Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Daerah Jawa Timur Abdul Muiz Nahari mengatakan, sejak kenaikan harga kertas 20 persen dua bulan yang lalu, sebanyak 20 penerbit dari 92 penerbit anggota Ikapi Daerah Jatim sudah tidak aktif.
"Mereka tak bisa lagi menahan beban produksi karena kenaikan harga kertas. Di sisi lain, menaikkan harga buku terlalu tinggi pun tidak mungkin karena daya beli masyarakat saat ini sangat lemah," kata Nahari dalam acara ulang tahun Ikapi "Surabaya Membaca", Minggu (18/5) di Surabaya, Jawa Timur.
Sebagai dampak kenaikan harga kertas, sejumlah penerbit saat ini sudah menaikkan harga. Kenaikan juga diperkirakan akan terjadi lagi sekitar Agustus ketika harga bahan bakar minyak (BBM) naik akhir Mei ini. Kenaikan harga BBM akan berpengaruh terhadap biaya produksi buku dan biaya transportasi untuk distribusi buku. "Penerbit pasti tidak akan kuat bertahan dengan harga lama," kata Nahari.
Dilema
Nahari mengatakan, penerbit dalam posisi yang sangat dilema. Jika bertahan dengan harga buku yang sekarang, pasti penerbit akan mengalami kerugian yang sangat besar. Namun, jika harga buku dinaikkan untuk menutupi ongkos produksi, omzet buku pasti turun karena daya beli masyarakat berkurang.
Menurut dia, penerbit sudah melakukan beragam cara untuk mempertahankan usahanya. Misalnya, meniadakan diskon dan meminta bayaran tunai. "Namun, tetap saja langkah itu sekarang kurang efektif sehingga harus menaikkan harga buku," ujarnya.
Tahun ajaran baru yang biasanya merupakan masa yang cukup menggembirakan bagi penerbit, lanjut Nahari, sekarang tak bisa diharapkan lagi.
Di sisi lain, kenaikan harga buku juga akan menyebabkan penerbit mengurangi judul buku yang diterbitkan serta mengurangi jumlah cetakan.
Dalam setahun, penerbit anggota Ikapi Jatim rata-rata mampu memproduksi 2.000 judul buku yang jumlahnya sekitar dua juta eksemplar. Jumlah itu biasanya habis dalam waktu enam bulan. Jika harga buku dinaikkan, diperkirakan buku satu kali cetakan akan habis sembilan bulan kemudian.
Secara terpisah, pengamat pendidikan, Anita Lie, mengatakan, ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Gairah membaca menurun karena sistem yang tidak mendukung.
Guru yang asalnya pembebas seseorang dari ketidaktahuan sekarang didorong sistem sebagai "mesin distribusi soal" kepada siswanya. (A10)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar