"Kegagalan pembangunan kebangsaan ini antara lain terlihat dari menonjolnya pesimisme dan inferioritas di masyarakat," kata Direktur Eksekutif Lead Institute Bima Arya Sugiarto saat membahas hasil survei bertema "Pandangan Generasi Muda terhadap Masalah Kebangsaan, Pluralitas, dan Kepemimpinan Nasional", Rabu (4/6) di Jakarta.
Pembahas lain atas survei yang dilakukan Setara Institute terhadap generasi muda di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang itu adalah Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Pramono Anung W dan peneliti pada Departemen Agama, Musdah Mulia.
Pesimisme dan inferioritas, seperti yang disampaikan Bima, juga terlihat dalam hasil survei yang melibatkan sekitar 800 pemuda berusia 17-22 tahun sebagai responden. Survei menunjukkan, 50,4 persen responden bangga menjadi bangsa Indonesia. Sebanyak 33,6 persen mengaku biasa saja, 14 persen merasa malu, dan 2 persen tidak menjawab atau menjawab tidak tahu.
"Di Universitas Paramadina, tempat saya mengajar, sejumlah mahasiswa sering menyebut dengan mental ina, yang berarti Indonesia, untuk menyatakan sejumlah kebiasaan jelek, seperti menyontek. Jadi, Indonesia dipakai untuk menggambarkan hal yang buruk," lanjut Bima.
Di balik pesimisme dan inferioritas ini, generasi muda Indonesia sangat mengharapkan ada orang yang berprestasi atau memberi harapan. Ironisnya, belum ada pemimpin atau calon pemimpin yang diyakini mampu membawa prestasi bagi bangsa Indonesia. Ini pun tergambar dari hasil survei Setara Institute.
Pramono Anung menambahkan, pembangunan kebangsaan bukan hanya menjadi tugas pemimpin, tetapi juga semua elemen masyarakat. Pembangunan itu juga tak dapat dilakukan dengan hal-hal yang bersifat simbolis saja. (NWO)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar