05 Juni 2008

Menanggulangi Stres Menjelang Ujian Nasional

Jalaludin
Guru Bahasa Indonesia dan Pustakawan di SMPN 3 Bandung.

Ujian nasional (UN) sering kali dianggap sebagai tolak ukur keberhasilan siswa dalam melaksanakan belajar secara tuntas di sekolah. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah keberhasilan siswa dalam belajar selama bersekolah hanya ditentukan oleh beberapa hari dalam ujian nasional? Kenyataan yang berkembang selama ini seolah-olah membenarkan pendapat tersebut. Hal tersebut, memunculkan perasaan yang meresahkan di kalangan siswa, orang tua bahkan para guru di sekolah yang bersangkutan.

Situasi seperti ini, adakalanya memunculkan perasaan tegang atau stres. Terutama terhadap diri siswa yang akan menjalani UN. UN sering kali dianggap sebagai ajang mempertaruhkan reputasi diri, selama siswa tersebut menimba ilmu sekian tahun di sekolah masing-masing. Dan yang paling mengkhawatirkan, munculnya fenomena penyimpangan stres yang terjadi terhadap siswa yang gagal dalam menempuh UN.

Kalau kita amati dengan saksama, fenomena penyimpangan stres di kalangan siswa, orang tua, dan para guru ketika menjelang dan sesudah ujian, harus menjadi bahan renungan dan evaluasi diri secara menyeluruh. Bagaimana tidak, hal-hal yang tidak diinginkan dan tak sepatutnya muncul menjadi penyimpangan perilaku, sebagai konvensasi dari tekanan yang dirasakan.

Fenomena-fenomena penyimpangan stres di kalangan siswa, orang tua dan para guru ketika menjelang dan sesudah ujian, antara lain:
- Siswa berbuat curang dengan cara mencontek
- Orang tua ada yang berani membeli bocoran soal dengan harga yang cukup tinggi
- Ada oknum guru yang menjadi tim sukses dengan menyediakan jawaban soal

Penyimpangan sesudah UN:
- Siswa yang tidak lulus menjadi minder
- Merusak gedung sekolah,
- Bunuh diri.

Stres dapat dialami oleh setiap orang, tidak mengenal usia, jenis kelamin, kedudukan maupun jabatan. Gejala-gejala stres mencakup mental, sosial dan fisik. Hal-hal ini meliputi kelelahan, kehilangan atau meningkatnya napsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur dan tidur berlebihan. Menggunakan alkohol, narkoba, atau perilaku kompulsif lainnya sering merupakan indikasi-indikasi dari gelaja stres. Perasaan was-was, frustrasi, atau kelesuan dapat muncul bersamaan dengan stres.

Sebagian besar, perasaan stres atau tegang yang dialami oleh siswa ketika akan menghadapi ujian merupakan respons (reaksi) yang berupa perasaan tidak nyaman atau tertekan terhadap tuntutan, bahwa ujian nasional adalah penentu kelulusan. Dari beberapa siswa yang dijadikan sampel oleh penulis untuk dimintai pendapatnya mengenai masalah ini (stres menghadapi UN), penulis mencatat sebagian besar siswa mengalami ketegangan saat akan menghadapi ujian nasional dengan beberapa alasan sebagai berikut:

- Takut tidak lulus
- Takut soalnya susah
- Takut hasilnya tidak memuaskan walaupun lulus ujian
- Takut tidak bisa masuk sekolah favorit.
Penulis mencatat hanya sebagian kecil yang menganggap bahwa stres hanya akan menambah beban dan mengganggu konsentrasi belajar saat menghadapi ujian nanti.

Manajemen Stres
Stres atau tegang, kalau tidak diatur dengan baik dapat berpengaruh negatif terhadap kondisi fisik dan mental siswa itu sendiri. Tetapi, kalau dikelola dengan tepat, stres dapat menjadi energi positif sebagai pemacu semangat untuk meraih prestasi. Kalau kita tarik benang merahnya, maka akan muncul beberapa faktor yang menyebabkan stres atau ketegangan menghinggapi para siswa. Dari faktor yang muncul tersebut, kita bisa membuat solusinya penanggulangannya.

Apa yang dapat kita lakukan untuk mengatur stres tersebut? Strategi-strategi apa yang ada? Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan ketika stres itu muncul:

- Perhatikan lingkungan sekitar
- Belajarlah cara terbaik untuk merelaksasikan diri
- Tentukan tujuan yang realistis bagi diri sendiri
- Siapkan segala sesuatunya dengan tepat dan terencana
- Jangan membebani diri secara berlebihan
- Jangan mempermasalahkan hal-hal yang sepele
- Hindari reaksi yang berlebihan
- Berdoa dan memohon kemudahan dari Allah SWT
- Tidur secukupnya
- Cobalah untuk menjadi seseorang yang positif

Terlepas dari semua faktor stres yang timbul pada diri siswa, maka peran serta guru dan orang tua sebagai motivator dalam hal ini sangatlah penting. Guru harus mampu meluruskan persepsi siswa tentang ujian nasional. Dan, membekali siswa dengan pengetahuan yang cukup agar siswa merasa lebih siap menghadapi soal-soal yang akan diujiankan.

Sedangkan orang tua, harus mampu merespons kebutuhan anak terutama dalam hal motivasi baik secara fisik maupun mental. Jangan pernah membebani anak dengan tuntutan dan ancaman. Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah sesuai dengan kebiasaan anak.

Bagi siswa itu sendiri, tanamkan pada diri Anda bahwa Anda dapat mengatasi segala sesuatu dengan baik daripada hanya memikirkan betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi.

Stress sebenarnya dapat membantu ingatan, terutama pada ingatan jangka pendek dan tidak terlalu kompleks. Stress dapat menyebabkan peningkatan glukosa yang menuju otak, yang memberikan energi lebih pada neuron. Hal ini, sebaliknya, meningkatkan pembentukan dan pengembalian ingatan. Di sisi lain, jika stress terjadi secara terus-menerus, dapat menghambat pengiriman glukosa dan mengganggu ingatan. ( )

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=336300&kat_id=506

Tidak ada komentar: