Pemateri dari Yogyakarta, Widodo menjelaskan dunia anak-anak adalah dunia bermain, anak-anak belajar melalui bermain. Guru sebagai fasilitator dituntut memiliki variasi metode yang asyik dan menyenangkan dan menyampaikan program belajar yang asyik dan efektif.
Prosentase belajar anak 30 persen dari yang mereka dengar, 40 persen dari yang mereka lihat, 60 persen dari yang mereka kerjakan, 90 persen dari yang mereka dengar, lihat, dan kerjakan, katanya.
Metode yang disampaikan guru bisa dengan bermain, games, song and movement (gerak dan Lagu) medianya melalui kaset/video compact disc (VCD) atau beberapa alat musik sederhana, sound bag yang biasa disebut 'tas ajaib' dengan cara meminta anak-anak menebak apa yang ada di dalam tas. Selain itu dikenal pula metode cross curricular program (art and craft, activities, experiment, life skill/practical life), scrap book (mewarnai, menulis, mencocokkan, melukis, dan teka-teki).
"Metode story telling atau bercerita merupakan metode yang disukai anak-anak. Begitu pula metode flash card atau menggunakan kartu dapat berupa kartu bergambar binatang, kartu kata, kartu huruf, dan kartu angka, " kata Widodo
Pemateri lain Lisnawati menjelaskan pentingnya melejitkan potensi anak dengan kecerdasan majemuk. Kecerdasan manusia dinyatakan dalam bentuk Intelegent Quotient (IQ). Kecerdsaran digolongkan menjadi sembilan yakni kecerdasan linguistik, musikal, logika ma tematika, visual spasial, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensi. ACI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar