19 November 2008

Dugaan Plagiat, Dilaporkan kepada Polisi

Menneg Ristek Mendorong Penyelesaian Akademis

Jakarta, Kompas - Mantan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Prof Dr Mezak Arnold Ratag melaporkan dugaan plagiat atas karya ilmiah dan pemalsuan tanda tangannya kepada Kepolisian Daerah Metro Jaya, Selasa (18/11). Kepala BMKG Sri Woro B Harijono menjadi pihak terlapor.

Surat tanda penerimaan laporan Mezak dengan No. Pol: LP/ 2837/K/XI/2008/SPK Unit II ditandatangani Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya Komisaris Jadi, SM. Laporan itu terkait dugaan pelanggaran hak cipta sesuai Pasal 72 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan pemalsuan surat sesuai Pasal 263 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Pengacara Mezak Ratag, Jemmy Mokolensang, mengatakan, kejadian yang dilaporkan menjadi kasus pidana murni. "Berikutnya menjadi tugas penyidik untuk pemeriksaan terlapor, saksi-saksi, maupun bukti-buktinya," ujar Jemmy.

Secara terpisah, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menneg Ristek) Kusmayanto Kadiman meminta supaya penyelesaian akademis untuk kasus ini digelar. Institusi yang berwenang dalam hal ini adalah Majelis Profesor Riset dan Tim Penilai Peneliti Pusat (TP3) pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang diketuai Lukman Hakim. Lukman saat ini menjabat pula sebagai Wakil Kepala LIPI.

"Jika persoalan ini dibawa hanya ke polisi, maka faktor akademis menjadi satu bagian saja dari permasalahan yang diajukan," kata Kusmayanto.

Hal senada diungkapkan Mezak ketika ditemui di Polda Metro Jaya. Menurut Mezak, penyelesaian secara akademis sangat perlu ditempuh. "Terlapor harus diberi kesempatan mempresentasikan karya-karya ilmiah yang diajukan dan kemudian disetujui TP3 LIPI itu," kata Mezak.

Sri Woro sendiri ketika ditemui Kompas, Senin (17/11), menyatakan siap dan lebih senang menghadapi penyelesaian persoalan dugaan plagiat dan pemalsuan tanda tangan oleh Mezak itu melalui jalur hukum.

Sanksi

Lukman Hakim kemarin menyatakan, sanksi akan diberikan kepada peneliti yang melanggar ketentuan-ketentuan akademis dalam pengajuan kenaikan jenjang peneliti. "Terkait dengan persoalan Kepala BMKG Sri Woro B Harijono ini akan segera digelar sidang Majelis Profesor Riset. Saya sebagai salah satu hakimnya nanti," kata Lukman.

Lukman sempat menunjukkan salah satu karya ilmiah yang diajukan Sri Woro sebagai usulan tambahan angka kredit ke TP3 LIPI berupa buku berjudul Less Greenhouse Gas Emission Technologies in The Context of Climate Change. Buku itu ditulis Sri Woro B Harijono terbitan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) tahun 2007.

Judul yang hampir mirip bisa diunduh di internet dalam situs unfccc.int/ttclear/pdf/TNA/Indonesia/Indonesia_Identification_of_Less_GHGs_Emission_Technologies.pdf. Buku itu diterbitkan lebih cepat enam tahun, yakni tahun 2001, oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI. (NAW)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/19/01111744/dugaan.plagiat.dilaporkan.kepada.polisi

1 komentar:

ANTI PLAGIAT mengatakan...

Silahkan membandingkan dua cuplikan kecil saja di bawah ini sebagai pembelajarannya. Sama ya..


I. (Cuplikan Dari: http://unfccc.int/ttclear/pdf/TNA/Indonesia/)

JUDUL: ... DEVELOPMENT OF MODALITIES TO ACQUIRE AND IMPLEMENT LESS
GHGS EMISSION TECHNOLOGIES IN ENERGY SECTOR (Mezak Ratag, 2001)

Recent efforts to forge some consensus on the role that developing countries should play in reducing global
greenhouse gases emission have been focused on less GHGs emission environmentally sound technologies
(ESTs). Developing countries are expected to supersede industrialized countries as the leading source of
greenhouse gases emission in the next thirty years. Yet their ability and willingness to contribute to
abatement efforts is constrained by limited financial resources, weak regulatory institutions, and the
perception that they should not have to bear the costs of mitigating a problem primarily created by
industrialized countries. ESTs are seen by many as means of surmounting these obstacles.

===================================

II. (Cuplikan Dari: http://gdl.geoph.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbgeoph-gdl-harijonosr-3098&newlang=english)

JUDUL: Less green house gas emission technologies in the context of climate change
By : HARIJONO, Sri Woro B (2007), Library_of_Dept._GM-ITB


Recent efforts to forge some consensus on the role that
developing countries should play in reducing global greenhouse gas emissions have focused attention on less GHG emission environmentally sound technologies (ESTs). Developing countries are
expected to supersede industrialized countries as the leading source of greenhouse gas emissions in the next thirty years. Yet their ability and
willingness to contribute to abatement efforts is constrained by limited
financial resources, weak regulatory institutions, and the perception that they should not have to bear the costs of mitigating a problem primarily
created by industrialized countries. ESTs are seen by many as a means of surmounting these obstacles.