Yang memprihatinkan lagi, terkadang banjir yang masuk ke ruangan kelas itu dicampuri dengan lumpur. Akibatnya, pihak sekolah kewalahan membersihkan lumpur-lumpur tersebut. Banjir terjadi karena air yang mengalir dari Kalibaru itu meluber ke jalanan. Saluran air yang ada, tidak dapat menampung debit air yang cukup tinggi.
Kepala SDN 11 Gedong, Asni Roslan, mengaku resah saat hujan mulai turun. "Jika turun hujan, sekolah ini pasti kebanjiran sehingga kegiatan belajar mengajar terganggu," katanya, Jumat (2/5). Tidak hanya itu, kata Asni, atap gedung sekolah juga sudah keropos. "Kalau tidak ditopang bisa berbahaya mas. Sekolah ini bisa roboh, lihat saja, semuanya sudah pada keropos," lanjut Asni.
Siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut berjumlah 260 siswa. Para siswa mengaku kegiatan belajar sering terganggu akibat ruangan kelas dan akses menuju sekolah terganggu. Terkadang, siswa di sekolah yang terletak di Jl Ujung Gedong ini harus melepaskan dan menenteng sepatunya masing-masing. Baik saat mau masuk sekolah maupun saat pulang sekolah.
Seperti dikatakan Andi, salah seorang siswa. "Ya kalau lagi banjir terpaksa sepatu kita tenteng. Karena kalau dipakai kan basah dan kaki jadi gatal-gatal," tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 22 bangunan sekolah SD dan SMI di Jakarta rawan roboh. Bahkan sejumlah gedung sekolah terpaksa ditutup untuk aktivitas belajar mengajar karena membahayakan keselamatan siswa. Sekolah yang ditutup diantranya SDN Kramatjati 21, SD Petamburan 7 dan 8, dan SMP 193, Jaktim. Penulis: NURITO

Tidak ada komentar:
Posting Komentar