Oleh Runik Sri Astuti
Kompas, 19 Maret 2008, Kediri-Jatim
Wiwin Asnia (11) terlihat ceria bermain bersama teman-temannya sepulang sekolah di SDN 3 Jugo, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Bocah kelas V itu tidak terlihat lelah meski baru saja menempuh jarak tiga kilometer berjalan kaki dari sekolahnya menuju rumah tanpa alas kaki.
Setiap hari Wiwin dan adiknya yang duduk di kelas II SD, Tri Sejati, harus menempuh jarak enam kilometer untuk pergi dan pulang sekolahnya. Untuk memperpendek jarak tempuh, mereka memilih jalan mendaki bukit dan menyeberangi sungai dibandingkan dengan jalan raya.
Itu disebabkan tidak ada angkutan umum meski jalan utama menuju ke sekolahnya sudah diaspal karena merupakan akses menuju wisata Air Terjun Dolo. Satu unit mobil Chevrolet tua yang difungsikan sebagai angkutan untuk melayani anak sekolah hanya beroperasi dua kali sehari, yakni pukul 06.00 dan pukul 14.00. Itu pun rutenya berlawanan dengan arah menuju sekolah Wiwin.
Lebih sering Wiwin dan Tri pergi ke sekolah tanpa sarapan dari rumah karena ibunya, Kamini (33), harus ke pasar untuk menjual hasil kebun seperti jagung dan ketela. Selain itu, Wiwin memang lebih suka jajan di sekolah karena di rumah makanannya hanya tiwul.
Keluarga Daiman dan Kamini, orangtua Wiwin, dikaruniai lima anak. Anak pertama dan kedua hanya tamat sekolah dasar karena tidak mampu melanjutkan ke sekolah menengah pertama yang ketika itu hanya ada di Kecamatan Mojo yang jaraknya sekitar 30 kilometer.
Anak pertama Daiman kini sudah dinikahkan, sedangkan anak kedua bekerja sebagai buruh tani. Menurut Kamini, Wiwin dan Tri rencananya juga hanya disekolahkan sampai SD karena tidak ada biaya untuk pendidikan. "Untuk makan saja susah, apalagi untuk sekolah," katanya.
Biaya transportasi
Meski Pemerintah Kabupaten Kediri menggratiskan pendidikan dasar sembilan tahun sampai SMP, bagi Kamini itu tetap berat. Sebab, biaya transportasi yang harus dikeluarkan untuk sampai ke SMP sangat mahal.
Chevrolet tua satu-satunya yang menjadi angkutan anak sekolah di Desa Jugo menuju ke SMP Negeri Mojo mematok ongkos Rp 2.000 sehingga pergi-pulang Rp 4.000 per hari. "Kalau seminggu sudah Rp 28.000, itu belum uang jajannya, bukunya, sepatu, seragam, dan ongkos lain-lain," ujar Daiman menambahkan.
Hasil menjual getah pinus seminggu hanya sekitar Rp 50.000. Pada musim penghujan seperti ini, tidak ada getah karena mudah larut terkena air. Untuk makan sehari-hari ia hanya mengandalkan garapan ladang jagung dan ketela yang ditanam di bawah tanaman pinus. Akibatnya, utang kepada pedagang sayur pun bertumpuk.
Selain Wiwin dan Tri yang masih sekolah, Daiman masih memiliki anak yang baru berumur 2,5 tahun bernama Galuh Mita. Sebentar lagi Galuh akan masuk TK. Apalagi sekarang bagi siswa yang hendak masuk SD diwajibkan menempuh pendidikan TK lebih dahulu.
Guru SMP Terbuka, Kartuni, mengatakan, di Desa Jugo ada Tempat Kelompok Belajar (TKB) yang memberikan pendidikan setara SMP yang berlokasi di SDN setempat. Sekolah itu diadakan untuk mengurangi jumlah siswa putus sekolah. Belajar dimulai pukul 13.00 sehingga pagi harinya siswa bisa bekerja di ladang atau menjadi pembantu rumah tangga.
Para pengajar diambilkan dari guru SD dengan kurikulum pendidikan yang disetarakan dengan sekolah reguler. Tahun lalu, tingkat kelulusan siswa mencapai 52 persen. Bagi yang tidak lulus biasanya disalurkan ke pendidikan kejar Paket B.
Sunarno, guru lainnya, menambahkan, yang menjadi masalah adalah pendidikan lanjutan ke jenjang menengah atas. Hampir 99 persen siswanya tidak ada yang melanjutkan, bahkan apabila ada banyak yang putus sekolah. Penyebabnya selain masalah ekonomi adalah akses transportasi yang sangat minim. Kalaupun ada, biayanya mahal. Sebab, sekolah menengah atas hanya ada di Kota Kediri.
20 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar