23 Juni 2008

Siswa TK Mabuk “Permen” Narkoba

Enam siswa TK tak sengaja mengonsumsi narkoba jenis Happy V pemberian teman sekelasnya. Pil haram itu dimasukkan dalam bekas pembungkus permen cokelat. Kontan para bocah pun teler. Ayah anak si pembawa pil kini diburu polisi.

Ada yang tak biasa di Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Sekar Bangsa, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Senin (9/6) silam. Usai beristirahat, seperti biasanya anak-anak cuci tangan lalu makan bekal masing-masing bersama. Salah satu anak, Rida Wahyu Mochtar (6) kemudian membagi "permen cokelat" pada lima temannya. Tentu saja pemberian itu disambut suka cita. Ada yang mengunyah hingga enam butir.
Selang beberapa saat, Kepala Sekolah TK Sekar Bangsa Maria W. Soeprapti yang biasa disapa Bu Ati, melihat keanehan pada enam siswa yang itu. Salah satunya, Adrian Kaldera Darmawan (6). Anak itu berjalan sempoyongan lalu ambruk dan tertidur. Tak lama kemudian teman-teman lainnya juga sempoyongan. Bahkan ada yang menabrak meja dan pintu. "Mereka jatuh lalu bangun lagi, tiduran lagi. Saya pikir bercanda. Anak-anak itu memang tergolong aktif," jelas Ati.
Waktu ditanya Ati kenapa sampai sempoyongan, anak-anak mengaku habis makan "permen cokelat" yang dibagikan Rida. Ati langsung meminta sisa "permen" itu. Melihat jenis "permen" yang dikonsumsi anak didiknya tak biasa, Ati terkejut. Para guru segera membawa anak-anak ke Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) dekat sekolah. Setelah mendapat pertolongan seperlunya, anak-anak disarankan dibawa ke rumah sakit.

TERGOLONG PSIKOTROPIKA
Sekolah mendadak gempar. Para wali murid pun kebingungan. Termasuk Sri Mochtar, ibu Rida. "Saya baru ke pasar waktu dikasih tahu anak saya teler. Waktu saya datang, bapaknya sudah ada di Balkesmas bersama Kepala Sekolah. Saya lantas sibuk ngurusi anak saya ke rumah sakit."
Ibu tiga anak ini mengaku sama sekali tidak menyangka bekal yang diberikan pada putrinya akan berbuntut masalah. "Kan, bungkusnya bungkus permen cokelat. Saya enggak tahu isinya bisa bikin teler anak-anak. Saya mengambil dari tas kresek yang dibawa suami pulang kerja. Tas itu dicantelkan di tembok. Biasanya sepulang kerja dia kan, bawa kue buat anak-anak. Hari itu saya pikir bawa oleh-oleh permen cokelat. Makanya langsung saya berikan buat bekal Rida."
Ternyata, pil yang dikira "permen coklat" itu tak lain narkoba jenis Happy V. Pil berwarna oranye tersebut dimasukkan dalam bekas pembungkus permen cokelat. Karena mengira coklat, enam anak itu mengonsumsi satu hingga enam tablet sekaligus. Dari tiga stripe yang masing-masing berisi 10 pil, hanya tersisa 11 pil. Akibatnya, keenam bocah mengeluhkan pusing, mengantuk, lalu ambruk.
Wakil Kepala Bidang Pelayanan IGD RS Fatmawati, Dr. Ugi Sugiri, Sp.M.E menjelaskan, "Keenam anak masuk ke rumah sakit pukul 11.20. Beberapa saat setelah masuk rumah sakit mereka tertidur kurang lebih satu hingga dua jam. Kecuali Adrian, sempat kehilangan kesadaran diri. Tapi bukan pingsan, ya. Baru pagi harinya lagi kesadarannya mulai pulih. Mungkin karena Adrian makan sekitar enam pil."
Ugi menambahkan, setiap stripe bertuliskan huruf Jepang warna merah. Namun, ia tidak tahu apakah pil itu bikinan Jepang atau bukan. Yang jelas, pil semacam itu jenis benzodiazepine. Yakni salah satu golongan psikotropika yang memiliki sifat sedatif (penenang), punya efek hipnotif. Satu pil memiliki berat 5 mlg. Pil semacam ini tidak pernah diresepkan.
Apakah pil tersebut menimbulkan efek ketagihan pada anak-anak yang telah mengonsumsinya? "Selama penggunanya bersih, efek adiktif itu tidak akan timbul. Beruntung, anak-anak yang memakan pil itu, setelah dirawat di rumah sakit sudah dinyatakan bersih. Secara klinis sudah bagus. Maksudnya, selama 12 jam mereka berada di rumah sakit, sudah bisa buang air kecil. Jadi obatnya keluar melalui air seni. Makanya mereka sudah boleh pulang kecuali Adrian. Yang jelas anak-anak itu masih harus dipantau. Kalau ketagihan, ya harus dibawa konsultasi ke psikiater yang menangani pasien kecanduan narkoba."

PUSING DAN NGANTUK
Empat dari enam anak yang keracunan psikotropika itu Selasa (10/6) pagi diizinkan pulang. Menyusul kemudian Rida dan Adrian baru diizinkan pulang petang harinya.
Saat NOVA membesuk Adrian, anak pasangan Toni (42) dan Tri Utami (43) itu masih diinfus. Adrian terlihat amat gelisah. Sebentar tiduran, kemudian bangun. Ia merasa badannya bergoyang-goyang seperti di atas kapal. Bahkan ia mendadak melorot minta turun dari tempat tidur lalu menggelendot pada ayahnya. Sejenak kemudian ia bersembunyi di kolong tempat tidur, seperti mencari-cari sesuatu.
Yang menggembirakan, Adrian sudah bisa menangkap percakapan neneknya lewat telepon. Padahal, saat itu lidahnya masih kelu dan bicaranya cadel. Menurut pengakuannya, pil yang ia makan rasanya manis.
Toni mengaku tidak akan menuntut orangtua Rida. "Kalau nuruti emosi, sih, saya marah. Tapi bagaimana lagi. Kasusnya, kan, sudah ditangani polisi. Katanya yang dimakan itu narkoba. Kalau enggak bisa sembuh, enggak tahu deh, nanti bagaimana. Saya sendiri cuma buruh potong pohon bonsai." Ibu Adrian, saat ini masih berada di Taiwan bekerja sebagai perawat orang jompo. "Sengaja tidak saya beritahu. Biar enggak jadi pikiran," tambahnya.
Sementara, Rida meski memakan empat butir Happy V, kondisinya lebih baik ketimbang Adrian. Namun, matanya masih terlihat mengantuk dan kadang sempoyongan. Berulang kali kepalanya disandarkan ke pangkuan ibunya. Ia juga tak mau banyak bicara. "Pusing dan ngantuk," ujarnya singkat.
Pada NOVA Sri mengungkapkan kebingungannya lantaran suaminya, Rudi Mochtar, pergi entah ke mana. Ia sendiri bingung harus menjawab serangkaian pertanyaan polisi perihal pil yang diberikan pada anaknya. "Saya tidak tahu apa-apa. Setelah dari BalkesMas, bapaknya Rida pergi ke mana saya juga enggak tahu."
Menurut Sri, suaminya bekerja sebagai sopir kontainer. Pulang ke rumah seminggu sekali. Lantas, dari mana pil yang membua anak-anak itu teler? "Kata suami saya sih, dari Garut. Saya tidak tahu apa-apa, deh."
Kini Sri mengaku menyesal dan sudah meminta maaf pada orangtua anak-anak yang jadi korban. "Mereka memaafkan saya. Namanya juga musibah. Kan, enggak disengaja," ucapnya seraya berharap suaminya segera pulang. "Kalau saya bolak-balik pergi ke kantor polisi, anak saya yang baru berusia dua bulan enggak ada yang momong."

DIBURU POLISI
Untuk memastikan asal Happy V itu dari mana, Polres Metro Jakarta Selatan hingga kini masih memburu keberadaan Rudi Mochtar. "Sekarang kami sedang melakukan upaya pencarian dan penangkapan terhadap saudara Rudi Mochtar. Kami ingin minta keterangan dari mana asal obat itu dan bagaimana prosesnya sehingga jatuh ke tangan anaknya," tegas Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Chairul Anwar. Perkembangan terakhir, dari banyaknya jumlah pil yang ditemukan dalam tas, Rudi diduga sebagai pengedar.
Kapolres kembali mengklarifikasi bahwa pil yang meracuni siswa TK Sekar Bangsa, Pondok Labu itu bukan permen cokelat. Melainkan pil yang dimasukkan ke dalam bekas pembungkus permen cokelat. "Sebenarnya yang ditaruh di tas saudara Rudi ada lima stripe. Masing-masing stripe berisi 10 tablet. Tetapi yang diberikan untuk anaknya hanya 3 stripe. Yang dimakan enam anak itu jumlahnya 19 pil. Jadi masih tersisa 11. Itu yang kami jadikan barang bukti."
Rabu (11/6) pagi keenam anak yang jadi korban Happy V itu telah masuk ke sekolah. Kata Ati, mereka terlihat sehat-sehat dan ceria seperti sedia kala. Bahkan Adrian yang pulang dari rumah sakit belakangan mengaku sudah kangen sama teman-temannya.
Agar tak kecolongan lagi, kini TK Sekar Bangsa lebih memperketat pengawasan bekal yang dibawa anak-anak. "Lebih-lebih yang kemasan. Kami awasi. Orangtua siswa juga kami beritahu. Anak-anak bahkan bertanya dulu bekal dari mamanya boleh dimakan apa tidak. Mereka lebih selektif. Hanya mau makan makanan bekal dari rumah. Tidak mau makan pemberian teman lagi," tambahnya.
Rini Sulistyati
http://www.tabloidnova.com/article.php?name=/siswa-tk-mabuk-permen-narkoba&channel=news%2Fperistiwa

Tidak ada komentar: