|
| Moch Hendrowijono / Kompas Images Gubernur Ali Sadikin memberikan penjelasan mengenai persoalan banjir di Jakarta kepada reporter TV, Willy Karamoy. |
Ketika rumah dibangun, pasti ada perencananya, apakah oleh seorang arsitek atau seorang awam sekalipun. Ketika kota dibangun, kota juga punya perencana atau pemimpin dalam pembangunannya. Saat ini, Jakarta telah berubah menjadi kota metropolitan, semua orang pasti ingat dengan sosok Bang Ali, sebagai peletak dasar perubahan.
Bang Ali telah menjadi ”maha- guru” untuk menata perubahan yang mendasar terhadap kondisi Jakarta. Redesainnya terhadap Jakarta mengundang kekaguman, walaupun masih ada ruang kritik terhadap ide-ide kontroversialnya. Salah satunya adalah rencananya untuk menjadikan Jakarta sebagai kota tertutup terhadap para pendatang, dan lokalisasi judi. Namun, idealismenya yang kuat telah memberi warna tersendiri untuk mengubah Jakarta dari sebuah ’Kampung Besar’ menjadi kota metropolitan.
Akan tetapi, untuk menjadikan Jakarta yang tertata apik pada saat itu bukan hal yang mudah. Ketika Bang Ali mulai menjadi gubernur kota ini, mewarisi dua masalah besar, yakni dualisme dalam organisasi pemerintahan kota dan rendahnya tingkat tanggung jawab penduduk memelihara kota Jakarta.
Saat itu, sebagian penduduk Jakarta tinggal di kampung padat penduduk, infrastrukturnya buruk, dan kondisi transportasi publik yang memprihatinkan. Oleh sebab itu, prioritas Bang Ali adalah mengembuskan napas kehidupan baru ke dalam organisasi pemerintahan kota.
Administrasi Jakarta yang dualistik karena adanya wakil pemerintah pusat dan perangkat otonom daerah dalam pengelolaan kota, digabungkannya dalam satu model. Dengan demikian, gubernur punya kewenangan penuh terhadap dinas hingga di tingkat kelurahan.
Bang Ali menerapkan satu model organisasi sederhana yang dipinjam dari militer. Organisasi pemerintahan kota ini, menciptakan suatu sistem yang mengatur staf dari pusat dan daerah di bawah satu kepemimpinan. Di mata para perencana kota, langkah ini dinilai yang terbaik.
Namun, upaya Bang Ali untuk segera membenahi kota terbentur masterplan Jakarta 1965-1985. Bang Ali tidak banyak peluang untuk memengaruhi pembangunan morfologis Jakarta. Akan tetapi, Bang Ali mencobanya dengan menata masterplan tersebut pada tahun 1967. Masterplan itu menjadi dasar untuk melakukan perubahan besar terhadap kondisi Jakarta.
Partisipasi warga
Hal yang patut untuk dijadikan acuan dari kepemimpinan Bang Ali adalah kemampuannya mendorong tingkat partisipasi warga dalam pembangunan Jakarta. Hal itu bisa dilakukan karena watak militernya telah berubah menjadi seorang ”Abang” atau teman yang dapat dipercaya oleh warganya.
Bang Ali telah mampu membangun suatu modal sosial yang kuat. Modal sosial ini menjadi dasar pembentukan komunitas kota untuk mengubah Jakarta secara bersama-sama. Ia membangun suatu kondisi yang bernapaskan suasana sosial ekonomi dan budaya.
Jakarta tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga unsur manusianya sebagai pengisi ruang harus diperhatikan. Bang Ali sangat yakin bahwa perkembangan pesat Jakarta hanya dapat terwujud jika tingkat partisipasi warganya juga tinggi. Hal itu dapat terwujud jika ada faktor kepemimpinan yang kuat, jujur, terbuka, tegas, dan harus bersih dari pengaruh korupsi.
Di mata perencana kota, Bang Ali punya kekuatan modal sosial, di samping modal kapital untuk membangun kota ini. Bandingkanlah dengan kondisi kehidupan sosial Jakarta saat ini, kita seakan kehilangan tokoh yang dapat dipercaya, untuk menata kota menjadi lebih manusiawi.
Di samping modal sosial, hak- hak politik warga juga difasilitasi dengan pembentukan LBH, dan terbukanya ruang demokrasi. Hal itu terbukti dari kemenangan PPP pada Pemilu 1977 di Jakarta, sesuatu yang muskil di masa Orde Baru.
Sementara itu, untuk para seniman, Bang Ali membangun Taman Ismail Marzuki. Remaja dan pemuda difasilitasi dengan gelanggang remaja dan stadion olahraga. Bang Ali memahami benar filosofi makna ”Ku Tahu Yang Kau Mau”.
Watak karakter kepemimpinannya yang kuat sangat mewarnai dan memengaruhi perbaikan keseluruhan infrastruktur kota, baik di bidang ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan penghijauan kota. Di masa Bang Ali, kondisi ruang terbuka hijau (RTH) mungkin masih sangat sesuai dengan kebutuhan Jakarta.
Dalam aspek penataan lingkungan permukiman, salah satu prestasi yang patut mendapat catatan tinta emas buat Bang Ali adalah pelaksanaan program perbaikan permukiman kumuh. Program ini dikenal dengan Proyek Mohammad Husni Thamrin (MHT), yang dimulai pada tahun 1968. Tujuannya adalah melakukan transformasi wajah Jakarta secara lebih manusiawi.
Kekumuhan dicoba untuk ditata dengan pendekatan sosial ekonomi dan fisik. Kebijakannya tidak semata-mata menggusur warganya tanpa solusi yang jelas dan cerdas. Hasilnya memang luar biasa sehingga Jakarta menjadi contoh untuk kota-kota lain di dunia.
Banyak pemerintahan di dunia yang mau belajar bagaimana pola pendekatan Kampung Improvement Project (KIP). Namun sayangnya, Jakarta saat ini kondisinya justru jauh lebih buruk dari kota-kota di dunia.
Di mata perencana kota, Bang Ali memiliki kepedulian kuat pada kelompok marjinal. Bang Ali mampu menata kelompok ini secara bertahap dan dapat hidup layak di Ibu Kota, meskipun dalam kebijakan penggusuran becak, Bang Ali dianggap kurang berpihak pada rakyat kecil.
Akan tetapi, hingga saat ini, kita tetap melihat penataan sistem transportasi Jakarta tidak banyak mengalami perubahan, kecuali pada pengembangan angkutan umum transjakarta.
Jika dilihat dari apa yang telah dilakukan Bang Ali terhadap Jakarta, satu kesan yang kuat yang ingin disampaikannya adalah Bang Ali sangat mencintai Jakarta. Ia ingin kota ini memiliki jiwa yang menjadi jati diri Jakarta, yang membedakannya dengan kota-kota lain.
Obsesinya sangat kuat, masa sepuluh tahun kepemimpinannya sangat membekas di hati warga. Bang Ali memahami, tidak mungkin membangun kota tanpa warga.
Konsepsinya benar-benar ingin menyejahterakan rakyatnya. Oleh sebab itu, Bang Ali mencoba menahan laju pendatang yang masuk Jakarta agar kota ini tidak kelebihan beban.
Ia ingin mengubah warna Jakarta secara lebih manusiawi dan bermartabat, walaupun kadang kala harus berbenturan dengan kepentingan yang lebih kuat. Terima kasih dan selamat jalan Bang Ali. Amal baktimu untuk Jakarta sulit untuk kami lupakan.
Yayat Supriatna Pengajar Perencanaan Kota/ Teknik Planologi, Universitas Trisakti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar