
Sejumlah siswa Sekolah Dasar Luar Biasa Bagian B (tunarungu) Pangudi Luhur, Puri Kembangan, Jakarta Barat, Rabu (14/5/08), mengikuti ujian akhir sekolah. Mereka memiliki kemampuan tidak kalah dengan siswa normal, namun SLB tidak diberi kesempatan untuk mengikuti ujian nasional. SP/YC Kurniantoro
suarapembaruan 15/5/2008 - Pelaksanaan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) tingkat sekolah dasar (SD) di beberapa daerah dilaporkan berjalan lancar. Namun, suasana menakutkan justru dialami peserta UASBN di Kampung Sawah, Langkat, Sumatera Utara.
Puluhan murid peserta UASBN mengikuti ujian di dalam ruangan sekolah yang terancam ambruk di Sekolah dasar negeri (SDN) 052129 Kampung Sawah, Kelurahan Bukit Kubuh, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat. Selain merasa khawatir akan ambruknya bangunan maupun atap ruangan sekolah, anak didik tersebut juga takut akan ketidaklulusan dari pelaksanaan UASBN tersebut. Apalagi naskah soal yang diajukan pemerintah secara serentak tersebut, sangat sulit.
"Masalah ini sebenarnya sudah dilaporkan ke dinas pendidikan di kabupaten ini. Namun, karena belum ada respons, terpaksa ujian dilaksanakan di dalam ruangan kelas yang sangat darurat ini," ujar Kepala Sekolah SDN 052129 Uli Simamora, saat dihubungi dari Medan, Kamis (15/5) pagi.
Menurut Simamora, kerusakan gedung sekolah tersebut terdapat di bagian dinding sudah retak-retak, plafon rusak parah, atap banyak yang bocor dan pondasi bangunan mulai bergeser. Pihak sekolah mengaku tidak mempunyai dana memperbaiki kerusakan tersebut.
"Sebenarnya kita juga tidak tega melihat anak didik belajar di bawah ancaman ketakutan begitu. Namun, karena kondisinya memang tetap begini, lalu apa yang harus dibilang. Ada tiga ruangan kelas yang sudah tidak layak, namun tetap dipakai," kata Simamora.
Sementara di Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (14/5), sedikit longgar. Murid SD diperbolehkan meletakkan buku di atas meja saat ujian berlangsung. Seperti terlihat di SD Alang Laweh. Di atas meja peserta ujian tampak buku tulis.
Tidak hanya buku, 20 menit menjelang ujian berakhir, peserta ujian justru dibiarkan berbincang dengan peserta lain. Ada yang menggerak-gerakan tangan dengan hitungan satu hingga empat, ada yang melihat lembar jawaban teman di belakang dan ada pula yang menggerak-gerakkan mulut yang menyerupai kunci jawaban seperti, A dan C. "Mereka memang diperbolehkan membawa buku," kata salah seorang pengawas, Zulkarnain kepada SP seusai pelaksanaan ujian.
Alasannya, hal itu dilakukan karena panitia UASBN tidak menyediakan kertas buram, untuk cakaran, padahal mata ujiannya adalah bidang studi matematika. Menurut Zulkarnain, di ruangan yang diawasinya tidak ada laporan kerusakan soal maupun lembar jawaban dari murid.
Di SD berlantai dua itu, sekitar 394 murid mengikuti UASBN. Mereka berasal dari 10 SD terdekat, yakni, SD 01, 20, 18, 36, 37, 08 Alang Laweh, SD 14 dan 15 Belakang Pondok, SD I-12 Kartika dan SD Kalam Kudus.
Ketua Panitia UASBN di SD Alang Laweh, Yusnida mengatakan, buku yang dibawa murid bukanlah buku catatan, tetapi buku kosong untuk mencari jawaban. Secara umum, tidak ada persoalan yang mengganggu UASBN. ''Semuanya sesuai dengan Prosedur Operasional Standar (POS) yang telah ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP),'' katanya.
Dipastikan Gagal
Sementara itu, puluhan murid SD/MI di Provinsi Bengkulu dipastikan gagal UASBN, karena mereka tidak ikut ujian dengan alasan tidak jelas. Murid dipastikan gagal UASBN ini berada di sejumlah daerah tingkat II di Provinsi Bengkulu, di antaranya di Kabupaten Kaur dan Seluma serta jumlah daerah lainnya.
Kepala Wakil Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi Bengkulu, Gitar Sirait yang dihubungi SP, Kamis (15/5) pagi membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, murid yang tidak ikut UASBN tanpa alasan yang jelas kemungkinan besar gagal.
"Bagaimana kita mau mengikutkan mereka pada ujian UASBN susulan kalau keberadaannya tidak jelas. Saya kira mereka ini memang sudah berhenti dari sekolah, tapi masih terdaftar sebagai peserta UASBN," ujarnya.
Sementara itu, pada hari ketiga pelaksanaan ujian UASBN tingkat Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) di Provinsi Bengkulu, Kamis (15/5) masih tetap dikawal ketat oleh polisi. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan UASBN di Bengkulu benar-benar terbebas berbagai pelanggaran yang terjadi.
Di LP
UASBN untuk tingkat SD digelar mulai Selasa, namun sebanyak 30 anak tercatat mengikuti ujian di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Anak Tangerang. "Tahun ini ada 30 murid yang melaksanakan ujian di dalam LP. Ada pengawas yang datang ke LP," kata Kepala Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) DKI Jakarta Sukesti Martono seusai melakukan peninjauan di beberapa SD di Jakarta, Selasa. [AHS/ANT/BO/143/148]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar