20 Maret 2008

Siswa Belajar di Pengungsian

Di Laren, Lamongan, Ketinggian Air Masih 1 Meter

Kompas, 19 Maret 2008, Lamongan - Jatim
Siswa yang sekolahnya terendam luapan Bengawan Solo di wilayah Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, terpaksa belajar di pengungsian. Sebab, hingga Selasa (18/3), sekolah mereka masih terendam air hingga setinggi 1 meter.

Kepala SMP Negeri 2 Centini, Irham, Selasa, menuturkan bahwa air yang merendam sekolahnya masih setinggi 1 meter sehingga seluruh ruangan kelas belum bisa digunakan. Adapun tanggul yang berada di belakang sekolah digunakan warga untuk mengungsi.

Irham menjelaskan, proses belajar dan mengajar untuk 388 siswanya dipusatkan di dua tempat, yakni Desa Keting dan Desa Kendal, keduanya di Kecamatan Sekaran. Sebanyak 86 siswa juga diasramakan di Madrasah Ibtidaiyah Maarif Al Islamiyah, Desa Kendal. Letaknya tidak terlalu jauh sehingga mempermudah pengawasan.

Siswa yang belajar di SD Negeri III, Desa Keting, adalah para siswa kelas IX. Adapun kelas VII dan VIII belajar di MI Maarif Al Islamiyah Kendal. "Semua masuk siang karena kalau pagi sekolah itu dipakai untuk siswa MI dan SD," kata Irham.

"Berat, pengawasan terhadap siswa lebih susah karena kegiatan sekolah termasuk bimbingan belajar persiapan ujian nasional berlangsung sampai malam. Oleh karena itu, kami juga membagi guru piket untuk mengawasi siswa. Agar pengawasan lebih mudah, siswa tidak boleh keluar, untuk makan mereka mendapatkan bantuan nasi bungkus," ujar Irham.

Para siswa yang menjadi korban banjir di wilayah Kecamatan Laren diupayakan agar tetap bisa mengikuti kegiatan belajar dan mengajar. Untuk itu, Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana Kabupaten Lamongan mendirikan lima tenda peleton. Para siswa yang sekolahnya terendam banjir luapan Bengawan Solo mengikuti pelajaran di tenda peleton yang didirikan di Desa Centini sebanyak dua tenda dan di Durikulon sebanyak tiga tenda.

Sekolah-sekolah yang terendam itu di antaranya SDN Centini, MI Toriqotul Hidayah, SMA NU, serta SMP Negeri 2 Laren. Sekretaris Harian Satlak Penanggulangan Bencana Lamongan Imam Trisno Edy mengatakan, tenda didirikan agar siswa masih dapat melakukan kegiatan belajar dan mengajar meskipun banjir. "Selanjutnya masih akan didirikan lebih banyak lagi tenda untuk kegiatan sekolah yang saat ini masih dalam proses pengajuan ke Provinsi Jawa Timur," tuturnya.

Perahu karet

Imam menambahkan, pihaknya juga menyiapkan empat perahu karet jika sewaktu-waktu dibutuhkan warga untuk evakuasi. Perahu siap diluncurkan untuk penanganan banjir, baik membantu distribusi logistik maupun evakuasi korban banjir. Jika dirasa kurang, masih ada perahu dari fiberglass yang juga siap digunakan sewaktu-waktu. Hingga Selasa petang kondisi air mulai surut dan tinggal sekitar 60 sentimeter hingga 1 meter.

Di wilayah Widang, Kabupaten Tuban, kemarin air mulai surut. Genangan bervariasi mulai 20 cm hingga 40 cm. Camat Widang Bambang Dwijono mengatakan, kendaraan khususnya sepeda motor yang sebelumnya tidak bisa lewat sudah bisa melintasi wilayah Desa Wunut Ngadirejo dan Banjar karena air yang tergenang tinggal 20 cm hingga 30 cm.

Hanya saja di beberapa dusun di Desa Tegalrejo, Simorejo, Compreng, dan Mlangi masih menggunakan perahu. Posisi air masih naik turun sehingga sekitar 200 kepala keluarga masih bertahan di pengungsian menunggu air benar-benar surut.

Di wilayah itu, praktis aktivitas belajar di 20 sekolah masih lumpuh. "Ada juga yang belajar di masjid atau rumah penduduk. Tetapi kebanyakan diliburkan sebab meskipun siswanya bisa, guru tidak bisa menjangkau siswa karena akses jalannya masih belum bisa dilewati," ucap Bambang. (ACI)

Tidak ada komentar: