07 Juni 2008

Nasionalisme "Nonton Bareng"


Oleh BUDIARTO SHAMBAZY

Tanggal 19 September 1945 tiga ribuan orang menghadiri rapat raksasa di Lapangan Ikada. Rapat itu menggentarkan Jepang dan Sekutu karena membuktikan rakyat siap menumpahkan darah.

Massa yang marah ditenangkan Presiden Soekarno. "Saudara-saudara percaya kepada saya? Nah, kalau percaya, pulanglah dengan baik. Percayakanlah hal ini untuk kami selesaikan," bujuknya.

Berkat peristiwa itu, perlawanan rakyat menyebar ke seluruh negeri. Itu sebabnya jalan-jalan yang mengelilingi Monas diimbuhi kata "merdeka" dan di lapangannya dibangun "Monumen Nasional".

Monas wilayah ring satu yang wajib steril karena simbol sejarah dan lambang yang sarat makna. Istana RI-1 dan RI-2 saling berhadapan di Jalan Merdeka Selatan dan Utara.

Di Jalan Merdeka Barat ada Museum Nasional yang menyimpan perjalanan peradaban bangsa. Di Monas ada Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berdampingan sebagai cermin harmoni antaragama.

Ada instansi vital seperti Mabes Kostrad, PLN, Kedutaan Besar AS, RRI, atau Bank Indonesia. Lebih dari itu, Monas saksi sejarah perjalanan republik sejak penjajahan sampai kini.

Setelah 17 Agustus 1945 Monas tiga kali ternoda. Pertama penodaan demo ribuan massa di depan istana 17 Oktober 1952 yang memprotes Bung Karno.

Penodaan kedua dilakukan pasukan liar yang menduduki sebagian wilayah Monas, termasuk Gedung RRI, 1 Oktober 1965. Sebelum pendudukan, mereka menculik dan membunuh tujuh Pahlawan Revolusi.

Penodaan ketiga terjadi di Monas 1 Juni lalu bertepatan dengan Harlah Pancasila. Tiga kali sudah wibawa istana, yang rumah rakyat itu, dirongrong wibawanya.

Namun, bobot penodaan berbeda. Dalam peristiwa 17 Oktober 1952 Bung Karno menerima pendemo, berpidato, dan menyuruh mereka "balik kanan" sehingga bentrok tak terjadi.

Pada penodaan kedua, Pak Harto dan pasukannya, Kostrad, mengambil keputusan cepat. Pendudukan tak dibiarkan lama dan Gerakan 30 September ditumpas habis.

Penodaan ketiga mengundang tanda tanya. Ia mengoyak keamanan nasional dan kebhinnekaan yang wajib dilindungi pemerintah dari gangguan oleh siapa saja.

Kata "nasional", payung yang menaungi bangsa, mengalami degradasi. Bangsa yang mengindahkan kenasionalannya bagaikan telur di ujung tanduk.

Celakalah pemerintah dan aparat keamanan yang lalai menjaga kenasionalan itu. Rakyat bertanya, "Kalau begitu, apa sebenarnya fungsi sebuah pemerintah?"

Penodaan itu bukan saja bersifat fisik, tetapi merendahkan Pancasila, mengejek Garuda, melanggar Bhinneka Tunggal Ika, dan tak sesuai dengan UUD 1945. Bangsa ini, seperti kata Bung Karno, sedang vivere pericoloso.

Kenasionalan disepélékan pula saat Universitas Nasional, yang berdiri tahun 1949, diserbu. Lucunya, serbuan itu berbeda dengan sikap aparat yang lunak menghadapi apa yang terjadi di Monas.

Sikap serupa diperlihatkan sebagian masyarakat terhadap demo mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM. Saya bingung dengan opini mereka.

Pertama, demo dinilai anarki. Mana yang lebih anarki: demo aspirasi rakyat atau keputusan menaikkan harga BBM tiga kali dalam tiga tahun?

Demo tidak simpatik karena membakari ban-ban bekas. Sampai kini tak ada yang bertanggung jawab atas pembakaran manusia dan harta benda rakyat tak bersalah saat Tragedi Mei 1998.

Demo mengganggu ketertiban umum karena menutupi jalan-jalan. Selama puluhan tahun warga kaya dan miskin Jakarta menutupi jalan dengan portal atau menjadikan jalur lambat sebagai tempat parkir pribadi.

Mereka yang terganggu demo selama puluhan tahun sudah terlalu lama teperdaya. Begitu ada kambing hitam baru, yang namanya mahasiswa, terjadilah penudingan massal.

Hal yang mengerikan dari penudingan massal adalah ia cermin dari perlakuan orangtua terhadap anaknya. Anak sendiri dianiaya, sementara tetangga—mereka yang berbuat onar di Monas—kok malah dibela?

Sudah terlalu banyak pihak yang kurang layak lagi menyandang status "nasional". Salah satunya tim nasional sepak bola.

Saat perayaan Harkitnas 20 Mei lalu di Stadion Bung Karno, rumput lapangan diinjak-injak ribuan orang. Niatnya sih mau bangun, tetapi rumputnya malah tidak pernah bangkit alias mati.

Rumput yang mati simbol tim nasional yang tak bergigi lagi. Berhubung tim nasional tak berprestasi, perhatian penggemar beralih ke Piala Eropa 2008 yang dimulai malam nanti.

Penggemar menggila-gilai Ronaldo dari Portugal atau Andrea Pirlo dari Italia. Padahal, mereka bukan teman, tetangga, apalagi saudara.

Mereka pembela fanatik salah sebuah dari 16 tim nasional di Eropa, benua yang adanya nun jauh di sana. Mereka berduyun-duyun menyaksikan pertandingan menegangkan dan bermutu, baik di bar, restoran, maupun rumah.

Ya, Piala Eropa bisa menjadi pengalih perhatian yang mujarab dari demo mahasiswa. Kalau saja jadi penguasa, saya akan pasang monitor raksasa di mana-mana untuk menghibur rakyat jelata menyaksikan Piala Eropa.

Saya cari dana untuk beli hak siar Piala Eropa. Empat monitor raksasa terbesar saya pasang di Bundaran Air Mancur, Istana, Stasiun Gambir, dan depan Gedung Pertamina.

Saya tahu bangsa ini gemar nasionalisme nonton bareng. Mereka senang jadi penonton yang pasif saja, suka yang heboh-heboh, dan gampang dialihkan perhatiannya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/07/01530222/nasionalisme.nonton.bareng

Tidak ada komentar: