29 Juni 2008

Melongok Museum-museum di Jakarta

Patung para pendiri Boedi Oetomo, di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Minggu (18/5).

Jakarta sesungguhnya pantas menyandang gelar sebagai Kota Museum. Tahukah Anda bahwa di kota ini ada 57 museum publik? Itu belum terhitung yang dikelola kelompok atau perorangan. Museum-museum ini menyimpan benda-benda, serta catatan sejarah dan budaya dari kota ini yang begitu kaya dan beraneka ragam.

Jika selama ini Anda hanya tahu Museum Nasional atau Museum Monumen Nasional (Monas ) saja, kali ini cobalah Anda berwisata ke museum lain yang ada di seluruh wilayah di Jakarta. Mungkin bisa dimulai dengan Museum Sejarah Jakarta di Jalan Taman Fatahillah No 2, Jakarta Barat. Dulunya gedung bergaya arsitektur kuno abad ke-17 ini bernama Stadhuis atau Balai Kota. Museum Sejarah Jakarta berdiri di areal seluas 13.000 meter persegi, pada 30 Maret 1974. Berbagai objek yang dapat disaksikan di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-18, keramik, gerabah, dan batu prasasti.

Koleksi-koleksinya terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Fatahillah, Ruang Jayakarta, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Ada juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini diperkaya dengan patung Dewa Hermes yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan Meriam Si Jagur yang dipercaya mempunyai kekuatan magis. Jangan lupa, di Museum Sejarah Jakarta terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulunya sangat menakutkan.

Tak jauh dari sini, kemudian menyeberang ke arah kiri, terdapat Museum Wayang. Letaknya di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat. Semula bangunan ini bernama De oude Hollandsche Kerk yang telah ada sejak tahun 1640. Pemakaian Museum Wayang diresmikan pada 13 Agustus 1975.

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini misalnya, dari Tiongkok dan Kamboja. Hingga kini koleksinya lebih dari 4.000 buah, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka, dan gamelan. Umumnya, boneka berasal dari Eropa.

Jika kita menyeberang ke arah kanan terdapat Museum Seni Rupa dan Museum Keramik. Kedua museum ini terdapat di dalam satu gedung, yaitu Balai Seni Rupa dan Keramik di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat. Museum Seni Rupa memamerkan aneka macam karya seni lukis dari berbagai aliran, seperti naturalisme, abstrak, dan surealisme. Pelukis Indonesia yang karyanya tersimpan di sini antara lain Raden Saleh, Affandi, Sudjojono, dan Basuki Abdullah.

Sementara itu, Museum Keramik menampilkan koleksi keramik lokal dan keramik asing, baik berupa hasil penggalian arkeologis maupun sumbangan dan pembelian dari berbagai pihak. Keramik Cina terbanyak jumlahnya, menyusul keramik Jepang, Siam (Thailand), Annam (Vietnam), dan Eropa. Koleksi keramik lokal di antaranya berasal dari Kasongan, Plered, Malang, Palembang, dan Singkawang. Selain keramik tradisional juga digelar keramik modern atau keramik kreatif hasil karya seniman-seniman Indonesia.

Sesudah itu, cobalah bergerak ke utara, di sana terdapat Museum Bahari. Lokasinya di Jalan Pasar Ikan No. 1, Jakarta Barat. Museum ini menyajikan koleksi yang berhubungan dengan kehidupan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Koleksi-koleksi itu terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias. Disajikan pula berbagai model kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan koleksi biota laut dan aneka perlengkapan nelayan.

Masih belum puas? Datanglah ke daerah Jakarta Pusat. Di Tanah Abang. Anda akan menemukan Museum Prasasti yang berlokasi di Jalan Tanah Abang 1. Di sini Anda akan menyaksikan prasasti-prasasti makam bangsa Belanda. Tokoh bangsa Indonesia yang prasastinya ada di sini antara lain Miss Riboet (tokoh sandiwara) dan Soe Hok Gie (tokoh mahasiswa). Sementara prasasti tokoh bangsa Belanda adalah Dr. WF Stutterheim (ahli arkeologi), Dr. HF Roll (pendiri Stovia), dan JHR Kohler (tokoh Perang Aceh).

Masih di kawasan Tanah Abang, di Jalan KS Tubun No. 4, Jakarta Pusat, kita dapat berkunjung ke Museum Tekstil. Museum ini memamerkan pola, ragam hias batik, dan aneka tekstil yang didapat dari segenap penjuru Nusantara. Alat tenun tradisional ikut memperkaya khazanah koleksi museum ini. Sayangnya, karena faktor waktu, banyak jenis tekstil tidak dipamerkan museum ini karena sudah terlalu tua umurnya.

Bergeser ke tengah, yakni di kawasan Menteng terdapat Museum (Gedung) Juang '45. Museum yang lokasinya di Jalan Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat, ini memamerkan foto-foto dokumentasi sejarah perjuangan bangsa kurun waktu 1945-1950. Terdapat juga sejumlah lukisan perjuangan, patung tokoh pejuang dan panji. Koleksi lainnya berupa mobil REP1 dan REP2, mobil dinas resmi Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta. Dari sini terlihat bahwa Jakarta merupakan sebuah kota yang memiliki periode sejarah cukup lengkap, mulai dari periode prasejarah hingga dewasa ini. Objek-objek dari periode itulah yang disajikan berbagai museum tadi.

Banyak

Masih ada banyak lagi yang siap Anda kunjungi! Seperti museum-museum yang terdapat di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Sedang di wilayah Jakarta Pusat juga terdapat Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi, Museum Satria Mandala, Museum Sumpah Pemuda, serta museum untuk melawan teroris, yaitu Museum Waspada Purbawisesa.

Di Jakarta Selatan ada Museum Layang Layang, Museum Basoeki Abdullah, Museum Korp Marinir, dan Museum "uang" Reksa Arta. Jika Anda masih bingung memilih hendak pergi ke museum yang mana, cobalah dulu ke toko buku dan carilah buku Museum Encouters Jakarta.

Buku yang disusun para relawan dari Indonesian Heritage Society ini akan memberi Anda informasi tentang museum-muesum yang ada di Jakarta dan sekitarnya, mulai dari alamat museum, jenis museum, waktu berkunjung, hingga informasi apakah pemandunya gratis atau tidak, juga nomor telepon museum tersebut.

Buku ini dilengkapi tips bagaimana etika berwisata di Indonesia, termasuk hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan oleh turis asing. Selain itu di dalamnya tercantum alamat dan nomor telepon sejumlah museum yang ada di daerah lain, seperti Bali, Flores, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Lombok, Maluku, Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumbawa, dan Nusa Tenggara Timor. Informasi ini pasti sangat berguna bagi para pencinta museum. [W-10]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/29/index.html

Tidak ada komentar: