21 Mei 2008

Selamat Jalan Bapak Jakarta

Ali Sadikin saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta dan istrinya Nani Sadikin memandang Kota Jakarta dari Puncak Monumen Nasional. Dok SP

Mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977, Ali Sadikin merupakan pemimpin yang kuat dan berkarakter. Ia punya prinsip, berwibawa, dan pemberani. Selain itu, Letnan Jenderal (Marinir) ini dikenal tegas dan memiliki pandangan luas ke depan, baik kepada Ibu Kota Jakarta maupun terhadap bangsa.

Pernyataan itu disampaikan sejumlah tokoh dan pemimpin nasional yang hadir di rumah duka Jalan Borobudur Nomor 2, Jakarta Pusat, Selasa (20/5) malam. Mereka adalah mantan Menteri Keuangan Mari'e Muhammad, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, anggota penasihat kepresidenan, Adnan Buyung asution, dan Sekretaris Kelompok Petisi 50 Chris Siner Key Timu.

"Saya menilai beliau sebagai pemimpin yang berwibawa, berani, pegang teguh pada prinsip, dan tegas. Saya harus belajar banyak dari beliau mengenai hal-hal tersebut," kata Fauzi Bowo saat hadir di rumah duka, Selasa malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Pernyataan yang sama disampaikan Mari'e dan Buyung. Menurut keduanya, Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin adalah pemimpin yang tangguh dan berpendirian. "Jarang sekali saat ini ada sosok seperti beliau. Ia tegas dalam memimpin dan memiliki karakter serta prinsip yang jelas. Kita kehilangan sosok seperti beliau," kata Mari'e. "Beliau adalah sosok demokrasi sejati dan pembaruan hukum Indonesia. Beliau merupakan penggagas utama YLBHI," tambah Buyung.

AM Fatwa menilai Bang Ali sebagai orangtuanya. Hal itu, karena ia selalu dekat dengan Fatwa terutama saat Wakil Ketua MPR ini dipenjara. "Hampir tiap minggu ia mengunjungi saya baik di LP Cipianang maupun di LP Cirebon. Ia tidak hanya hadir mengujungi saya dan keluarga saya, tetapi ia juga melindungi dan membimbing saya saat itu," kata Fatwa yang pernah menjadi sekretaris Petisi 50 bentukan Ali Sadikin.

Sementara itu, Chris Siner menilai Ali Sadikin adalah sosok prajurit sejati dan negarawan. Hal itu terlihat dalam tugasnya sebagai tentara dan pemimpin di negara ini. "Dulu pada Pembebasan Permesta di Sulawesi , ia ditugasi selama dua bulan. Tetapi ia mampu menyelesaikan tugas tersebut hanya dalam dua minggu," kanang Chirs.

Ali Sadikin meninggal dunia di RS Glen Eagles, Singapura, Selasa (20/5) sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Ia meninggal karena mengalami komplikasi atas penyakit yang dideritanya seperti gagal ginjal, lever, paru-paru, dan pecahnya empedu.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Muhayat mengatakan, jenazah akan diterbangkan dengan pesawat GA 823 dari Singapura dan tiba di Jakarta sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada pukul 13.00 WIB, jenazah akan terlebih dahulu disemayamkan di rumah duka Jalan Borobudur Nomor 2, Jakarta Pusat. Dari situ, pihak keluarga menyerahkan jenazah Bang Ali ke negara dan pemakaman akan diatur oleh garnisun TNI AL.

Pada Selasa malam, ratusan pelayat memenuhi rumah duka sejak Selasa malam hingga Rabu (21/5) siang. Ratusan karangan bunga pun berjejer di tempat tersebut, di antaranya dari keluarga besar mantan Presiden Soeharto, Panglima TNI Djoko Santoso, dan lainnya.

Biografi

Bang Ali lahir di Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927. Ia menjabat Gubernur DKI Jakarta dari tahun 1966 hingga 1977. Ia menjadi Gubernur DKI Jakarta ke-7 menggantikan Soemarmo. Bang Ali kemudian diganti oleh Tjokropranolo. Ia berjasa dalam pengembangan Kota Jakarta sebagai Kota Metropolitan, penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Pendiri Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Rangunan, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, dan Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Selain itu, bapak lima anak ini juga berjasa terhadap bangunan bersejarah seperti Museum Tekstil, Museum Keramik, Museum Wayang, dan mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah antara lain Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.

Semasa hidupnya, Ali Sadikin pernah menjabat sebagai Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963), Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964), dan Menko Kompartimen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikota dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1964-1966).

Jebolan Sekolah Tinggi Pelayaran, Semarang, (1945) dan US Marine Corps School, Amerika Serikat, itu juga pernah mendapat penghargaan berupa Piagam Anugerah Pendidikan, Pengabdian, Ilmu Pengetahuan, dan Olahraga. Bang Ali merupakan orang pertama penerima "Anugerah Cipta Utama" dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Beberapa tanda kehormatan dari negara asing juga berhasil disabetnya, seperti Bintang Kerajaan Ethiopia dan Bintang Kerajaan Belanda. Bang Ali meninggalkan lima orang putra. Mereka adalah Boy Bernadi Sadikin, Edi Trisnadi Sadikin, Irawan Hernadi Sadikin, Benyamin Irwansyah, dan Yasser Umarsyah Sadikin.

Pada 1980-an, nama Bang Ali sangat populer karena menjadi tokoh Petisi 50 yang menentang secara terbuka pemerintahan rezim Soeharto. Ia dicekal, tetapi tidak pernah dipenjara atau diajukan ke pengadilan. [RBW/L-8]


Last modified: 21/5/08 suarapembaruan

Tidak ada komentar: