21 Mei 2008

Sekolah Lepas Tanggung Jawab

REDAKSI YTH
Kompas, Rabu, 21 Mei 2008

Saya menyekolahkan putri pertama saya di Sekolah Berwawasan Internasional Madania, Parung, Bogor, sejak tahun kedua berdirinya sekolah ini. Dua tahun kemudian disusul dengan adiknya, laki-laki, yang bersekolah di sana sejak TK B.

Saya mengikuti perkembangan sekolah ini bisa dibilang sejak awal yang didirikan oleh almarhum Nurcholish Madjid adalah sekolah yang baik dengan mayoritas guru-guru berkualitas.

Namun, karena perkembangan yang terlalu pesat yang tampaknya tidak diantisipasi oleh pihak sekolah, saat ini keadaan sekolah menjadi amburadul.

Putra kedua saya merupakan murid yang terkena dampak buruk dari sekolah ini. Putra saya memang bukan anak yang alim, sejak kecil memang sangat aktif dan cenderung "nakal".

Di sekolah ini putra saya dapat menyalurkan kenakalannya tersebut dengan sangat leluasa karena tidak ada sistem yang baik yang dapat memagari kenakalan anak-anak, apalagi kenakalan remaja.

Pada Februari 2008 anak saya dikeluarkan dari sekolah. Saya mohon keringanan dari pihak sekolah untuk mau memberi kesempatan bagi anak saya untuk menyelesaikan pendidikannya sampai akhir tahun ajaran karena sulit untuk memindahkan sekolah di sisa empat bulan tahun ajaran.

Saya mengingatkan sekolah bahwa sekolah pun mempunyai peran atas semua kelakuan buruk anak tersebut, yang nyata-nyata semua dipelajarinya di lingkungan sekolah dan mengimbau mereka agar mau turut bertanggung jawab. Dia belajar merokok di sekolah dari kakak-kakak kelasnya, belajar berbicara jorok juga di sekolah, tidak sopan terhadap guru juga di sekolah.

Seharusnya saya yang mempertanyakan kepada pihak sekolah, mengapa anak saya yang saya sekolahkan di sana sejak TK B hasilnya menjadi begitu liar, dan kemudian sekolah dengan mudahnya lepas tangan dan tidak menunjukkan tanggung jawab sama sekali.

Dengan mengeluarkan anak saya pada masa tanggung begini, jelas-jelas sekolah tidak memikirkan masa depan anak saya yang notabene merupakan anak didiknya.

Yang lebih luar biasa, setelah mengeluarkan anak saya, uang pangkal yang telah saya bayarkan untuk sekolah anak saya tersebut untuk kelas I SMP sampai ke jenjang SMA sebesar Rp 18 juta hanya dikembalikan sekitar 30 persen untuk masa sekolah yang hanya tujuh bulan. Anak saya dikeluarkan saat kelas I SMP.

Hiryanti Korompis Jalan Cilandak Tengah III, Jakarta Selatan

Tidak ada komentar: