JP Minggu, 01 Juni 2008 - JAKARTA - Sidak maraton yang dilakukan tim gabungan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan tim Kepatuhan Internal Bea dan Cukai tak berhenti pada penemuan sejumlah uang dan dokumen bukti suap. Sebanyak 20 pegawai Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok diperiksa. Perkembangan terakhir pukul 21.45 WIB tadi malam, empat orang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi."Sudah ada empat orang yang terindikasi menerima suap," ujar Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan M. Jasin kepada koran ini tadi malam (31/5). Keempatnya berinisial M, AGP, NTP, dan P.
M dan AGP menjadi koordinator yang bertugas sebagai pengepul uang ceperan dari para pengurus dokumen, lantas membagi-bagikannya. M koordinator jalur merah dan AGP koordinator jalur hijau. "Kita langsung buat berita acara pemeriksaannya," ujar mantan direktur Litbang KPK tersebut. Adapun peran NTP dan P belum dibeber.
Saat sidak, dari tas AGP ditemukan uang senilai Rp 24 juta. Petugas juga menggeledah badan AGP dan menemukan uang Rp 14 juta yang disembunyikan di kaus kaki.
AGP dan M tidak bisa berkutik saat diinterogasi karena bukti sudah sangat kuat. "Tapi, kita tetap membutuhkan barang bukti yang banyak untuk meningkatkan kasus itu ke penyidikan. Tunggu saja," ujar Jasin.
Dari pengembangan sidak, tim lantas menggeledah lima mobil oknum pegawai Bea dan Cukai. "Ada juga amplop di dalam mobil dan uang USD 1. 000," tambahnya. Dia mengungkapkan, total sekitar Rp 50 juta ditemukan dari dalam mobil.
Transaksi suap di Bea dan Cukai Tanjung Priok dilakukan dengan cukup rapi. Penyuap tidak langsung menyerahkan uang kepada pejabat yang dituju, tapi menyuruh pihak ketiga sebagai kurir. Yang biasa dijadikan perantara adalah satpam dan petugas kebersihan. "Bahkan, ada juga yang transaksinya di kamar mandi," lanjut Jasin.
Sejumlah uang, baik dalam bentuk rupiah maupun mata uang asing, biasanya dimasukkan amplop bertulisan "uang makan" dan nomor dokumen yang diminta untuk "dimuluskan".
Jasin menambahkan, selain cash, ada uang suap yang ditransfer. "Kami menemukan bukti transfer Rp 47 juta dan Rp 57 juta di lokasi," ujarnya. Total jenderal, dari sidak yang dilakukan sejak Jumat (30/5) itu, tim menemukan uang sekitar Rp 500 juta. Diduga kuat uang tersebut merupakan "penghasilan" dalam sehari.
Menurut Jasin, diperkirakan Rp 12,5 miliar uang haram mengalir ke kantong oknum Bea dan Cukai dalam sebulan. "Itu informasi valid. Bahkan, bisa saja lebih," ujarnya.
Dia lantas membenarkan bahwa sidak yang dilakukan tim gabungan berangkat dari inisiatif Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi untuk membersihkan aparatnya. "Operasinya sangat rapi. Dari pihak Bea dan Cukai hanya Dirjen dan beberapa orang yang tahu. Tim Kepatuhan Internal Bea dan Cukai yang diturunkan juga orang-orang pilihan," ujarnya.
Mantan auditor BPKP itu mengungkapkan, sidak terkait dengan evaluasi pelaksanaan reformasi birokrasi di Direktorat Bea dan Cukai. "Dirjennya sudah baik, tapi percuma kalau ada oknum pegawai yang bandel," jelasnya.
KPK, tambahnya, hanya menangani indikasi tindak pidana. Dugaan pelanggaran lain akan ditangani bagian Kepatuhan Internal Bea dan Cukai. "Sanksinya berupa administrasi sampai pemecatan," jelasnya.
Bagaimana status empat oknum tersebut di Bea dan Cukai Tanjung Priok? Ketua KPK Antasari Azhar mengungkapkan, pihaknya sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk apakah ada dugaan konspirasi dalam penerimaan suap itu. "Besok Senin (2/6) ada penjelasan," ujarnya ditemui di Kampus ASMI kemarin.
Menurut dia, KPK tak akan berhenti hanya di Bea dan Cukai. Instansi lain juga menjadi incaran. Instansi mana yang dibidik? "Kalau diberitahukan instansinya, semua kabur dong," ujar mantan jaksa itu.
Pengusaha Bersyukur
Upaya membersihkan aparat bobrok di Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok oleh KPK mendapat apresiasi positif kalangan pengusaha. Langkah tersebut diharapkan bisa memperbaiki sistem birokrasi yang menjadi salah satu penyebab ekonomi biaya tinggi (high cost economy).
Sekjen Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengatakan, kabar praktik suap di pelabuhan memang kerap terdengar. Meski demikian, kebenarannya masih sulit dibuktikan.
Karena itu, keberhasilan KPK menemukan sejumlah amplop berisi uang bisa menjadi langkah awal untuk mengungkap praktik tersebut. ''Yang jelas, kami bersyukur,'' ujarnya. (ein/owi/nw)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar