06 Juli 2008

Gagap atau Membisu Selektifkah Anak Kita?

Sawitri Supardi Sadarjoen Psikolog

Tahun ajaran baru sudah di ambang pintu, orangtua mulai disibukkan mencari sekolah bagi anak-anaknya, bahkan untuk anak-anak mereka yang masih berada dalam periode prasekolah.

Usia prasekolah adalah antara 3 tahun hingga 5-6 tahun. Kesiapan anak menghadapi tuntutan kehidupan sekolah sering membuat orangtua cemas. Ada beberapa kompetensi dan keterampilan anak yang perkembangannya dituntut siap sekolah dalam rentang usia perkembangannya, antara lain:

* Kemampuan berkomunikasi dengan cara wajar dalam rentang usianya.

* Keterampilan sosial, seperti kendali diri, tahu cara berkomunikasi dengan teman sebaya dan guru.

* Keterampilan fisik, seperti kendali gerak motorik yang muncul dalam tingkat aktivitas wajar, seperti saat buang air besar atau kecil, misalnya.

* Kemauan mengikuti aturan lingkungan yang berlaku di luar rumah, seperti di sekolah dan rumah teman sebaya.

* Kemampuan memusatkan perhatian dalam waktu relatif lama.

Memang tidak semua anak unggul dalam keterampilan vital di atas sebelum masuk sekolah. Mungkin sebagian anak mengalami keterlambatan dan hambatan dalam laju perkembangan mental, atau bahkan mengalami gangguan perkembangan mental dan perilaku yang akan membuat mereka menunjukkan gejala perilaku seperti di bawah ini:

* Mengalami gangguan dalam berkomunikasi, misalnya, gagap atau membisu selektif.

* Tidak dapat memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsif.

* Perilaku kacau dan/atau seperti mengompol siang dan malam hari.

Membisu selektif

Kasus membisu selektif memang agak jarang, tetapi anak dengan gangguan tersebut pada dasarnya adalah anak yang memiliki kemampuan berkomunikasi intim dengan orang rumah, tetapi bisa diam seribu basa saat berhadapan dengan orang asing.

Mereka akan terisolasi dari pergaulan dengan teman sebaya karena mengalami kesulitan berkomunikasi dengan rekan sebaya atau bahkan dengan guru.

Kasus anak membisu selektif menurut hasil penelitian lebih sering terjadi pada anak perempuan. Karena gangguan tersebut pada dasarnya adalah gangguan karena kondisi kecemasan psikologis yang intensif diderita anak, maka bila dibiarkan tanpa perawatan bisa berkembang dan berpengaruh terhadap masalah akademis, sosial, dan emosional kelak saat anak menjadi dewasa.

Gangguan itu misalnya:

* Memburuknya intensitas perkembangan kecemasan yang dirasakan.

* Berpeluang untuk perkembangan ke arah depresi.

* Bisa juga terjadi perkembangan ke arah jenis gangguan kecemasan lain.

* Terisolasi secara sosial dengan perasaan ditolak lingkungan pergaulan.

* Memiliki kepercayaan dan keyakinan diri yang rendah.

* Berpeluang mogok sekolah di kemudian, bahkan drop-out.

* Rendahnya prestasi akademik yang bisa dicapai,

Penyebab

Beberapa anak yang menderita gangguan membisu selektif biasanya lahir dari ibu yang juga memiliki kepribadian yang terhambat dalam fungsinya. Jadi, sejak bayi pun sudah tampak keberadaan gejala ketakutan saat bertemu orang asing serta sulit menyesuaikan diri dengan orang baru dan situasi baru. Biasanya bayi ini akan menangis ketakutan saat dibawa ke lingkungan baru.

Perawatan tertuju pada upaya menanggulangi gangguan kecemasan anak. Metode perawatan yang efektif ditujukan pada upaya memberi rangsangan komunikasi dengan tahapan yang diatur runtut dan dimulai dalam lingkungan/ruangan di mana anak merasa aman dan nyaman.

Orangtua membawa anak dan membiarkan anak bermain dalam ruang kelas kosong dengan ditemani orangtua.

Kemudian secara bertahap satu atau dua orang guru masuk kelas dan berjalan, sementara anak bermain sambil berbicara dengan orangtua.

Berikutnya, guru yang lalu lalang di ruangan mencoba berbicara sepatah dua patah kata kepada orangtua tanpa terlihat memerhatikan anak.

Setelah terlihat kehadiran guru tidak mengganggu anak, secara bertahap satu orang anak sebaya yang belum akrab dengannya masuk ruangan. Bila terlihat anak tidak terusik, tahapan berikutnya ditambah dengan anak lain dan begitu seterusnya dilakukan bertahap.

Tentu saja rangkaian tahapan stimulasi tersebut sangat tergantung dari ringan–beratnya kasus membisu selektif anak. Memang diperlukan kerja sama yang baik antara orangtua dan guru.

Kecuali itu, ada tahapan tertentu yang harus dilatihkan agar anak yang membisu selektif akhirnya dapat mengungkap kalimat secara verbal kepada anak sebaya atau orang lain, atau guru, walaupun awalnya perlu dilatihkan melalui bahasa nonverbal, seperti anggukan, menunjuk, atau menggunakan gambar agar anak terlatih dalam mengekspresikan dirinya.

Sesederhana apa pun hal yang mampu diungkap anak, hendaknya dihargai. Penghargaan bisa melalui pemberian hadiah kecil, seperti permen atau pujian, agar proses penguatan reaksi verbal dan nonverbal itu terbentuk dalam diri anak.

Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana mungkin anak bisa terlatih mengungkap ekspresi verbalnya? Untuk itu, hendaknya segala hal yang terjadi dalam ruang kelas direkam. Pada saat yang tepat rekaman tersebut ditayangkan di hadapan anak.

Melalui kesempatan anak mendengar kembali ungkapan verbalnya dan melihat rekaman dirinya, anak akan mengalami peningkatan kepercayaan diri karena bisa membuktikan dia mampu berbicara dan berkomuniksi dengan orang lain. Nah, pelan tetapi pasti gejala membisu selektif akan serta-merta teratasi.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/06/0138038/membisu.selektif

Tidak ada komentar: