Sebelum mengikuti seleksi masuk SLTA negeri, calon siswa harus melakukan prapendaftaran di sekolah yang ditunjuk. Masa prapendaftaran 30 Juni-3 Juli.
Kemarin tak kurang dari 700 lulusan SMP, terutama dari Tangerang, sejak pagi menyerbu SMAN 90, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Para calon siswa bersama orangtua mereka sampai menjelang sore masih mengikuti alur prapendaftaran untuk mendapatkan nomor pendaftaran.
Menurut para orangtua, bagaimanapun mereka lebih yakin mutu sekolah di Jakarta lebih bagus. "Terus terang saya yang lebih ambisius menyekolahkan anak ke Jakarta. Anak saya sih ikut saja," kata Fatimah, yang sedang antre masuk salah satu ruang kelas di SMAN 90.
Abi, lulusan SMP di Pamulang, memilih sekolah di Jakarta karena mengikuti jejak kakaknya dan karena biayanya lebih murah. "Di Pamulang dikit-dikit harus bayar. Beda dengan sekolah di Jakarta," kata Abi, yang mendaftar ke SMAN 25 Jakarta Pusat.
Orangtua protes
Aksi protes para orangtua kemarin mewarnai suasana prapendaftaran di SMAN 90 Jaksel dan SMAN 68 Jakarta Pusat. Orangtua memprotes ketentuan calon pendaftar harus melampirkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHU).
"Sekolah di Kota Tangerang belum mengeluarkan SKHU, adanya hanya nilai sementara dari sekolah, eh petugasnya menolak. Kami ramai-ramai protes," kata Ningsih yang mengantar Rendy, putranya.
Sekitar 700 siswa dan para orangtua dari 32 provinsi di luar DKI Jakarta yang mendatangi SMAN 68 sempat kebingungan ketika diminta menyertakan SKHU saat prapendaftaran.
"Mungkin di Jakarta SKHU dari Departemen Pendidikan Nasional sudah diterima. Namun, sekolah anak saya di Pacitan, Jawa Timur, belum menerima," kata Ati (37) asal Pacitan.
Ati mendampingi anaknya, Rosi (15), lulusan SMPN 1 Pacitan, yang akan melanjutkan ke SMK di Jakarta. Hal senada diungkapkan Yuli (38) asal Yogyakarta, yang mendaftarkan keponakannya, Yana (16), lulusan SMPN 4 Yogyakarta.
Ketua Pelaksanaan Prapendaftaran Penerimaan Siswa Baru (PSB) Yuska mengatakan, syarat penyertaan SKHU asli yang dikeluarkan Depdiknas adalah keputusan pemerintah pusat. Namun, setelah mengetahui SKHU asli belum diterima para siswa dari luar Jakarta, persyaratan tersebut diperlunak, yaitu dapat diganti sementara dengan SKHU dari kepala sekolah asal.
"Keputusan itu diambil setelah kami berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi DKI," kata Yuska soal solusi yang diberikan bagi pendaftar.
Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta pada tahun ini menunjuk beberapa SMA negeri di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara sebagai tempat prapendaftaran masuk ke SMA/SMK negeri di seluruh Jakarta.
Sekolah tersebut adalah SMAN 68 Jakarta Pusat, SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta Utara, SMAN 38 Lenteng Agung, SMAN 90 Jakarta Selatan, SMAN 33 Cengkareng Jakarta Barat, SMAN 54 Rawa Bunga, dan SMAN 99 Jalan Raya Bogor di Jakarta Timur.
Lulusan SMP dari Bekasi, Tangerang, Bogor, dan luar negeri yang ingin ikut seleksi masuk ke sekolah negeri di Jakarta harus mendaftarkan diri dulu ke tempat prapendaftaran yang sudah ditunjuk.
Sistem "online"
Kepala Humas Dinas Dikmenti DKI Jakarta Yusen Hardiman menyatakan, PSB SLTA negeri di DKI Jakarta menggunakan sistem realtime online yang mempermudah lulusan SMP mendaftar ke sekolah sesuai pilihannya.
Dengan media online ini, siswa dapat mengakses hasil PSB melalui internet di situs resmi, yakni www.dikmentidki.psb-online.or.id atau lewat SMS.
Para siswa mendatangi sekolah terdekat dengan membawa berkas. Selanjutnya, data siswa dimasukkan dalam sistem online. Demikian juga siswa yang akan mengikuti gelombang kedua, mereka harus membawa berkas ke sekolah terdekat untuk selanjutnya data-data tersebut dimasukkan dalam sistem online.
"Dengan sistem ini, siswa bisa mendaftarkan ke SMA negeri terdekat yang ditunjuk, tidak harus ke sekolah pilihannya," kata Yusen. (NEL/PIN/TRI)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/01/01404043/warga.luar.kota.serbu.sekolah.dki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar