Saya orangtua dua anak. Anak pertama baru tahun lalu selesai ujian akhir nasional dan sekarang anak kedua di kelas VI SD menghadapi ujian akhir sekolah berskala nasional. Sudah satu tahun sejak anak saya masuk kelas VI SD dan mendengar akan ada ujian nasional untuk SD, saya, suami, dan anak saya sangat stres dan tertekan karena harus mempersiapkan selama berbulan-bulan untuk ujian nasional.
Anak saya mempunyai permasalahan learning disability sehingga perlu waktu untuk mengerti pelajaran dan retensinya sangat pendek. Hal lain yang membuat saya lebih cemas, dari penjelasan yang diterima dalam suatu diskusi terbuka di sekolah dengan pihak Depdiknas, kalau tidak lulus, si anak bisa mengulang dan baru bisa mendapatkan ijazah setelah lulus. Artinya, kalau tidak lulus, si anak harus menunggu sampai lulus ujian akhir sekolah berskala nasional (UASBN) dan mendapat ijazah untuk bisa melanjutkan sekolah di SMP.
Hal itu juga berarti selama satu tahun anak saya menunda masuk SMP. Berapa banyak waktu, tenaga, dan uang yang terbuang agar bisa melanjutkan ke SMP? Padahal, anak saya sudah diterima di salah satu SMP swasta, tapi dengan syarat harus ada ijazah kelulusan. Saya tidak melihat anak saya lebih pintar atau lebih berkualitas dengan persiapan seperti ini, terlebih dengan ketidakjelasan arah dari diadakannya ujian itu, dan saya sebagai orangtua merasa dianiaya lahir dan batin.
Kalau dapat memetakan mutu hasil kelulusan, kemudian apa hasil akhir dan manfaat yang akan didapat pemerintah setelah menyiksa anak-anak, orangtua, dan guru-guru yang menjadi stres? Kenapa di Amerika, misalnya, pendidikan bisa maju tanpa ada ujian nasional seperti di Indonesia? Yang menjadi masalah sekarang adalah mahalnya biaya pendidikan.
Keberhasilan seseorang tidak bergantung pada IQ, tetapi juga tingkat EQ dan SQ. Ujian nasional tidak akan bisa mencakup EQ dan SQ. Apakah semua ini hanya demi kepentingan kantong segelintir orang atau kelompok? Apakah pemerintah tidak bisa mendengar keberatan dari semua pihak? Sri Rejeki Kavling DPRD DKI Blok G, Cibubur, Jakarta
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/04/0031534/redaksi.yth

Tidak ada komentar:
Posting Komentar