14 Mei 2008

Uang Iuran Orangtua Murid SMU 68 Jakarta Tak Diselewengkan

Kompas.com, Rabu, 14 Mei 2008 - SMU 68 Jakarta membantah adanya korupsi dan pelanggaran HAM di sekolah. Dana atau uang gedung dari iuran orangtua murid digunakan untuk melengkapi fasilitas kelas dan menunjang kebutuhan ekstra kurikuler para siswa. Demikian disampaikan Humas SMU 68 Jakarta Sujito pada KOMPAS.com, Rabu (14/5).

Sujito mengatakan memang ada orangtua yang protes karena menganggap tidak ada transparansi dana tersebut. Padahal semua dana iuran orang tua siswa ada di Komite Sekolah yang anggotanya para orangtua siswa.

"Dana-dana tersebut digunakan untuk membeli mobil sekolah, membangun ruangan multi media, dan melengkapi fasilitas kelas seperti pendingin ruangan dan LCD. Itu semua untuk kebutuhan dan kenyamanan para siswa," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama ia juga menolak adanya intimidasi pada siswa. "Kita tidak pernah mengintimidasi siswa, semua diperlakukan sama. Siswa mampu, tidak mampu ataupun siswa yang ortunya vokal, tidak ada yang kita intimidasi."

Sementara itu, siswa kelas 3 IPA yang tidak mau disebutkan namanya membenarkan memang tidak ada intimidasi mencolok di sekolah. Namun mereka yang belum lunas membayar iuran diumumkan di depan kelas.

Kepada siswa yang belum melunasi uang gedung, guru melalui wali kelas juga memperingatkan lewat surat. "Biasanya menjelang ujian akhir wali kelas membagikan amplop yang berisi surat peringatan kepada teman-teman yang belum melunasi iuran," ujar siswa lain.

Surat itu diberikan kepada orangtua sampai tiga kali. Kalau sampai tiga kali tidak ada respon, orangtua akan dipanggil ke sekolah. "Untuk mendapatkan kartu ujian, uang gedung harus lunas, ujar siswa SMA 68 itu.

Para siswa sendiri tidak banyak yang tahu tentang protes orangtua siswa terkait dugaan penyimpangan dana sekolah. "Sampai saat ini semua baik-baik saja kok mbak," ujar salah seorang dari mereka. (c5-08)

Tidak ada komentar: