31 Mei 2008

Menembus Sekolah Berstandar Internasional - Beri Sejumlah Keistimewaan, Dispendik Gratiskan Biaya

Jawa Pos Kamis, 29 Mei 2008 SURABAYA Empat sekolah berstandar internasional (SBI) di metropolis bakal membuka PSB (penerimaan siswa baru) pada 30 Juni mendatang. Empat sekolah itu adalah SMPN 1, SMPN 6, SMAN 5, dan SMAN 15. Seperti tahun ajaran sebelumnya, kursi SBI menjadi rebutan. Sebab, para siswa akan mendapat banyak keistimewaan. Namun, untuk bisa menembus ternyata tidak mudah.

IMING-iming keistimewaan itu, antara lain, pembelajaran menggunakan kurikulum internasional, pembelajaran bilingual (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), pembelajaran model multimedia, ruang kelas ber-AC, hingga bisa mendaftar mudah di universitas asing setelah lulus.

Karena keunggulan tersebut, tentu tidak setiap siswa bisa masuk dengan mudah. Ada syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menikmati SBI, baik syarat akademis maupun syarat lain (selengkapnya lihat grafis).

Yang jelas, Dispendik akan menggratiskan PSB jalur SBI. Semua biaya dalam penjaringan ditanggung pemkot. Meski begitu, sekolah masih diberi peluang mendapatkan kucuran dana dari masyarakat dalam bentuk sumbangan peningkatan mutu.

Untuk menutup biaya PSB SBI, pemkot mengambilkan anggaran dari dana Rp 11,9 miliar yang telah disetujui DPRD Surabaya. Dana tersebut dipakai untuk membiayai proses seleksi siswa yang memilih SBI. ''Jumlahnya bakal kami atur lebih rinci,'' kata Kepala Dispendik Sahudi kemarin (28/5).

Dengan tambahan dana, diharapkan masyarakat tidak kerepotan mengalokasikan dana pendaftaran. Melalui model ini, PSB SBI sama halnya dengan PSB reguler yang gratis. ''Namun, sekolah boleh mengadakan penarikan dengan sistem donasi. Jadi, sifatnya sukarela,'' ungkap pejabat kelahiran Banyuwangi tersebut. Artinya, mereka yang kaya bisa memberikan sumbangan sesuai kemampuan, sedangkan yang kurang bisa memberikan seadanya.

Teknisnya, sekolah boleh mengadakan pembicaraan terpisah dengan para wali murid. ''Jadi, besar dana sumbangan wali murid bisa berbeda antara satu dan yang lain,'' jelasnya. Namun, tarikan tersebut diarahkan untuk peningkatan mutu pendidikan sekolah berlabel SBI itu.

Setelah pemberian donasi, sekolah dilarang keras memungut dana. ''Yang pasti, tidak ada pungutan untuk uang gedung. Itu sudah terakhir,'' jelasnya. Tarikan dana SPP bagi SMA/SMK tetap ada. Hanya mereka yang berkategori miskin akan dibebaskan, sebab pemerintah menyiapkan bantuan wajib belajar 12 tahun.

Masyarakat diharapkan memahami bahwa nanti masih ada bentuk tarikan yang dilakukan namun diluar kelembagaan. Koperasi sekolah bisa melaksanakan pengadaan seragam sekolah dan menarik dari masyarakat. ''Kalau yang ini bukan instruksi lembaga, namun atas nama koperasi. Tentu beda,'' katanya.

Kepala SMPN 6 Idris mengatakan bakal menuruti ketentuan Dispendik tersebut. Salah satu SMPN rintisan SBI itu tak bakal menarik sesen pun biaya PSB. Untuk donasi, Idris menegaskan akan membicarakan lebih dulu bersama wali murid. ''Biasanya kami paparkan dulu program SMPN 6. Setelah itu, baru kami rundingkan menyangkut pendanaan,'' ujarnya.(git/ara)

Tidak ada komentar: