21 Juni 2008

Siswa-Siswi Membolos demi "Ngerumpi" di Mal

Sejumlah siswa SMA menghabiskan waktu dengan "nongkrong" di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Jakarta Selatan, baru-baru ini. SP/Ignatius Liliek

Mencari siswa-siswi di mal-mal sekarang ini bukanlah masalah sulit. Mal kini bukan sekadar tujuan orang berbelanja, tetapi telah menjadi sarana hiburan, bahkan alternatif pengisi waktu luang bagi siswa untuk sekadar cuci mata, nongkrong, dan ngerumpi.

Suguhan yang ditawarkan di mal pun beraneka ragam. Ada aneka kuliner, paket promosi, aksesori, dan berbagai hiburan yang menggoda hati setiap pengunjung. Situasi tersebut membawa pengaruh konsumtif bagi siswa selaku pengunjung. Siswa cenderung digiring menghabiskan uang sakunya. Rasa gengsi dan demi penampilan di hadapan teman-temannya, membuat mereka terbiasa saling mentraktir, mengadakan pesta ulang tahun atau hura-hura di mal atau kafe. Agar tampak lebih gaul dan trendy, gaya hidup siswa pun banyak mengadopsi model-model iklan atau pemain sinetron yang sedang tren, seperti model aksesori, telepon seluler, tato, tindik, dan sebagainya.

Sesungguhnya, perilaku konsumtif seperti itu sangat rentan bagi siswa untuk terlibat hal-hal negatif, mengingat mereka belum memiliki pendapatan tetap. Perilaku konsumtif tanpa didukung dana membuat siswa berusaha berbagai cara untuk memenuhi hasratnya. Siswa tak segan terlibat tindak kriminal seperti memalak, menipu, dan mencuri. Sementara itu, beberapa remaja putri, rela menyerahkan diri berbuat asusila demi materi untuk keperluan konsumtif.

Bagi orang tua, perilaku konsumtif anaknya harus dibayar mahal. Mereka tidak hanya berhadapan dengan keperluan sekolah, tetapi juga harus mengeluarkan biaya ekstra yang cukup besar. Celakanya, orang tua yang secara ekonomi pas-pasan, dipaksa mementingkan perilaku anaknya daripada membeli beras atau minyak tanah demi harga "pergaulan" sang anak.

Ferina Dwi Agustasari, siswa sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di Jakarta Selatan, mengaku dirinya sering mencuri waktu jam belajarnya untuk pergi ke tempat-tempat keramaian, seperti mal-mal yang ada di Ibukota. "Saya biasanya paling malas ke sekolah bila sudah hari Sabtu. Kebetulan saya masuk siang, jadi pagi harinya saya gunakan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, sekadar melihat-lihat ataupun belanja," katanya, yang ditemui saat sedang asyik belanja di pusat perbelanjaan Depok Town Square (Detos), baru-baru ini.

Sengaja Bolos

Menurutnya, bila sudah asyik di tempat-tempat seperti itu, dirinya sering lupa waktu, hingga akhirnya sengaja bolos sekolah. "Kalau sudah ketemu teman-teman, kadang lupa kalau hari itu harus sekolah," ucapnya.

Pelajar kelas dua itu juga menambahkan, dirinya tidak merasa kesulitan masuk ke pusat perbelanjaan. Banyak cara yang bisa ditempuh. "Biasanya, kalau ada satpam yang reseh, saya sudah siapkan baju bebas, agar bisa masuk. Tetapi kadang, walaupun masih pakai baju sekolah, kita juga masih diperbolehkan masuk," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Retno Pertiwi, pelajar kelas satu sebuah SMU di Jakarta Selatan. "Saya biasanya janjian dengan teman satu sekolah untuk cabut (bolos, Red.) dari sekolah ke tempat ini. Kita ke sini biasanya hanya sekadar makan bareng," ucapnya.

"Setelah ujian sekolah, seperti ulangan umum, kita jarang dikasih libur. Makanya untuk melepas stres, saya dan teman-teman biasa ke sini," katanya. Dirinya mengaku tidak merasa khawatir akan tertinggal mata pelajaran di sekolah karena kebiasaannya meninggalkan waktu belajar. "Biasa aja sih Mas, toh pelajaran yang disampaikan itu-itu aja," ujarnya ringan.

Retno, juga menambahkan, banyak kebijakan di sekolah yang dapat menjadi faktor siswa menjadi malas masuk sekolah. Satu di antara peraturan itu adalah memberlakukan penutupan gerbang pintu masuk sekolah bila melewati batas waktu yang ditentukan.

"Di sekolah saya ada peraturan yang sengaja akan menutup pintu gerbang sekolah bila lewat pukul 07.00 WIB. Kadang, saya dengan teman-teman yang dari rumah memang niat untuk mengikuti pelajaran di sekolah, dan ternyata di jalan menemui hambatan, seperti terkena macet akibat demo yang sedang marak, tidak ada ampun lagi. Kita tidak bisa masuk sekolah," ujarnya.

Bila sudah demikian, menurutnya, sekalian saja tidak masuk, karena pihak sekolah tidak ada kompromi bila ada siswanya yang terlambat masuk sekolah. "Masak saya harus memanjat pagar sekolah," ucapnya sambil tertawa.

Beberapa siswa lain yang telah dipergoki keluyuran saat jam belajar, mengaku pihak orang tua di rumah tidak mengetahui jika mereka berada di tempat seperti itu. Dari rumah, mereka pamit untuk pergi ke sekolah, tetapi sampai di jalan, mereka berbelok arah. "Saya tadi pagi pamit dengan orang tua di rumah untuk berangkat sekolah. Tetapi, belum sampai di sekolah bertemu dengan teman-teman yang mengajak untuk cabut.

Mereka mengajak saya bertanding play station di tempat penyewaan," kata Budi Triono, pelajar kelas satu SMK di Jakarta Selatan, yang ditemui masih berpakaian sekolah lengkap dan tengah asik bertanding dengan teman sebayanya.

Dirinya mengaku kapok untuk jalan-jalan di pusat perbelanjaan saat jam sekolah. Dia mengaku dulu pernah terjaring razia polisi dan petugas dari tempatnya sekolah saat jalan-jalan di mal menggunakan seragam sekolah.

"Karena kejadian itu, saya sempat diskors pihak sekolah selama seminggu tidak boleh mengikuti pelajaran di sekolah," tuturnya. Oleh karena itulah, sekarang menurutnya lebih aman bolos ke tempat penyewaan play station. "Kalau bolos di sini, enggak ada yang tahu," ujarnya. [YRS/IGK/L-8] suarapembaruan 21/6/08

Tidak ada komentar: