
Eko (19), calon peserta Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) asal Kota Bekasi, mengisi formulir pendaftaran di pelataran kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rabu (28/6/07). Kini nama SPMB diubah menjadi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (Senam PTN atau SNMPTN). SP/Ruht Semiono
Pengantar
Penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) terus berganti nama dan terakhir bernama seleksi nasional masuk (Senam), itu pun ada yang menyebutnya SNM. Tetapi soal nama, bukanlah masalah prinsip. Persoalannya adalah bagaimana PTN membuka akses bagi calon mahasiswa dari semua lapisan masyarakat, termasuk dari keluarga miskin. Kecenderungannya, pendidikan makin dikomersialkan, sehingga rakyat miskin makin tidak punya kesempatan mengeyam pendidikan tinggi. Wartawan SP, Willy Masaharu, Marselius Rombe Baan, dan Eko B Harsono mengupas masalah penerimaan mahasiswa baru di PTN itu berikut ini.
i tengah skenario pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, masyarakat pun kembali dibuat pusing. Bagaimana tidak, orangtua yang anak-anaknya telah mengikuti ujian nasional (UN) sekolah menengah atas (SMA) dan sederajatnya beberapa waktu lalu kini sudah harus puyeng lagi.
Setelah anaknya menamatkan pendidikan menengahnya, tentu mereka juga berharap bisa menyekolah anaknya ke jenjang yang lebih tinggi ke universitas/institut. Lepas dari masalah UN, kini mereka dihadapkan pada persoalan baru, yakni menyiapkan dana yang bisa sampai ratusan juta rupiah agar anaknya masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Persoalan mahalnya biaya kuliah di PTN, sebenarnya masalah klasik yang selalu hadir dari tahun ke tahun saat tahun baru ajaran akan dimulai. Tapi, belakangan persoalan besarnya biaya pendidikan, makin merisaukan banyak kalangan terutama dari kalangan menengah ke bawah, sehingga tidak bisa dianggap remeh.
Ini persoalan bangsa yang serius, karena hal ini menyangkut hak dan keadilan bagi seluruh anggota masyarakat untuk bersama-sama mendapat pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Bagaimanapun, persoalan tersebut, tidak dibiarkan terus, sebab Pasal 31 UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara mendapatkan pendidikan.
Sejak tahun 2000 pemerintah memberikan status Badan Hukum Milik Negara (BHMN), kepada sejumlah PTN, di antaranya adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). PTN ini termasuk PT yang paling diminati oleh calon mahasiswa. Maka tidak heran, jika kemudian PTN ini selalu menjadi incaran bagi calon mahasiswa baru.
PT yang berstatus BHMN dan menjadi cikal bakal menuju badan hukum pendidikan (BHP), tampaknya kini menjadi suatu hal yang bergengsi dan membanggakan dalam dunia PT. Tetapi, bagaimana dengan nasib mahasiswanya?
Awal Petaka
Sejak berstatus BHMN keempat PTN ini makin mandiri saja mencari dana. Sebab pemberian status BHMN itu juga berarti tidak mendapat subsidi lagi dari pemerintah. Dengan kata lain, PTN yang bersangkutan memiliki kebebasan sendiri untuk mencari dana operasional pendidikannya masing-masing.
Bagi pihak PTN yang berstatus BHMN tentu saja hal ini menguntungkan dengan alasan bahwa untuk menciptakan pendidikan yang bermutu perlu biaya besar dan mahal. Sebaliknya, bagi kalangan bawah, ini merupakan awal petaka.
Seiring dengan pelaksanaan otonomi perguruan tinggi, sejumlah PTN membuka berbagai jalur penerimaan mahasiswa baru. Selain melalui Senam PTN, banyak pula jalur khusus, termasuk untuk yang berprestasi dalam bidang seni.
Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Somantri, saat berbincang dengan SP, seusai acara peresmian Mochtar Riady Institute for Nanotechnology, di Tangerang, Banten, Selasa (13/5), mengatakan, UI tidak akan mengurangi kursi dalam sistem penerimaan mahasiswa baru. Sebab, sistem ini dinilai sangat efektif dan efisien dalam sistem penerimaan calon mahasiswa.
"UI tidak pernah mengurangi jatah kursi bagi mahasiswa reguler. Kami masih 100 persen mengandalkan sistem yang memungkinkan calon mahasiswa dari berbagai lapisan masyarakat bisa masuk PTN," katanya.
Gumilar menerangkan, kursi bagi calon mahasiswa baru yang disiapkan UI sebanyak 4.500 kursi. "Kursi sebanyak itu murni untuk menampung calon mahasiswa reguler jenjang strata 1 dari hasil tes Senam PTN. Jadi, UI tidak pernah mengurangi jatah kursi di SNMPTN," katanya.
Mengenai kursi yang disediakan UI di luar Senam PTN, dia menerangkan, ada sekitar 3.500 kursi yang tersedia bagi program nonreguler. Misalnya, program diploma dan jalur ekstensi. "Jalur ekstensi ini tentunya program pascasarjana dan bukan reguler. Jadi, total kursi yang disediakan sekitar 8.000 kursi," ucapnya.
Tentang masalah jika ada mahasiswa berprestasi, namun berasal dari kalangan tidak mampu, dia menegaskan, tidak pernah ada mahasiswa pintar dan berprestasi namun miskin tidak bisa kuliah di UI.
"Mereka justru harus terus kuliah. Tidak benar itu bahwa UI tidak menerima mereka. Justru kami menampungnya. Dan kuota 20 persen kursi tersedia bagi mereka yang lulus Senam PTN nanti. Belum lagi, di luar, UI juga aktif mencari siswa-siswa berprestasi, khususnya dalam bidang seni," katanya.
Jumlah mereka yang diterima di luar sistem baku, katanya, memang tidak signifikan. Misalnya, siswa-siswa yang juara 1 olimpiade tentunya langsung masuk UI tanpa tes.
Tidak Mahal
Disinggung mahalnya uang kuliah, dia membantah. Dia juga membantah anggapan, jika mahasiswa dari jalur khusus diterima, karena sanggup membayar berlipat ganda dari mahasiwa jalur Senam PTN.
Penerimaan mahasiswa UI lewat jalur kerja sama daerah dan industri (KSDI) dengan bayaran uang pangkal Rp 10 juta - Rp 30 juta, sedangkan untuk Fakultas Kedokteran Rp 400 juta dan Fakultas Kedokteran Gigi Rp 300 juta per mahasiswa, haruslah memenuhi syarat awal dari kelas 1 SMA masuk ranking 1-10 serta lulus seleksi UI.
"UI akan tetap menjadi mozaik Indonesia. Siapa saja, termasuk mereka yang kurang mampu dari seluruh Indonesia, harus bisa kuliah di sini," katanya. Setelah mereka masuk UI, mahasiswa kurang mampu diberikan beasiswa yang didasarkan pada prestasi si mahasiswa tersebut. "Dengan adanya beasiswa, potensi besar mahasiswa daerah yang kurang mampu bisa terus berlanjut," katanya.
Selain itu, lanjutnya, mahasiswa kurang mampu bisa diberikan pinjaman tanpa bunga.
Dia mencontohkan, di Harvard University, Amerika Serikat, mahasiswa kurang mampu diberikan pinjaman sesuai kebutuhan mereka. Tujuan pemberian pinjaman ini tentu saja untuk menjalin hubungan. Ada beberapa skema yang ia paparkan, di antaranya, beasiswa bebas sepenuhnya, bebas sebagian dengan hanya membayar beberapa beban kuliah, bantuan biaya hidup selama kuliah, hingga skema pinjaman lima tahun hampir tanpa bunga. "Tentu prioritas kepada mahasiswa kurang mampu," katanya.
Mengenai sumber pendanaannya, dia menyatakan, untuk beasiswa sepanjang tahun 2006 saja mencapai Rp 25 miliar. Untuk tahun 2007 Rp 850 miliar, dan tahun 2008 mencapai sekitar Rp 1,4 triliun.
Ditambahkan, UI juga akan menggalang sumber dana baru. Salah satunya akan bertumpu pada sumber dari kedermawanan sosial (filantropi).
Selain program S-1 reguler, dia menambahkan, guna mencapai mutu yang lebih baik, maka UI membuka kelas internasional untuk Fakultas Kedokteran, Teknik, Ekonomi, Psikologi, dan Ilmu Komputer. "Biaya kuliah per semester tiga kali lipat program S-1 reguler," katanya.
Sementara itu, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto mengemukakan, guna membantu mahasiswa yang kurang mampu untuk tetap terus kuliah, pihaknya telah menerapkan subsidi silang.
Dari total 25.000 mahasiswa di IPB, ada sekitar 18 persen dari jumlah mahasiswa yang orangtuanya berpenghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan, sekitar 43 persen berpenghasilan Rp 2 juta-Rp 3 juta per bulan, dan sisanya di atas Rp 3 juta per bulan. Karena itu, katanya, IPB memberi subsidi bagi mahasiswa dari kalangan tidak mampu sebesar Rp 12 juta per orang per tahun.
Penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN hanya 20 persen atau 748 bangku. Peluang kuliah di kampus ini justru terbuka lebar bagi calon mahasiswa yang berprestasi selama di SMA melalui undangan masuk seleksi IPB yang kapasitasnya 70 persen atau 2.270 bangku.
Dikatakan, IPB masih berpegang pada komitmen untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi calon mahasiswa dari daerah. Untuk membiayai mahasiswa yang kurang mampu, dia menuturkan, IPB melakukan sejumlah terobosan kebijakan.
''Salah satunya dengan menjual monyet jenis makaka. Monyet itu untuk uji coba serum atau untuk pembuatan obat," katanya.
Sementara itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengurangi penerimaan mahasiswa melalui jalur Senam PTN yang bisa diakses semua lapisan masyarakat. Seperti diberitakan harian ini (SP, 16/5), UGM hanya akan menerima 5 persen mahasiswa dari jalur Senam PTN dari total mahasiswa yang diterima UGM.
Jumlah itu, menurun dibanding 2007 yang porsinya masih mencapai 18 persen. Dan hal yang sama juga dilakukan ITB yang menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemasiswaan, Adang Surahman, PTN ini hanya menerima 1.080 mahasiswa dari jalur Senam PTN dari total 2.615 mahasiswa yang akan diterima ITB. Jumlah mahasiswa yang diterima melalui senam PTN itu menurun, karena tahun 2007 jumlahnya mencapai 1.640 kursi.
Menanggapi hal itu, pengamat pendidikan Darmaningtyas menegaskan, pemerintah harus segera mengambil langkah agar akses pendidikan bagi kalangan miskin tidak tertutup masuk PTN. Dia prihatin dengan langkah sejumlah PTN mengurangi jatah penerimaan mahasiswa lewat jalur reguler yang memungkinkan mahasiswa dari keluarga miskin bisa terjaring.
Anggota Majelis Perguruan Taman Siswa itu menyarankan agar status BHMN sejumlah PTN ditinjau kembali. Demikian pula BHP sebagai kelanjutan dari BHMN dan saat ini baru dibahas DPR dan Pemerintah, dipertimbangkan matang-matang, kalau tidak pendidikan hanya dinikmati kalangan berada.
Pemerintah memang berkewajiban membuat kebijakan yang memihak rakyat. Salah satunya adalah kebijakan kontrol terhadap biaya kuliah agar terjangkau semua lapisan anak bangsa. Jika tidak, mahalnya biaya pendaftaran dan biaya kuliah, dan hal itu membuat diskriminasi terhadap kaum papa untuk memperoleh pendidikan tinggi.
Depdiknas Siapkan Beasiswa
Guna memberikan solusi terhadap melambungnya biaya masuk PTN, pemerintah mengalokasikan dana senilai Rp 10 miliar untuk 2.000 calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik bagus, tetapi berasal dari keluarga tidak mampu. Undangan untuk menjaring calon mahasiswa yang berpotensi akademik, tetapi miskin itu disebar ke 3.000 SMA di seluruh Indonesia.
"Setiap calon mahasiswa diberi Rp 5 juta, setidaknya aman untuk biaya kuliah pada tahun pertama. Selanjutnya, mereka bisa mendapat beasiswa saat sudah kuliah yang disediakan pemerintah khusus untuk mahasiswa yang tidak mampu," kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dikti Depdiknas) Fasli Jalal, dihubungi, Senin (19/5).
Dia menerangkan, sebanyak 2.000 mahasiswa baru penerima beasiswa PTN itu dijaring dari 16.000 lulusan SMA yang mengikuti SNMPTN. Beasiswa mengikuti ujian SNMPTN yang diberikan untuk calon mahasiswa berpotensi akademik baik tetapi tidak mampu itu, katanya, meliputi pembelian formulir pendaftaran hingga biaya transportasi dan pemondokan selama ujian.
"Mereka ini diusulkan kepala sekolah dengan kriteria berprestasi baik, tetapi terancam tidak bisa melanjutkan kuliah karena terkendala biaya," katanya.
Selain itu, katanya, pemerintah menyediakan beasiswa bagi 170.000 mahasiswa kurang mampu. Tujuannya, agar para mahasiswa dari golongan kurang mampu bisa tetap kuliah.
"Mereka yang berprestasi namun kurang mampu harus tetap kuliah. PTN atau PTS wajib menampung mereka dan tidak boleh menutup akses memperoleh pendidikan bermutu kepada mereka dari golongan tidak mampu," katanya.
Dikatakan, setiap mahasiswa yang mendapat beasiswa akan memperoleh bantuan sebesar Rp 250.000 per mahasiswa per bulan. "Meski masih jauh dari yang ideal, beasiswa ini bisa membantu mereka. Belum lagi masih ada bantuan dari PTN atau PTS dari tempat mereka belajar," katanya.
Untuk kriteria penerima beasiswa, dia mengemukakan, Dikti menyerahkan kewenangan itu kepada PT. "Pihak PT yang lebih mengetahui kriteria itu," ucapnya. Tetapi, lebih bijak, kalau ada aturan yang memaksa PTN memberi akses bagi mahasiswa dari keluarga miskin masuk perguruan tinggi itu.
Pilih Jurusan yang Tepat

SP/Ruht Semiono
Sejumlah mahasiswa mengikuti perkuliahan di sebuah universitas swasta di Jakarta.
idup adalah pilihan, yang tentunya menginginkan hal yang terbaik dalam mengambil keputusan, apa pun itu. Banyak pilihan dilakukan dengan sekian pertimbangan yang rasional maupun emosional. Manusia sering dihadapkan pada banyaknya pilihan yang menjanjikan. Tetapi, memilih harus tetap terlaksana untuk melanjutkan aktivitas kehidupan, dengan risiko yang harus dihadapi pada kemudian hari.
Bagi para calon mahasiswa, khususnya siswa kelas III sekolah menengah atas (SMA), memilih jurusan pada perguruan tinggi (PT) merupakan proses yang sulit, karena harus mempertimbangkan berbagai faktor yang bisa diputuskan oleh beberapa orang, walaupun akhirnya dirinya sendiri yang mengambil keputusan terakhir. Siswa yang berencana menlanjutkan pendidikan ke PT, mulai sibuk memikirkan jurusan apa yang diminati dan perguruan tinggi mana yang menjadi tujuannya.
Jessica Debora yang baru saja menyelesaikan ujian nasional (UN), segera bersiap melangkah lebih jauh lagi, untuk menuju masa depan yang diharapkan gilang-gemilang. Banyak yang menjadi pertimbangannya dalam mengambil keputusan, yang sangat menentukan hidupnya nanti. Pilihannya jatuh pada sebuah jurusan yang dianggap mempunyai masa depan dan karier yang bagus dan baik baginya.
"Saya menyukai bahkan antusias dengan dunia penyiaran dan ingin tampil di depan televisi, makanya pilihanku adalah jurusan broadcast. Hal itu sangat cocok dengan saya yang tinggal di Jakarta, dan tidak perlu jauh- jauh dari kedua orangtua. Informasi yang akurat sudah saya dapatkan, dengan bertanya pada yang berpengalaman, mahasiswa yang kuliah pada jurusan broadcast, maupun dengan orang yang terjun langsung bekerja di dunia penyiaran," kata siswi yang bersekolah di SMAN 2 Pamulang, Tangerang.
Hal yang dilakukan untuk memastikannya, dengan cara mendatangi langsung PT yang menjadi incarannya sejak lama. Banyak hal yang dipertanyakan kepada staf penerimaan calon mahasiswa baru tersebut, mulai dari pelajaran apa yang harus dikuasai saat sekolah untuk dapat bertahan dan cocok dengan minat serta kemampuan yang dimiliki, maupun adanya pemberian beasiswa bagi mahasiswa berprestasi.
"Jurusan pilihan saya tentunya harus ada prospek kedepan yang jelas. Dunia hiburan atau yang lebih dikenal entertainment, menjanjikan bagi saya, karena hal itu berkembang terus dengan semakin majunya dunia teknologinya. Saya ingin dunia yang menantang, dengan berani tampil di depan umum sebagai presenter," ucapnya.
"Orangtua pun mendukung saya dengan memberikan dukungan moral ataupun masalah finansial yang terjangkau. Apa yang terbaik bagi anaknya, orangtuaku menyetujuinya, asal bertanggung jawab dengan pilihan sendiri," tuturnya dengan bersemangat.
Lebih lanjut Zisca, panggilan sehari-harinya, mengatakan pemilihan jurusannya bukan karena gengsi semata yang lagi tren di masa kini atau karena ikut-ikutan dengan teman-temannya, tetapi karena peluanglah yang menjadi perhitungan untuk meraih kesempatan keinginan dan cita-cita apa yang diimpikan selama ini.
Reputasi yang Baik
Sebenarnya, dia ingin kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN) dengan jurusan yang sama, tetapi bila tidak lolos, ya harus ke perguruan tinggi swasta (PTS). Tentu saja PTS tersebut harus mempunyai reputasi yang yang baik untuk strata 1 (S1), yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk kegiatan belajar mengajar. Begitu juga dengan kualitas dan kuantitas dosen tersebut, yang layak diperhitungkan, karena merekalah nantinya yang akan berperan membimbing mahasiswanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Juliana, siswi SMA 68 Jakarta, yang berencana untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun, Juli lebih memilih untuk kuliah di Bandung, yang memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Pertimbangannya pun berbagai macam, yang sebelumnya harus diselesaikan terlebih dahulu, sebelum berangkat ke Kota Bandung, di mana selama ini tinggal dengan orangtuanya di Jakarta.
"Saya memilih jurusan komunikasi, karena cocok dan sesuai dengan minat. Semua sudah saya pertimbangkan masak-masak. Orangtua pun setuju dengan pilihan saya. Jurusan komunikasi nantinya akan banyak dibutuhkan oleh perusahaan, sebagai penghubung dengan perusahaan atau rekan kerja yang lain. Mata kuliah yang nantinya akan dipelajari pun, sangat cocok dengan apa yang saya inginkan," ucapnya dengan tegas.
Pilihan yang telah dibuat dengan matang-matang, nantinya harus dijalankan sesuai dengan rencana. Jangan sampai gagal di tengah jalan, yang bisa membuyarkan harapan dan cita-cita seseorang. Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah komitmen diri dengan pilihannya dan siap dengan risiko apa pun yang akan menyertainya nanti. Percaya diri, memiliki motivasi untuk maju dan berpikir positif akan membantu langkah menuju kesuksesan. [Hendro Situmorang]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar