Kalau saja Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan yang ia pimpin punya lebih banyak dana, Indonesia bisa lebih cepat menjadi negara yang menempatkan satelit di orbit. Akan tetapi, dengan kondisi sekarang pun, ia optimistis dan antusiastik, bahkan obsesif, dengan program yang ditanganinya, yakni peroketan.
Itulah Adi Sadewo Salatun, Kepala Lapan, yang dikenal pintar dan ahli di bidang peroketan. Ketika ditanya apa yang dilakukan di luar kantor, Adi menjawab, "Memikirkan roket." Kalau memang demikian, program yang menjadi fokus Lapan membuatnya senang. Tentu saja Lapan masih punya sejumlah program kerja, tetapi roket tetaplah kuat mewarnai aktivitas lembaga yang dirintis RJ Salatun, ayah Adi, pada awal 1960-an itu.
Ini memang kisah yang boleh jadi terdengar anatematik bagi bangsa yang masih terus terlilit masalah kebutuhan dasar manusia. Sementara roket dan satelit adalah karya yang melambangkan avant garde, jauh ke depan, tinggi di awan, karena memang yang digeluti adalah dirgantara, langit, yang acap disebut "the last frontier".
Akan tetapi, justru itulah pesan yang ada. Bangsa Indonesia harus tetap menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit, per ardua ad astra! Di sini pula persisnya peran instrumental sosok seperti Adi Salatun.
Setapak demi setapak, Adi dan timnya yang terdiri dari 150 ilmuwan mewujudkan cita-cita tinggi ini. Setelah diuji statik pada bulan Januari di Rumpin (Kompas, 5/1/2008), roket Lapan yang paling besar—RX-320—meluncur dari Pusat Peluncuran Roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, 19 Mei lalu.
Roket berbobot 500 kilogram ini mengangkut peralatan uji untuk mendiagnosa perilaku aerodinamika, pergerakan, lintasan, dan kondisi lingkungan. Semua data yang dipancarkan selama penerbangan diterima baik oleh stasiun bumi.
Keberhasilan peluncuran roket baru ini amat membanggakan. RX-320 yang berdaya 52 ton-detik ini menjadi roket tingkat paling atas dari roket pengorbit satelit (RPS) bertingkat empat yang mulai digarap Lapan tahun ini. Tiga roket dasarnya adalah RX-420. (Angka merupakan garis tengah badan roket dalam milimeter).
Semula, Adi merencanakan membuat RPS yang bisa untuk meluncurkan satelit mikro seberat 50 kg. Akan tetapi, karena pemangkasan anggaran, kemampuan RPS pun diturunkan hingga hanya mampu meluncurkan satelit kelas nano (berbobot 5 kg). Meski demikian, ide pengembangan roket RX-520 tetap hidup.
Tetap semangat
Siang 29 Mei 2008 itu, Adi dengan optimistis berharap RPS atau Satellite Launch Vehicle (SLV) pertama Indonesia dapat diluncurkan pada 2012. Bahkan kalau ada ekstra dana, "Tahun 2010 pun bisa," tutur Adi.
Dalam kenyataan, anggaran Lapan tahun ini sama dengan anggaran 2007, yakni Rp 200 miliar. Dengan anggaran sebesar itu, RX-420 pun bahkan bisa tertunda, bahkan batal (Kompas, 14/1/2008).
Satu lagi yang disebut Adi terancam batal adalah pengembangan satelit mikro untuk orbit ekuatorial. Lapan bekerja sama dengan Universitas Teknik (TU) Berlin telah membuat satelit pengamatan bumi Lapan-TUBSat, yang setahun ini bekerja baik.
Lapan masih ingin membuat satelit mikro ekuatorial itu karena satelit tipe ini punya waktu lewat (pass time) wilayah Indonesia lebih lama (tiga jam) dibanding satelit Lapan-TUBSat yang berorbit polar/kutub dengan waktu lewat Indonesia satu jam.
Dengan terbatasnya anggaran, yang terhambat bukan saja hadirnya proyek dan roket atau satelit, tetapi juga kesempatan bekerja sama dengan lembaga antariksa dunia. Dengan India, misalnya, Lapan bisa menimba ilmu dalam bidang penempatan satelit di pucuk roket.
Namun, Adi tetap semangat. Selain terus menjalin kerja sama dengan pihak luar negeri, Lapan juga menaruh perhatian terhadap alat utama sistem senjata angkatan. Kerja sama dengan TNI AL yang dimulai sejak 2005, April lalu ditingkatkan, antara lain dengan keikutsertaan peneliti Lapan dalam peremajaan roket-roket tua TNI AL.
Sebelumnya, Lapan bekerja sama dengan TNI AL dalam pemantauan Selat Malaka dengan satelit penginderaan jauh Lapan-TUBSat (Kompas, 25/4).
Program lainnya
Di tengah obsesi pengembangan peroketan, Adi tak melupakan program Lapan yang lain, seperti peningkatan kemandirian dalam pembuatan sistem penerima dan pengolahan data citra satelit yang punya detail resolusi 1 meter, meskipun ketiadaan dana membuat pembelian komponen batal.
Dihadapkan pada dana yang sempit, Adi menerapkan asas prioritas, yakni peroketan yang kedudukannya semakin strategis. Pekan kemarin, ia ke China untuk membahas kerja sama pengembangan teknologi ruang angkasa. Dalam kaitan ini, kapal China yang mempunyai kelengkapan untuk pengendalian dan pemanduan jarak jauh (telemetry, tracking, and command) Yuanwang1 singgah di Indonesia (Kompas, 12/5).
Dengan segenap kiprah yang dijalani sepanjang kariernya, Adi Sadewo tak berlebihan untuk dijuluki sebagai "Rocket Man" Indonesia, tanpa melupakan peran para peneliti dan penggiat peroketan lain yang selama ini telah bekerja tekun untuk mengembangkan teknologi peroketan di Tanah Air.
Ketika di dunia ini ada rezim Missile Technology Control Regime (MTCR) yang ditegakkan AS dan sekutunya untuk membatasi pengembangan roket, yang dikhawatirkan akan digunakan untuk meluncurkan hulu ledak pemusnah massal, bangsa-bangsa yang punya aspirasi dalam pengembangan teknologi antariksa jelas terpasung.
Padahal dalam sejarah peradaban, antariksa merupakan aset yang semestinya bisa dimanfaatkan secara optimal untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Menengok kembali riwayat negara-negara yang unggul dalam eksplorasi ruang angkasa, maka di Uni Soviet ada sosok Tsiolkovsky, di AS ada Goddard, dan di Jerman ada von Braun. Karya kepeloporan sosok-sosok besar itu dikenal baik Adi Sadewo.
Kepala Lapan ini juga bercita-cita membawa negaranya unggul seperti kuasa besar di ruang angkasa tersebut. Hanya yang membedakan adalah sumber daya finansial nan belum kunjung lega di sini.
http://cetak.kompas.com/sosok 10 juni 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar