23 Mei 2008

Pendidikan Dijadikan Komoditas * Berlomba Menjadi "World Class"

Jakarta, kompas 23 Mei 2008- Kebijakan pendidikan nasional saat ini cenderung mengarah ke neoliberalisme yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas. Akibatnya, pendidikan tidak lagi dijalankan dalam semangat untuk mencerdaskan seluruh kehidupan warga negara, terutama dalam pembangunan kepribadian dan moral.

”Sekolah dan universitas kita berlomba-lomba menjadi world class university. Tapi, apakah mereka peduli dan bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapi bangsa ini?” kata HAR Tilaar, guru besar (emeritus) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dalam seminar memperingati Dies Natalis Ke-44 UNJ di Jakarta, Kamis (22/5).

Menurut Tilaar, pendidikan nasional saat ini belum mampu berkontribusi dalam memecahkan persoalan dasar bangsa. Kondisi ini akibat pemerintah yang lebih mengarahkan pendidikan nasional agar mampu bersaing dengan negara-negara maju, tetapi melupakan pembangunan bangsa agar mampu menjadi bangsa yang mandiri.

”Kebijakan pendidikan nasional yang dibuat pemerintah dan DPR itu tidak berdimensi jauh ke depan. Yang diutamakan pendidikan intelektual semata untuk bisa bertanding dengan negara maju. Itu baik. Tapi, bangsa ini membutuhkan manusia-manusia terdidik dan berkepribadian yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa yang jika diabaikan akan semakin akut kondisinya,” kata HAR Tilaar.

Menurut Tilaar, banyak persoalan bangsa yang sangat mendesak untuk diselesaikan. Misalnya, ketergantungan pada impor yang sangat tinggi untuk barang konsumsi, termasuk impor kedelai untuk bahan baku makanan tradisional tahu dan tempe.

Persoalan lain adalah kemiskinan yang semakin luas dan semangat nasionalisme yang semakin pudar di kalangan masyarakat. ”Mestinya, pendidikan bisa berkontribusi menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya.

Kebijakan pemerintah diharapkan bisa membawa pendidikan ke arah terciptanya harga diri sebuah bangsa, nasionalisme yang tumbuh untuk melawan keterpurukan, dan secara bersama-sama melawan kebodohan yang menjadi pangkal kemiskinan.

Memasung kreativitas

Asvi Warman Adam, sejarawan dan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan, pendidikan yang berlangsung umumnya memasung kreativitas dan sikap kritis anak. Dalam kurikulum Sejarah, misalnya, generasi muda bangsa ini sering diharuskan menerima kebenaran tunggal versi pemerintah soal sebuah peristiwa sejarah. Mestinya anak didik diperkenankan menerima informasi lain sebagai bahan pembanding untuk memperkaya wawasannya. (ELN)

Tidak ada komentar: