25 Februari 2008

Atap Ruang Kelas dan Guru SDN 21 Ambruk

Para guru terpaksa harus mengungsi ke ruang kepala sekolah.


JAKARTA -- Atap ruang kelas dan ruang guru SDN 21, Kramat Jati, Jakarta Timur, ambruk, sabtu (23/2). Yang paling parah mengalami kerusakan adalah ruang kelas IV.
Pantauan Republika, Sabtu (23/2), genteng dan plafon ruang kelas tersebut roboh hingga ke lantai. Sementara di ruang guru, plafon di bagian belakang saja yang ambruk.
Meski hanya dua ruang yang atapnya ambruk, bukan berarti ruang kelas lain di SDN itu kondisinya bagus. Plafon ruang kelas VI misalnya sudah agak menurun walau tidak ada yang bolong. Sementara tembok sebelah kiri depan kelas III sudah mulai retak. Beberapa tiang penyangga sekolah pun terlihat sudah keropos.
Beruntung ketika atap ruang kelas itu ambruk, para siswa sudah pulang sekolah. Tidak adanya korban jiwa dalam kejadian tersebut juga karena adanya tindakan preventif pihak sekolah. Mereka sudah mengungsikan murid kelas IV ke kelas sebelahnya sejak dua tahun lalu. ''Pas plafonnya terlihat retak, kita sudah pindahkan semua murid,'' kata guru kelas III SDN 21 Kramat Jati, Adis Hasanah.
Kendati tidak ada korban, kegiatan belajar mengajar (KBM) menjadi terganggu. Berkurangnya satu ruangan kelas membuat murid-murid kelas I dan kelas II SDN 21 terpaksa masuk sekolah bergantian. Murid kelas II yang sebelumnya masuk pukul 07.00 WIB mundur menjadi pukul 09.30 WIB. Para guru terpaksa harus mengungsi ke ruang kepala sekolah karena sebagian plafon ruang guru telah ambruk. ''Para guru pindah ke ruangan kepala sekolah sejak mulai tahun ajaran baru kemarin,'' kata Kepala Sekolah SDN 21, Hermansyah.
Menurut Adis, sejak atap kelas IV ambruk, dia khawatir plafon ruang kelas III juga ikut runtuh. Ruang kelas III yang terletak tepat di sebelah kanan ruang kelas IV pun terkena imbas saat hujan turun. Ruang kelas IV yang sudah tidak beratap membuat air hujan langsung menembus ke dalam. Tak urung hal tersebut membuat genangan air berwarna hitam yang tercampur oleh kotoran dari atap yang ambruk terlihat di lantai kelas IV. Genangan air itu pun kemudian merembes ke lantai kelas III yang letaknya lebih rendah. ''Kalau sudah begitu, anak-anak belajarnya nyeker,'' ujar Adis.
Jika hujan dan angin melanda Jakarta, anak-anak SDN 21 pun terkadang terpaksa dipulangkan lebih cepat. Para guru yang merasa khawatir akan keselamatan para muridnya terpaksa menghentikan KBM di tengah jalan. ''Ya takut kalau anginnya kencang nanti tiba-tiba atap ambruk,'' tutur Adis.
Ambruknya atap SDN 21 Kramat Jati juga menimbulkan kekhawatiran para orang tua murid. Salah satunya adalah Nurhayati, orang tua siswa kelas III. ''Setiap hujan angin kencang, saya khawatir melulu,'' katanya.
Pihak sekolah sudah mengajukan surat usulan renovasi ke Suku Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Jakarta Timur sejak atap sekolah mulai retak. Namun baru minggu lalu Kepala Suku Dinas Dikdas Jaktim, Zaenal Soleman, melakukan peninjauan. ''Saya sudah ke sana namun untuk rehab menunggu anggaran 2008 turun,'' kata Zaenal.
Sudin Dikdas Jakarta Timur sebenarnya mempunyai rencana untuk merehab total gedung SDN 21 dengan menjadikannya gedung bertingkat. Namun sempitnya akses jalan masuk ke SDN yang berlokasi di Jalan Kerja Bakti RW 09 ini membuat hal tersebut sulit dilakukan.
''Karena jalan tidak bisa dilalui kendaraan berat, SDN 21 akan direhab berat saja,'' ujar Zaenal. Sudin Dikdas berencana akan merehab sekolah yang berdiri sejak 1978 ini dengan jumlah anggaran Rp 800 juta. Zaenal pun berjanji akan memprioritaskan SDN 21 Kramat Jati untuk direhab saat anggaran sudah turun.
Daftar sekolah yang mengalami kerusakan antara lain, SMPN 222 Ceger, SMPN 213 Perumnas Klender, SMPN 193 Ujung Menteng, dan SMPN 234 Kayu Tinggi. Untuk merehab sekolah-sekolah tersebut setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 800 juta hingga Rp 1,5 miliar untuk setiap bangunan sekolah.

Fakta AngkaRp 1,5 MiliarDana untuk merehab satu bangunan sekolah (c67 )

Tidak ada komentar: