16 November 2008

Taman bagi Semua Anak

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
Kak Seto santai bersama dua anaknya, Sasha (kiri) dan Dhea, di halaman rumahnya
.

Minggu, 16 November 2008 | 03:00 WIB

DAHONO FITRIANTO

Kak Seto selalu identik dengan dunia anak-anak. Bahkan di kediaman pribadinya pun, kita akan menjumpai sebuah dunia yang dirancang khusus untuk membahagiakan anak-anak.

Hal paling mencolok dari rumah psikolog anak kondang di kompleks perumahan Cirendeu Permai, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, itu adalah halamannya yang sangat luas. Ruang terbuka beralas rumput hijau itu ada di depan, samping, dan belakang rumah sekaligus. Bahkan, kolam renang di bagian belakang rumah pun ditutup untuk dijadikan "padang" rumput.

"Rumah ini dibangun dengan konsep taman karena di taman anak-anak bisa bermain dan berlari-lari sepuasnya, mengingatkan saya sendiri waktu kecil dulu. Perkembangan psikologis anak akan lebih baik jika ada tempat bermain yang leluasa seperti ini," ungkap Dr Seto Mulyadi, nama lengkap Kak Seto.

Sesuai dengan konsepnya sebagai tempat bermain anak-anak, Seto melengkapi halamannya dengan berbagai macam mainan anak. Mulai dari bangku-bangku kecil dari plastik, hingga kursi ayunan, jungkat-jungkit, dan perosotan. Semua dicat warna-warni meriah membangkitkan ketertarikan anak-anak.

Bertahap

Total luas lahan di tempat rumah Kak Seto berada mencapai 2.000 meter persegi, sebuah ukuran yang luar biasa untuk rumah di dalam kompleks perumahan. "Lahan ini sebenarnya gabungan dari enam kapling tanah yang saya beli bertahap sejak 1984. Waktu itu harga tanah masih murah, kira-kira baru Rp 100.000 per meter persegi," ungkap Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak ini.

Itu sebabnya, bentuk halaman rumah tersebut tak beraturan. Ada yang berada di samping rumah utama, ada yang berbatasan dengan gang sebelah, dan ada yang berada di antara rumah tetangga. "Saya baru saja membeli rumah di belakang yang akan saya renovasi agar menyatu dengan kompleks rumah yang sekarang," tuturnya.

Di atas lahan yang serba hijau itu kini berdiri dua bangunan, yakni sebuah rumah utama berwarna putih tepat di pinggir jalan dan sebuah bangunan dua lantai di samping rumah utama yang terletak agak menjorok dari jalan.

Selalu dekat

Bangunan kedua itu difungsikan sebagai kantor, tempat Seto menjalankan profesinya sebagai psikolog sekaligus mengoperasikan dua yayasan yang didirikannya, yakni Yayasan Nakula-Sadewa dan Yayasan Mutiara Indonesia. "Bangunan ini sebenarnya adalah rumah asli yang pertama kali saya tinggali. Ruang kerja saya ini dulunya garasi," ujar alumnus Universitas Indonesia ini.

Ruang kerja ini pun tak lepas dari pernik dunia anak. Di atas meja kerja Seto terdapat beberapa mainan anak yang terbuat dari kayu berwarna-warni. "Agar anak-anak yang diajak konsultasi di sini tak merasa takut dan tegang," katanya.

Seto sengaja membangun kantornya dekat rumah agar bisa selalu dekat dengan keluarga. "Anak-anak lebih senang saya terus berada di dekat mereka," ungkap pria kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951, ini.

Sekolah di rumah

Di lantai dua bangunan "kantor" tersebut terdapat kamar belajar anak-anak yang digelari karpet dan dikelilingi rak buku. Kamar ini menjadi tempat dua anak terkecil Seto, Shelomita Kartika Putri Maharani (Sasha, 12 tahun) dan Nindya Putri Catur Permatasari (Dhea, 10 tahun), belajar. "Dua anak saya sekolah di rumah atau homeschooling karena saya percaya pendidikan sejati itu adalah yang diberikan dengan hati. Dan, itu hanya bisa dilakukan oleh orangtua," ujarnya.

Pada perkembangannya, Seto membentuk komunitas homeschooling beranggotakan hingga 300 anak yang rutin berkumpul di rumah tersebut. "Pada akhir pekan, anak-anak dari lingkungan tetangga di sini juga bebas bermain di taman," tutur Seto.

Di depan ruang belajar itu terdapat satu kamar berisi lemari-lemari yang penuh dengan boneka dan berbagai bentuk mainan anak lainnya. "Itu memang difungsikan menjadi semacam gudang. Saya menyimpan pernik-pernik perlengkapan sulap saya di situ," ujar pehobi sulap yang sering memeragakan kemampuannya sulapan saat seminar atau ceramah di depan anak-anak.

Demi keamanan

Agak kontras dengan nuansa dunia anak ini adalah sebuah pos jaga di samping gerbang utama yang berisi beberapa petugas keamanan berseragam safari gelap ala Paspampres. Meski petugasnya ramah-ramah, kehadiran mereka tetap membuat orang yang berniat tidak baik terhadap kediaman Kak Seto harus berpikir dua kali.

Menurut Seto, pos jaga itu dibangun sejak banyak pengaduan kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan kepada dia. "Pengaduan kasus seperti itu bisa datang tengah malam, bahkan sampai melibatkan polisi," tutur Seto yang juga pernah diteror orang saat menangani sebuah kasus.

Kehadiran para penjaga itu justru menjadi pelengkap rasa aman dan nyaman bagi setiap orang yang masuk ke halaman rumah Kak Seto, tempat semua anak akan menjadi tamu istimewa....

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/16/01500093/taman.bagi.semua.anak

Tidak ada komentar: