Guru mengajar tanpa persiapan! Apa jadinya? Pastilah situasinya "amburadul"—guru tak bisa fokus pada tugas, pelajaran tidak menarik, dan suasana kelas kacau! Tetapi, kenapa banyak guru tidak membuat persiapan?
Beberapa temuan di lapangan berikut ini layak untuk direnungkan demi peningkatan kualitas pendidikan.
Agar kegiatan belajar-mengajar (KBM) menarik dan efektif, persiapan mutlak perlu. Lebih baik lagi didokumentasikan. Dokumen ini bisa menjadi pedoman, arah, dan tujuan, sekaligus laporan kegiatan. Di dalamnya terinci apa yang dilakukan, ke mana kegiatan diarahkan, apa tujuan pembelajaran, dan bagaimana tujuan mesti dicapai.
Beberapa pertanyaan sering terlontar: Haruskah guru membuat persiapan secara tertulis? Perlukah semua yang dilakukan ditulis rinci? Bisakah mengajar tanpa persiapan seperti ini? Tampaknya masalah utama di sini bukan perlu/tidaknya dokumen itu, melainkan lebih pada penulisannya.
Harus diakui, dokumen pembelajaran punya fungsi strategis. Dari sini guru bisa merancang dan menyiapkan strategi untuk tampil mengajar secara optimal. Hanya saja, bisakah dibuat sederhana, tidak harus rinci dan bertele-tele?
Ada tudingan, karut-marutnya pendidikan di negeri ini salah satunya akibat berbagai beban guru yang sangat rumit dan menyita waktu, tetapi tidak selalu relevan dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Mengajar tanpa persiapan ibarat tentara maju perang tanpa strategi dan amunisi memadai. Tapi, kalau semua harus dibuat begitu rinci dan rumit, banyak guru justru tidak sungguh-sungguh membuat perangkat pembelajaran itu.
Berbagai kendala
Guru mengaku sulit menyiapkan dokumen KBM yang demikian banyak dan begitu rinci. Bayangkan, tak kurang dari sepuluh dokumen harus disiapkan setiap kali mengajar. Empat di antaranya yang paling rumit membuatnya adalah rencana pelaksanaan pembelajaran interaktif (RPPI), silabus, agenda mengajar, dan analisis ulangan harian.
Untuk RPPI, misalnya, harus ditulis apa materi pokok pembelajaran, metode yang dipakai, model pembelajaran interaktif yang dipilih, kecakapan hidup (life skill) yang ditanamkan, indikator pencapaiannya, materi esensial yang dibahas, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai, serta dijelaskan bagaimana kegiatan pembelajaran dilakukan secara urut dan rinci.
Itu baru menyangkut persiapan, belum tindak lanjutnya. Dua hal paling rumit dan membuat frustrasi adalah tugas koreksi dan analisis ulangan harian. Dengan jumlah siswa di tiap kelas yang begitu besar, tugas seperti itu akan menyita waktu hingga tugas yang lain terbengkalai.
Tugas tambahan
Bukan lagi rahasia, guru dibebani berbagai tugas lain, seperti wali kelas, bendahara SPP, panitia ujian, panitia penerimaan siswa baru (PSB), panitia Pekan Olahraga dan Seni (Porseni), koperasi sekolah, dan penyelenggara upacara bendera. Semua dibebankan di pundak guru.
Menyoal administrasi pembelajaran, dokumen yang lengkap dan rinci bukan jaminan pelajaran akan menarik dan siswa paham materi yang dibahas. Ingat, menyusun dokumen dan mengajar adalah dua hal yang berbeda. Aristoteles, seorang filsuf Yunani, berkata, "It is not sufficient to know what one ought to say, but one must also know how to say it." Yah…, guru tidak cukup hanya tahu apa yang mesti diajarkan, tapi mesti paham juga bagaimana mengajarkannya.
Harus diakui, menyiapkan administrasi pembelajaran bukanlah hal esensial. Jauh lebih penting bagaimana bisa tampil mengajar dengan menarik. Untuk itu perlu ditemukan taktik dan strategi pembelajaran yang pas, dengan mengoptimalkan pemanfaatan berbagai fasilitas pembelajaran yang ada.
Bagaimana baiknya
Berbagai keluhan terkait repotnya menyiapkan dokumen portofolio perlu dicari solusi. Bagi yang belum banyak pengalaman, jelas amat merepotkan—jumlahnya begitu banyak dan harus ditulis rinci.
Tapi, mengingat fungsinya yang begitu penting, semua itu tampaknya memang harus ada.
Begitu pun usulan agar dokumen disiapkan pihak lain layak ditanggapi. Yang penting, guru memahami isinya! Dengan begitu, mereka punya cukup waktu untuk kegiatan lain demi pengembangan profesionalisme, seperti menulis buku atau artikel.
Hanya mesti diingat, teramat riskan jika dokumen KBM tidak ada. Bisa-bisa guru lepas kendali menyangkut materi yang mesti diajarkan, bagaimana mengelola kelas secara efektif dan efisien, akhirnya tidak jelas apa tujuan yang hendak dicapai.
Singkat kata, perangkat pembelajaran selayaknya disederhanakan! Jika berorientasi pada hasil, lebih utama bagaimana prestasi sekolah. Adakah siswa menoreh prestasi, misalnya, menjuarai lomba tingkat provinsi, bahkan nasional? Bisa juga dilihat, di posisi berapa peringkat sekolah berada berdasarkan hasil ujian nasional terakhir? Kalau semua bisa dibuat sederhana, mengapa mesti dibuat rumit?
Thomas Rosid, Drs Guru SMK Negeri 9 Semarang (Mantan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMK Semarang)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/17/01063672/perlukah.administrasi.pembelajaran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar