|
| Kompas/Lasti Kurnia / Kompas Images Udenda (kanan), seorang guru sukarelawan, menampung tiga murid kelas VI SDN Cikawung yang mengungsi di rumahnya selama berlangsung ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN), di Cibitung, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (15/5). |
Oleh INDIRA PERMANASARI
Muksin sudah hampir tiga tahun mengabdi sebagai guru sukarelawan di SDN Ciroyom, sebuah sekolah terpencil di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat bagian selatan. Gaji yang cuma Rp 100.000 per bulan tidak menjadi penghalang.
Kerap muncul keinginan berhenti di benak pemuda berusia 22 tahun itu. Namun, setiap kali pula muncul wajah anak-anak yang selama ini diajarnya dan masa depan mereka. Ia pun kembali bersemangat. Sekolah-sekolah di wilayah terpencil bergantung pada keikhlasan hati para sukarelawan.
Menjadi guru sukarelawan di sekolah terpencil di Kampung Ciroyom bukan perkara enteng. SDN Ciroyom terletak di Kampung Ciroyom, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi. Kampung yang tak jauh dari Laut Selatan Jawa itu belum dialiri listrik. Sebagian besar warga kampung merupakan buruh tani atau penyadap nira kelapa.
Di SDN Ciroyom terdapat empat guru sukarelawan dan tiga guru berstatus pegawai negeri sipil, termasuk kepala sekolah.
Selain honor yang kecil, mereka juga harus menghadapi cobaan lain, yakni tidak adanya fasilitas perumahan untuk mereka. Jadilah ketujuh guru termasuk kepala sekolah tinggal di kantor sekolah yang sempit. Ruangan itu pun masih disekat untuk ruang tidur dan dapur.
Lantaran tidak ada toilet, setiap kali butuh membuang hajat, para guru terpaksa pergi ke Sungai Telanca, sekitar 500 meter dari sekolah.
"Beginilah kehidupan kami sehari-hari," kata Kepala SDN Ciroyom Sumarna.
Untuk makan sehari-hari, banyak warga yang memberikan beras saat panen. Guru-guru itu juga bergiliran memasak. Bahannya apa saja yang ditemukan di sekitar sekolah, seperti daun singkong atau jantung pisang. Kadang mereka bersama warga mencari ikan ke laut.
Sukarela
Keterlibatan Muksin menjadi guru sukarelawan berawal dari ajakan seorang mantan gurunya. Muksin masih ingat waktu itu dia sedang bermain bola ketika mantan gurunya sewaktu SD, Iskandar, memanggilnya. "Almarhum Pak Iskandar sedang menjabat Kepala SDN Ciroyom dan mengajak saya menjadi guru sukarela di sekolahnya. Waktu itu hanya beliau sendiri yang mengajar di SDN Ciroyom," ujarnya.
Muksin tidak langsung menerima tawaran itu. Selama seminggu dia berpikir keras sebelum mengiyakannya. Muksin yang lulusan D-2 Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Kependidikan Islam atau Tarbiyah ditugaskan mengajar di kelas satu.
Seiring berjalannya waktu, jumlah guru sukarelawan pun terus bertambah. Namun, sekolah tempat para guru itu mengajar bukan tempat yang nyaman.
Bangunan sekolah dan atap rusak sehingga saat hujan murid-murid dibubarkan dan guru harus menyelamatkan buku-buku dari kemungkinan terkena air hujan.
Karena dijalani dengan ikhlas, lama-kelamaan semuanya mulai terbiasa. Anak-anak menjadi sumber kegembiraan para guru mengajar di sana. Di luar jam sekolah, terkadang mereka bermain di lingkungan sekolah dan mengunjungi para gurunya.
Tidak hanya para guru sukarelawan di SDN Ciroyom yang berjuang mengajar di kondisi serba terbatas. Di SDN Cikawung ada dua guru pegawai negeri sipil dan tiga sukarelawan. Udenda, salah seorang guru sukarelawan, dibayar Rp 150.000 per tiga bulan atau sekitar Rp 50.000 per bulan yang diambil dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Medan menuju SDN Cikawung tidak jauh berbeda dengan SDN Ciroyom. Udenda, sang guru sukarelawan, juga memilih tinggal di perumahan sederhana milik sekolah.
Pada masa awal menjadi guru, Udenda hanya berdua dengan kepala sekolah yang bertugas di sekolah itu. Kemudian, satu per satu datang guru baru.
Sebagian besar guru sukarelawan tersebut belum berumah tangga dan bahkan tidak berani memikirkan berkeluarga. "Mau dikasih makan apa keluarga saya nanti dengan gaji Rp 100.000?" ujar Udenda yang sebelumnya selama dua tahun bekerja sebagai teknisi pendingin ruangan di Jakarta.
Bagi Udenda, menjadi guru merupakan pengabdian. Dia belum tahu sampai kapan bertahan menjadi guru sukarelawan. Yang jelas, saat ini, dia tidak tega meninggalkan warga di Cikawung yang membutuhkan pendidikan seperti anak-anak di daerah lain.
Muksin, Udenda, dan para guru lainnya bertahan menjadi guru sukarelawan karena pengabdian, perhatian, dan keprihatinan terhadap masa depan anak-anak di kampung terpencil.
Mereka rela berkorban dan mengabaikan kepentingan dirinya sendiri demi masa depan anak-anak yang mereka cintai.
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/03/0148223/bertahan.dengan.gaji.rp.100.000.per.bulan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar