14 Juni 2008

Para Siswa Peraih Nilai Unas Tertinggi di Surabaya * Belajar Enam Jam Per Hari di Bimbel


JP 14 Juni 2008 - RETNO Dinanti Kusuma Wardhani, siswa SMAN 5, meraih nilai unas 57, 70. Kawannya, Risky Meisar Yeremia, meraih 57, 50. Mereka adalah peraih nilai unas tertinggi pertama dan kedua di Surabaya. Untuk seluruh Jatim, Retno peringkat dua dan Meisar peringkat empat.

Retno dan Meisar adalah peraih nilai unas teratas untuk jurusan IPA. Tapi, di Surabaya, nilai mereka juga lebih tinggi daripada peringkat tertinggi jurusan lain.

''Yang benar? Jangan-jangan salah orang, bukan saya,'' ungkap Retno saat akan diwawancarai kemarin (13/6) siang.

Tapi, kabar tersebut memang tak salah. Retno meraih nilai tertinggi. Total, dia meraih 57,70. Jika dibagi enam mata pelajaran, rata-rata 9,6. Nilai tersebut amat tinggi.

''Kaget, tidak menyangka,'' kata Retno. Boleh jadi, putri tunggal pasangan Herman Sasongko dan Agustini Widowati itu merendah. Sebab, di sekolah, dia amat berprestasi. Alumnus SMPN 1 Surabaya tersebut tak pernah tersisih dari peringkat pertama sejak kelas X dan XI. Dua tahun penuh, dia duduk sebagai jawara di kelasnya.

Tapi, ''penurunan'' memang terjadi pada kelas XII. Dia tak lagi nomor satu. Semester lalu, dia harus rela duduk di peringkat tiga di kelasnya, kelas XII IPA 6.

Menurut Retno, prestasinya drop saat masuk kelas XII. Maklum, di kelas yang baru itu, seluruh siswa semakin giat berlomba mendapatkan nilai terbaik. ''Persaingan semakin berat. Semuanya berlomba bisa jebol PMDK (penelusuran minat dan kemampuan, Red) di perguruan tinggi negeri (PTN) favorit,'' sambung gadis kelahiran Surabaya, 20 Oktober 1989, itu.

Namun, penurunan prestasi dari jawara ke peringkat tiga itu justru membuat Retno kian giat. Dia tak rela melihat kursi jawara begitu saja direbut orang. Retno pun rela dua kali dalam seminggu ''lembur'' di lembaga bimbingan belajar (bimbel). Dua kali seminggu, dia harus belajar di bimbel mulai pukul 14.00-pukul 20.00. Enam jam penuh!

''Sebetulnya, saya termasuk yang nggak suka les. Tapi, melihat unas jadi enam mapel, mau tak mau saya harus persiapan,'' tutur pelajar yang lulus PMDK prestasi Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu. Jadilah, dia rajin ke tempat bimbel. Dukungan orang tua amat membantunya.

Saat capai belajar di rumah, ayah dan ibunya tak berani memaksanya belajar. Retno menyatakan termasuk tipe yang ''bandel.'' Artinya, kalau dipaksa-paksa, dia malah menolak.

Persiapan unas akhirnya lancar dijalani. Seluruh mapel dipelajari dengan baik, walaupun dia mengaku masih menemukan kesulitan dalam mengerjakan soal bahasa Indonesia, yang menurut dia tak pasti karena tak ada rumusnya. ''Unas lancar, tapi sempat kaget. Ternyata, soal-soalnya jauh lebih susah ketimbang SKL (standar kompetensi lulus) yang diberikan sekolah,'' paparnya.

Tapi, tentu semuanya dikerjakan dengan baik. ''Tapi, sempat takut juga. Maka, nggak ada harapan apa-apa. Yang penting lulus,'' ungkap penyuka fisika itu.

Kenyataan bahwa nilainya adalah tertinggi nomor dua di Jatim dan nomor wahid di Surabaya tentu membuatnya kaget. Dia pun mengucap syukur berkali-kali. Sebab, tak hanya dia yang merasakan kebahagiaan. Orang tuanya begitu bersemangat mendengar kabar itu.

Herman Sasongko, papa Retno, bahkan langsung mengantarkannya ke sekolah untuk diwawancarai. Padahal, kata Retno, kemarin ayahnya sedang ada rapat di ITS, kampus tempat Herman mengajar. ''Di jalan, papa tadi cerita. Katanya beberapa waktu lalu sempat mimpi saya nggak lulus. Tapi tidak cerita, takut saya down,'' katanya. ''Eh, ternyata nilai saya malah bagus. Sungguh tidak ada firasat,'' sambungnya lantas tergelak.

Keterkejutan juga dirasakan Risky Meisar Yeremia, kawan Retno di kelas XII IPA 6 SMAN 5. Siswa kelahiran Surabaya, 20 Mei 1990 itu tak menyangka nilai yang diraihnya bisa begitu tinggi. Terpaut 0,2 saja dengan Retno. Padahal, saat mengerjakan unas, dia juga mengalami sedikit kesulitan.

''Soalnya lebih susah, itu jelas. Tapi, saya mengerjakan dengan baik,'' sambungnya. Urusan persiapan unas, Meisar bisa dibilang lebih ''total'' ketimbang Retno. Mengikuti bimbel sejak masuk kelas XII, dia rela menghabiskan waktu di lembaga tersebut enam jam tiga kali seminggu. Khususnya masa-masa menjelang unas.

Meskipun kecapaian, lama-lama dia terbiasa. Dia yakin, apabila ingin mendapatkan hasil maksimal, dirinya harus bekerja keras. Persiapan Meisar menghadapi unas tak hanya berhenti pada kegiatan akademis.

Penguatan di sisi rohani dijalani. Satu bulan menjelang unas, dia melakukan puasa Senin dan Kamis. Meisar yakin, apabila dirinya berpasrah diri kepada Tuhan, Tuhan akan siap membantunya kapan saja.

Tapi, meskipun sudah persiapan mati-matian, Meisar mengaku tetap deg-degan menghadapi pengumuman unas. ''Apalagi seminggu terakhir, wah...,'' lanjutnya sambil tersenyum. Dia mengaku prestasinya sebetulnya tak semengkilat Retno. Saat duduk di kelas X, dia hanya masuk 10 besar.

''Kelas XI juga cuma peringkat III,'' ujarnya. Nah, pada semester lalu, dia melorot lagi ke posisi sembilan. ''Jadi sempat tidak percaya diri,'' sambungnya.

Namun, mendengar pengumuman kelulusan kemarin, dia menyatakan lega. Usaha belajar dan doanya tak sia-sia. Posisinya sangat aman sekarang. Selain mengantongi tiket masuk jurusan teknik arsitektur dari Universitas Brawijaya (lewat jalur PMDK), dia masih berkesempatan melanjutkan di PTN bergengsi lain.

Saat ini, Meisar sedang menunggu pengumuman ujian masuk bersama (UMB). Dia menembak jurusan akuntansi Universitas Indonesia (UI). Dia amat berharap bisa masuk di PTN kenamaan itu. ''Dua-duanya saya suka. Tapi kalau boleh memilih, saya pilih akuntansi UI,'' tuturnya.

Tidak ada komentar: