ketua Komite Sekolah ini masih punya mimpi yang lain. Ia berniat meningkatkan kualitas pengajar di sekolah itu. ''Sumber daya manusia dan manajemen yang masih menjadi kendala,'' ucapnya.
Mimpi itu akan menjadi kenyataan. Bekerja sama salah satu perusahaan, kini tengah dirintis pelatihan guru di Jakarta International School, salah satu sekolah internasional yang ada di Jakarta. ( burhanudin bella )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar