21 Maret 2008

Deklarasi Penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun

Republika, 19/3/2008
Tahun 2008 merupakan tahun terakhir pencapaian target penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Sampai dengan akhir 2007, angka partisipasi murni (APM) SD/MI/sederajat sudah mencapai angka 94,90 persen, dan angka partisipasi partisipasi kasar (APK) SMP/MTs/Sederajat sudah mencapai 92,52 persen.

Dengan demikian, untuk mencapai target penuntasan masih diperlukan kenaikan APM SD/MI/Sederajat sebesar 0,10 persen dan APK SMP/MTs/sederajat sebesar 2,48 persen. Demi mengejar target tersebut, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo bersama Menteri Agama Maftuh Basyuni, para bupati, walikota, kepala dinas pendidikan provinsi, dan kepala dinas pendidikan kabupaten dan kota, pada Selasa (18/3) mendeklarasikan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Pendidikan Nasional, Muhadjir, pendidikan dasar di Indonesia dilaksanakan melalui dua jalur, yakni jalur pendidikan formal dan jalur pendidikan non-formal. Pendidikan dasar jalur formal dilaksanakan selama 9 tahun, kata Muhadjir, yaitu program pendidikan enam tahun di SD/MI, dan bentuk lain yang sederajat, dan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan bentuk pendidikan lain yang sederajat. ''Pendidikan dasar jalur luar sekolah dilaksanakan melalui program paket A setara SD, program paket B setara SMP, dan pondok pesantren Salafiyah Ula dan Wustha,'' ujarnya, Senin (17/3).

Sesuai dengan amanat Inpres No 5/2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara, kata Muhadjir, berbagai upaya telah dilakukan untuk mencapai target tersebut. ''Tercapainya target bukan hanya akan meningkatkan Human Development Index, tetapi diharapkan juga akan meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di era globalisasi,'' jelasnya.

Namun demikian, kata Muhadjir, dalam rangka mencapai target pada 2008, masih dijumpai berbagai kendala. Masalah dan tantangan yang ditemui di SD/MI/SDLB/Ponpes Salafiyah Ula adalah masih ada sebagian anak usia tujuh hingga 12 tahun yang belum memperoleh layanan pendidikan, tingkat drop-out kelas I dan II masih cukup tinggi, sebagian kualitas lulusan SD masih rendah, sarana prasarana dan fasilitas belajar masih belum memadai. ''Juga, kualitas pembelajaran dan tenaga pendidik yang masih perlu ditingkatkan,'' tegasnya. eye

Tidak ada komentar: