13 Mei 2008

Apa Bekal Anak Menghadapi UASBN?

Pakar psikolog perkembangan dan pendidikan anak, Prof Dr Fawzia Aswin Hadis, MSi mendefinisikan ujian sebagai penilaian periodik untuk mengukur sejauh mana anak memahami materi pelajaran yang diajarkan melalui soal-soal yang diberikan. "Jika anak bisa menyerap materi pelajaran sebanyak 60 persen ke atas, artinya anak cukup memahami pelajaran yang diberikan," kata guru besar psikologi Universitas Indonesia ini.

Pemahaman ini diikuti pula dengan perbaikan perubahan perilaku di usia sekolah. "Sebaiknya guru menilai pemahaman anak setiap hari setelah memberikan materi misalnya dengan melihat kemampuan anak mengatasi persoalan atau sikapnya di sekolah," paparnya belum lama ini.

Meski demikian, kata Fawzia, memang diperlukan porsi belajar yang lebih besar ketika anak menghadapi ujian, seperti ujian per semester atau kenaikan kelas, sehingga anak perlu persiapan. Jika anak terbiasa belajar setiap hari, ujian bisa dihadapi dengan ringan.

Karena ujian merupakan kumulasi dari materi yang dipelajari selama setengah atau satu semester, maka anak perlu kembali mempelajari materi dan mencari solusi jika ada bagian yang sulit dipahami. "Orangtua berperan mengontrol kegiatan belajar anak setiap hari, memberikan nutrisi yang seimbang, dan istirahat yang cukup," jelasnya.

Fawzia juga menganjurkan hindari meniadakan waktu bermain anak, namun berikan pembatasan sesuai kondisinya. Jadikan bermain sebagai bentuk metode anak belajar secara praktik.

Sedangkan psikolog pendidikan dari Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia, Eva Septiani MSi mengatakan, ujian merupakan wadah mengukur kemampuan anak menghadapi permasalahan di sekolah. Sebelum orangtua membantu anak menghadapi ujian sebaiknya tetapkan dulu tujuannya.

Dengan menetapkan prioritas dan harapan, orangtua bisa mendiskusikannya kepada anak saat usianya sudah memasuki usia SD. Orangtua bisa menaruh harapan dengan menjelaskan tujuan akhir seperti untuk anak kelas 6 SD, seperti ''Mama ingin kamu mendapat nilai baik agar bisa lebih mudah masuk sekolah negeri!

Eva mengatakan, untuk anak usia awal SD orangtua juga sebaiknya memberikan pengertian dan penjelasan secara spesifik pada anak tujuan diadakannya ujian dan manfaat anak belajar serta mempersiapkan diri sebelum ujian.

"Jangan hanya mengucapkan, kamu harus belajar supaya pintar. Itu terlalu luas artinya. Tapi coba berikan contoh realitas kehidupan orang yang belajar dengan yang tidak agar anak lebih paham," katanya.

Bukan Harga Mati

Perlu diingat, tinggi rendahnya nilai ujian bukanlah harga mati untuk menilai kecerdasan si anak. "Cerdas tak hanya dinilai dari cerdas scholastic, tapi bisa diartikan lebih luas seperti multiple intelligences," ujarnya.

Fawzia mengatakan, hal yang paling penting adalah membiasakan anak belajar. Saat memasuki usia SD anak harus tahu tempat belajarnya. Waktu dan durasi belajar sesuai dengan karakter anak dan sifat pelajarannya. Untuk anak hiperaktif, Anda bisa memintanya duduk di meja belajar selama 10 menit lalu tambah waktunya atau ketika anak belajar pelajaran yang menurutnya cukup sulit, anak bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkannya kembali.

"Ciptakan lingkungan yang kondusif saat anak belajar dengan tidak memecah konsentrasinya seperti tidak menyalakan televisi," ujarnya.

Eva menambahkan, orangtua juga sebaiknya memiliki daftar pelajaran anak. Setiap minggu diskusikan jadwal belajar dengan anak, tanyakan pelajaran mana yang sulit dipahami. Hindari terfokus pada kuantitas waktu belajar, namun tanggung jawabnya pada waktu belajar yang ditetapkan bersama.

Semakin bertambahnya usia, beban belajar anak semakin berat. Jika anak tidak dibiasakan mengatur diri sedini mungkin, anak tidak akan kesulitan saat mempersiapkan menghadapi ujian akhir nantinya.

"Usia kelas 1 SD sampai 3 SD merupakan masa-masa pembentukan kebiasaan (habit)," ujarnya. Selain itu, lanjut Fawzia, orangtua juga bisa membantu anak menemukan gaya belajar, yaitu pola atau metode belajar yang memudahkan anak memahami pelajaran. Untuk menemukan gaya belajar anak, orangtua sebaiknya kreatif dalam memberikan pola pembelajaran, sehingga anak bisa mencoba semua, dan menemukan sendiri gaya belajarnya, begitu pun dengan metode pengerjaan atau penyelesaian suatu persoalan.

Saat menghadapi ujian anak juga diperkenalkan cara-cara mudah untuk memahami materi, misalnya dengan membuat ringkasan atau menggunakan mind maping. Juga perhatikan rentang kemampuan konsentrasi anak saat belajar.

Jika kemampuannya terbatas, sebaiknya anak mencicil materi per paragraf kemudian minta dia mengulas kembali dengan menggunakan bahasanya. Anak jangan dituntut untuk menghapal saja, namun mengerti dan memahami materi yang dibacanya.

"Jika anak salah memahami, segeralah koreksi agar anak tidak memiliki konsep yang salah, sehingga tidak terbawa saat ujian nanti," paparnya. [SP/Eko B Harsono]

Tidak ada komentar: