13 Juni 2008

Dua Guru Mengajar Bersamaan di Enggano

Iwan Santosa

Ruang kelas berdinding kayu ukuran enam meter kali enam meter disekat papan membagi ruangan menjadi dua, papan tulis dipasang di depan, dipakai dua kelas sekaligus. Itulah cara mengajar sekolah dasar di Pulau Enggano, yakni dua guru untuk dua kelas yang berbeda hadir bersamaan di dalam ruangan.

Semua SD di Enggano, yakni di Desa Kahyapu, Ka'ana, Malakoni, Apoho, dan Banjarsari menggunakan sistem sama karena tiap sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas yang digunakan siswa kelas I hingga siswa kelas VI.

Selasa (13/5) pagi, papan penyekat kelas V dan VI di SD Apoho dicabut karena ruangan digunakan untuk ujian akhir nasional. Murid-murid kelas VI sebanyak tujuh orang terlihat tekun mengerjakan soal ujian Bahasa Indonesia.

Seusai ujian, Silva Nugrawati (12) mengaku dapat mengerjakan soal dengan mudah. "Yang sulit ujian Matematika dan IPA," kata Silva.

Silva sejak kelas I SD bersama enam rekan menempuh pelajaran dengan sarana terbatas, yakni kelas yang dibagi dua. Pendidikan diperoleh dengan harga mahal karena banyak dari mereka yang harus menempuh perjalanan kaki beberapa kilometer tiap hari untuk menjangkau sekolah.

Sedangkan para guru juga harus pandai-pandai mengatur ketertiban di dalam kelas yang "terbelah" itu. "Sehari-hari kita mengajar bergantian. Kelas satu digabung kelas dua, kelas tiga digabung kelas empat, dan kelas lima digabung dengan kelas enam. Tiap guru bergantian membacakan materi pelajaran dan menulis di papan tulis. Murid-murid juga bergantian mendengarkan materi yang disampaikan," kata Ari Suryanto (26), Guru SD 02 Banjarsari yang mengawasi ujian di SD 01 Apoho.

Lebih baik

Berbagi ruang untuk dua kelas yang belajar bersamaan dianggap sudah lebih baik. Pasalnya, menurut Daniel Hutapea (46) guru SD Apoho yang sudah 22 tahun mengajar, SD Apoho sempat 6 tahun menumpang di bangunan Puskesmas Enggano karena gedung roboh akibat gempa besar tahun 2000, yang menghancurkan 80 persen bangunan di Pulau Enggano.

Padahal, kondisi kompleks Puskesmas Enggano pun tidak lebih baik. Sebagian besar bangunan dikepung ilalang seting- gi pinggang orang dewasa. Bangunan perumahan Puskesmas Enggano juga terlihat tidak terawat.

Untunglah kini puluhan siswa SD Apoho sudah bisa kembali bersekolah meski harus membagi satu ruang untuk dua kelas yang berbeda. Itu pun para guru terpaksa menempati ruang perpustakaan yang dijadikan kantor mereka. Sarana kamar mandi tidak tersedia di kompleks sekolah tersebut sehingga para guru dan murid harus pulang atau menumpang di rumah warga untuk menuntaskan panggilan alam.

Minim kesejahteraan

Kesejahteraan para guru dan kepala sekolah masih memprihatinkan. Rumah dinas kepala sekolah terlihat berantakan, kaca pecah, pintu rusak, salah satu kamar menjadi tempat penyimpanan buku bekas, jamban yang ada sudah rusak dan tidak bisa digunakan.

Kepala Sekolah SD Apoho Isalidin (55), yang baru dua bulan bertugas di Pulau Enggano, terpaksa harus menumpang di rumah warga.

"Saya tinggal sendiri di sini. Keluarga tetap tinggal di Bengkulu. Kami memang mendapat tunjangan, tetapi biaya hidup di sini sangat tinggi. Beras slip per kilogram Rp 7.500. Tunjangan Rp 1 juta habis untuk beli beras, kopi, gula, dan rokok sekadarnya. Belum lagi biaya dua anak yang masih sekolah di Bengkulu," kata Isalidin yang sengaja mengajukan diri untuk bertugas di Enggano.

Menyiasati hidup terpencil dan penghasilan terbatas, para guru juga berkebun. Daniel mengaku membuka kebun cokelat seluas 2 hektar lebih. Dia juga bertanam melinjo dan cengkeh.

Lagi-lagi upaya ini tidak berlangsung mulus, pada kemarau tahun lalu, sebagian kebun yang ada terbakar. Belum lagi ancaman hama babi hutan yang merajalela di Pulau Enggano.

Meski dirundung kemiskinan dan keterbatasan, para guru dan murid tidak menyerah. Daniel Hutapea mengingat, ada sekitar empat siswa SD Apoho yang kini bekerja di Jepang dan Korea Selatan.

Mereka bekerja menjadi teknisi dan menimba pengalaman berharga. Namun, apakah kelak mereka akan kembali membangun Pulau Enggano yang memiliki segudang potensi, tetapi diabaikan pembuat kebijakan?

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/13/01474580/dua.guru.mengajar.bersamaan.di.enggano

Tidak ada komentar: