|
| KOMPAS/ALBERTUS HENDRIYO WIDI / Kompas Images Inilah rekaman video tindak kekerasan yang dilakukan anggota Geng Nero di Gang Belimbing, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Rekaman ini beredar di Pati dan Kudus. |
Tulisan di selembar kertas asturo berwarna itu lebih kurang berarti "kewajiban orang muda adalah menghormati dan menghargai jerih payah orangtua serta menjunjung nama baiknya".
"Para siswa membuat kata-kata bijak itu dua tahun silam," kata guru Bimbingan Konseling SMA Negeri 1 Juwana, Purwaningsih, Kamis (19/6) di Juwana.
Ironis. Itulah kata yang tepat untuk slogan tersebut. Kata-kata bijak itu kini bak terkubur oleh kasus kekerasan terhadap Ls, siswi salah satu SMA di Juwana, yang dilakukan Geng Nero alias Neko-neko Dikeroyok. Salah satu anggota geng tersebut adalah siswi kelas X SMA Negeri 1 Juwana yang berinisial Tk. Anggota lainnya adalah Rt dan My (siswi kelas X SMA Negeri 1 Batangan) serta Yk (siswi kelas X SMA Diponegoro).
Sebelumnya, anggota Geng Nero berjumlah tujuh orang. Geng dibentuk saat mereka sama-sama duduk di kelas III SMP. Setelah lulus, dua di antaranya masuk ke SMA Negeri 1 Juwana, satu ke SMA Negeri Batangan, satu ke SMA Diponegoro, sedangkan tiga lainnya pindah, masing-masing ke Batam, Bali, dan Yogyakarta. Kegiatan mereka saat itu, antara lain bermain basket atau kumpul bersama di suatu tempat.
Gang cinta
Tindak kekerasan Geng Nero terungkap setelah rekaman tentang kekerasan terhadap Ls beredar, melalui telepon seluler, hampir di seluruh Pati pada Juni ini. Dalam rekaman terlihat, anggota Geng Nero meminta Ls menghormati gengnya. Selain itu, mereka juga menampar wajah dan memukul perut Ls.
Penganiayaan itu berlangsung di Gang Blimbing, Desa Kudukeras, Kecamatan Juwana, yang merupakan kawasan pecinan. Gang yang kanan-kirinya dibentengi pagar-pagar tembok tinggi itu terletak sekitar 300 meter dari Kantor Kepolisian Sektor Juwana.
Menurut Wito (25), warga sekitar Gang Blimbing, gang itu pada pagi atau siang hari sering digunakan sebagai tempat mangkal siswa yang membolos atau pacaran. Karena itu, sebagian warga menyebutnya sebagai "Gang Cinta". Pada malam hari, para waria dan pemabuk acap kali kongko-kongko di sana.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor (Polres) Pati Ajun Komisaris Sulkhan mengatakan, kasus tersebut saat ini sudah ditangani polisi. Sabtu lalu, keempat pelaku bahkan dipindahkan dari tahanan Polres ke Lembaga Pemasyarakatan Pati. "Mereka didampingi pengacara," ujarnya.
Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, korban kekerasan Geng Nero bertambah dari satu orang menjadi tujuh orang. Motif kekerasaan, sementara ini, adalah masalah pribadi yang dibawa ke solidaritas kelompok.
Salah satu anggota geng, kata Sulkhan, mengaku dihina teman sekolahnya. Kemudian, dia menceritakan persoalan tersebut kepada teman-teman gengnya dan akhirnya sepakat menyelesaikannya ala geng. "Tk yang sering disebut-sebut sebagai ketua geng membawa korban ke Gang Blimbing," tutur Sulkhan.
Purwaningsih menceritakan, Tk tergolong siswa yang berprestasi biasa-biasa saja. Namun, dia dikenal sebagai pemain basket yang baik. "Ia tidak pernah melakukan pelanggaran berat di sekolah. Hanya, memang, sekolah sering memberi peringatan karena dia berpakaian ketat," ujarnya.
Menurut Sosiolog Universitas Katolik Soegijapranata, Hermawan Pancasiwi, munculnya kelompok-kelompok seperti Geng Nero bukan suatu yang aneh, apalagi di lingkungan anak-anak muda yang sedang mencari identitas diri. Dalam kaitan itu, dia menyarankan, baik orangtua, pendidik, maupun aparat keamanan sepatutnya menerapkan pembinaan berbasis sentuhan sosial dan afeksi. Mereka yang sedang mencari identitas diri perlu dimanusiakan dengan sapaan-sapaan dan dorongan-dorongan pemacu prestasi yang sederhana.(HENDRIYO WIDI/ Natanael Suprapto)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar